Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi start-up.  Foto: Free-Photos (Pixabay)

Ilustrasi start-up. Foto: Free-Photos (Pixabay)

Empat Emiten Tanam Dana US$ 1,1 Miliar di Start-up

Senin, 13 September 2021 | 06:51 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Empat emiten besar telah berinvestasi lebih dari US$ 1,1 miliar (Rp 15,6 triliun) di sejumlah perusahaan rintisan (start-up) teknologi. Empat emiten itu adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) atau Emtek, dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG).

Proses digitalisasi yang tengah berkembang pesat di Indonesia menjadi pendorong utama aliran dana segar dari perusahaan-perusahaan besar tersebut. Tren investasi ini diperkirakan terus berlangsung, setidaknya hingga tiga tahun ke depan.

Telkom melalui anak usahanya, MDI Ventures, sudah berinvestasi di lebih dari 50 portofolio dengan nilai investasi tak kurang dari US$ 100 juta. Menurut Managing Partner MDI Ventures Kenneth Li, dari 50 portofolio itu, ada dua perusahaan yang menjadi unicorn atau memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar, yakni Nium dan Kredivo.

Adapun satu perusahaan lagi akan menyusul menjadi unicorn pada tahun ini. “Valuasinya sudah mencapai US$ 900 juta. Jadi, sudah sangat dekat dan seharusnya bisa tahun ini,” kata Kenneth kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Dia juga memprediksi bakal ada lebih banyak portofolionya yang menjadi unicorn. Sebab, saat ini terdapat 15 portofolio yang berstatus centaur atau memiliki valuasi di atas US$ 100 juta sampai di bawah US$ 1 miliar.

Selain melalui MDI Ventures, Telkom via Telkomsel juga berinvestasi di Gojek senilai total US$ 450 juta. Investasi tersebut terbagi menjadi dua tahap, yaitu US$ 150 juta dan US$ 300 juta.

Sementara itu, Astra International juga aktif berinvestasi di start-up. Head of Investor Relation Astra International Tira Ardianti menjelaskan, sejauh ini, pihaknya sudah berinvestasi di tiga perusahaan, yaitu Gojek sebesar US$ 250 juta, Sayurbox senilai US$ 50 juta, dan Halodoc sebesar US$ 35 juta. Setelah investasi tersebut, Astra akan selalu menjajaki kesempatan yang ada.

Selanjutnya, Emtek juga aktif berinvestasi di start-up. Tahun ini, Emtek sudah menyuntikkan dana Rp 3,08 triliun atau setara US$ 210 juta kepada PT Grab Teknologi Indonesia (GTI). Emtek juga menjadi pemegang saham secara langsung di PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan secara tidak langsung di PT Elang Andalan Nusantara yang merupakan penyedia aplikasi dompet digital, DANA.

Belum lama ini, Emtek dan beberapa investor seperti East Ventures (growth fund), SMDV, Golden Gate Ventures, Heyokha Brothers, GIC Capital, dan lainnya turut berpartisipasi di putaran pendanaan Seri B penyelenggara insurance technology (insurtech), Fuse.

Terbaru, Saratoga Sedaya Investama berpartisipasi dalam putaran pendanaan Sirclo, perusahaan e-commerce enabler, senilai US$ 36 juta. Selain Saratoga, terdapat East Ventures, Traveloka, Sinar Mas Land, dan investor lainnya yang turut berpartisipasi dalam pendanaan tersebut.

Pada awal tahun ini, Saratoga juga ikut berpartisipasi dalam penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Provident Acquisition Corp, sebuah special purpose acquisition company (SPAC). Provident Acquisition meraih dana US$ 230 juta.

Provident Acquisition terafiliasi dengan Provident Growth dan Provident Capital. Sejauh ini, Grup Provident telah berinvestasi pada beberapa perusahaan teknologi, seperti Gojek, Gopay, Traveloka, JD.id, Pomelo, JD Central, dan Advance.AI.

Menanggapi hal itu, Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, perubahan era saat ini ikut menyebabkan perubahan zaman dan gaya hidup. Hal itu menyebabkan perubahan cara pandang pelaku bisnis yang lebih mengedepankan digitalisasi karena gaya hidup konvensional sudah tidak bisa digunakan lagi.

“Peluang ini yang menjadi dasar tindakan dari Astra, Emtek, Saratoga (dan Telkom) karena mereka melihat peluang untuk mulai masuk di perusahaan teknologi yang akan memimpin transformasi bisnis dari konvensional menjadi digital," kata dia.

Menurut Nico, perusahaan-perusahaan besar itu berinvestasi tidak hanya melihat dari dampak yang dihasilkan perusahaan teknologi tersebut. Namun, perusahaan tersebut memiliki ekosistem digital yang memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat.

“Hingga tiga tahun mendatang atau selama teknologi terus berkembang pesat, maka start-up akan terus menjadi incaran investor sebagai diversifikasi bisnis di masa yang akan datang," ujar dia.

Secara terpisah, Head of Research PT Yuanta Sekuritas Indonesia Chandra Pasaribu menjelaskan, investasi di start-up bukan hanya terjadi di tingkat domestik, namun juga di tingkat global. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Softbank, Google, dan lainnya.

Banyak perusahaan, menurut Chandra, ingin menjadi early investor di start-up karena bisa memberikan potensi keuntungan yang besar seperti yang sudah dibuktikan oleh Amazon. Namun, berinvestasi di start-up harus dilakukan dalam bentuk portofolio, karena tidak semua investasi akan berjalan sukses.

"Investor besar seperti Astra tampaknya lebih hati-hati masuk ke start-up, misalnya pada roundup capital yang kesekian, sehingga profil risikonya bisa lebih terukur,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN