Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Ilustrasi rapat. Foto: rawpixel (Pixabay)

Emiten Baru Raih Dana Rp 11 Triliun dari IPO

Farid Firdaus, Selasa, 17 September 2019 | 17:00 WIB

JAKARTA, investor.id – Sebanyak 37 emiten baru Bursa Efek Indonesia (BEI) meraih dana senilai total Rp 11 triliun dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sejak awal Januari hingga 23 September 2019 nanti. Sebanyak tiga emiten baru kompak mencatatkan saham perdananya pada pekan ini.

Setelah PT Bhakti Agung Propertindo Tbk (BAPI) yang listing pada Senin (16/9) dan PT Telefast Indonesia Tbk (TFIN) pada Selasa (17/9), akan dilanjutkan oleh listing saham dan PT Gunung Raja Paksi Tbk pada Kamis (19/9).

Head of Financial PT UOB Kay Hian Sekuritas Nefo Handojo mengatakan, sebagai penjamin emisi tunggal IPO Gunung Raja Paksi, pihaknya mencatat terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) selama penawaran umum yang berlangsung pada 13-16 September 2019.

“Dari porsi penjatahan terpusat (pooling) saham yang ditawarkan kepada publik sebesar Rp 10 miliar, di UOB Kay Hian yang masuk tercatat lebih dari Rp 40 miliar. Jadi bisa dikatakan oversubscribed,” kata Nefo kepada Investor Daily di Jakarta.

Gunung Raja Paksi bersiap menjadi emiten ke-36 yang mencatatkan sahamnya di BEI tahun ini. Perseroan akan mengantongi dana sekitar Rp 1,03 triliun dari melepas 1,23 miliar saham pada harga Rp 840 per saham.

Semula, PT Kresna Sekuritas sempat tercatat menjadi penjamin emisi IPO perusahaan lembaran baja ini. Namun, Kresna memutuskan mundur sebelum masa penawaran umum berlangsung.

Dengan perolehan dana IPO Rp 1,03 triliun, otomatis Gunung Raja menjadi emiten kedua yang mengimpun dana IPO di atas Rp 1 triliun tahun ini. Tercatat, memang tak banyak emiten baru yang menggalang dana IPO jumbo sepanjang 2019, selain PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE).

Dana yang diraih perusahaan asuransi milik Sinarmas Group tersebut pun bukan dana segar untuk perusahaan, melainkan sepenuhnya hasil divestasi saham yang dilakukan oleh PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA).

Jika dirata-rata, para emiten baru sepanjang tahun berjalan ini mayoritas menggalang dana pada kisaran Rp 100-200 miliar. Selain itu, merujuk data BEI, sampai saat ini bisa dikatakan bulan Juli menjadi puncak emiten melakukan listing. Sebanyak 15 listing saham terjadi kala itu. Sementara, pada Agustus, tidak terjadi satupun aksi pencatatan saham perdana.

Pekan depan, pencatatan saham akan dilakukan oleh PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OMPS). Lankah ini merupakan strategi perusahaan dalam memperkuat bisnis di bidang besi scrap yang berasal dari kapal bekas. Industri ini tergolong baru di Indonesia, namun memiliki potensi yang besar.

Seperti Optima Prima, tahun ini banyak emiten berskala kecil percaya diri menggelar IPO. BEI pun meyakini, emiten-emiten baru ini cenderung lebih terdiverisifkasi. Masuknya emiten berbagai skala juga menunjukkan bursa bukan hanya menjadi tempat eksklusif bagi emiten kelas kakap.

Tahun ini, BEI mencatat bakal ada 17 perusahaan usaha kecil dan menengah (UKM) yang bisa mencatatkan sahamnya di papan pengembangan. Jumlah tersebut pun diperkirakan akan terus bertambah.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, dari 17 perusahaan tersebut, sebanyak 15 perusahaan sudah memenuhi kriteria untuk bisa tercatat di papan pengembangan."Perusahaan ini juga sudah tercatat di bursa," ujar dia, belum lama ini.

Sementara itu, BEI sedang membimbing dua perusahaan lainnya untuk bisa mencatatkan sahamnya di papan pengembangan."Kami sedang guide untuk dapat di papan pengembangan karena mereka memiliki resources untuk dapat memenuhi requirements di papan pengembangan," kata dia.

Untuk bisa mencatatkan saham di papan pengembangan, perusahaan harus memenuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 54/POJK.04/2017 tentang Bentuk dan Isi Prospektus dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil atau Emiten dengan Aset Skala Menengah.

Selain itu, perusahaan juga harus memenuhi Peraturan OJK No.53/POJK.14/2017 tentang Pernyataan Pendaftaran dalam Rangka Penawaran Umum dan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu oleh Emiten dengan Aset Skala Kecil dan Menengah. Dalam perusahaan tersebut, perusahaan yang bisa mencatatkan sahamnya di papan akselerasi adalah yang memiliki aset hingga mencapai Rp 250 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN