Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Emiten Sudah Menghitung Risiko

Jumat, 27 Mei 2016 | 10:58 WIB
Oleh Farid Firdaus dan Jauhari Mahardhika

Analis PT Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengungkapkan, emiten yang mengajukan rencana rights issue sudah menghitung risiko pasar yang bakal dihadapi pada periode penerbitan tahun ini.

 

Dia mengakui, kondisi pasar yang masih berfluktuasi akan menjadi tantangan. Namun, optimisme terhadap pasar saham yang lebih baik tahun ini dibanding tahun lalu juga mendorong emiten menggelar rights issue.

 

“Tentu ada risiko pasar dan setiap tahun biasanya tidak semua rights issue berjalan sukses, bahkan ada yang dibatalkan. Tapi rencana rights issue juga menandakan upaya penggalangan dana untuk restrukturisasi utang dan ekspansi,” kata Hans Kwee kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.

 

Sebagai contoh, menurut dia, hampir seluruh dana hasil rights issue Bentoel akan digunakan untuk pelunasan utang. Emiten rokok ini berencana melunasi utang senilai Rp 12 triliun kepada Rothmans Far East BV. Pemegang saham utama perseroan, British American Tobacco Ltd (BAT 2009), bakal menjadi pembeli siaga dari rights issue tersebut.

 

Pemegang saham lama Bentoel yang tidak menggunakan haknya, bakal mengalami dilusi sampai 80,1%. Per 31 Maret 2016, struktur kepemilikan saham Bentoel adalah British American 85,55%, UBS AG sebesar 13,41%, dan masyarakat 1,04%.

 

Emiten lainnya, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), juga berencana menggunakan 70% dana hasil rights issue untuk melunasi sebagian atau seluruh utang jatuh tempo. Efek dilusi dari rights issue Medco mencapai 48%. “Kalau ditujukan untuk restrukturisasi utang, rights issue lebih minim risiko, dibanding menggalang dana dari pinjaman bank. Mungkin, risiko hanya efek dilusi,” papar Hans.

 

Dia menambahkan, saat ini kondisi pasar saham tengah menanti sinyal penaikan suku bunga Bank Sentral AS (Fed Funds Rate/FFR) pada Juni mendatang. Di sisi lain, dana-dana yang masuk sebagai dampak dari pemberlakuan Undang-Undang Pengampunan Pajak (UU Tax Amensty) yang direncanakan pemerintah tahun ini, juga berpeluang membajiri pasar modal Tanah Air, dengan ditempatkan di sejumlah instrumen investasi. (az/gor)

 

Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/marketandcorporatenews/peluang-ke-portofolio-saham-baru-cenderung-tak-besar/144437

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN