Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: dok. Investor Daily

'Equity Crowd Funding' Tak Saingi Bursa Saham

Farid Firdaus, Kamis, 10 Oktober 2019 | 21:18 WIB

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan fasilitas urun dana atau equity crowd funding (ECF) tidak berbenturan dengan papan akselerasi yang akan diluncurkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Perbedaan paling nyata bahwa ECF tidak diperdagangkan di bursa laiknya emiten yang masuk papan akselerasi.

Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi mengatakan, meskipun sama-sama menyasar Usaha Kecil Menengah (UKM) ataupun start-up untuk penggalangan dana, keduanya memiliki segmentasi yang berbeda. Ketentuan antara ECF dan papan akselerasi juga berbeda.

“Penerbitan saham melalui ECF dirancang bukan dengan pola penawaran umum, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pasar Modal. Saat perusahaan meraih dana lewat ECF, mereka tidak lantas menjadi perusahaan terbuka,” jelas dia di Jakarta, Kamis (10/10).

Secara umum, kata Fakhri, ada tiga pihak yang terlibat dalam penggalangan dana melaui ECF, yakni penyelenggara, penerbit, dan pemodal. “Jika diibaratkan, penyelenggara ini adalah bentuk lain dari bursa yang diawasi oleh OJK. Pihak yang menjadi penyelenggaran pun boleh lebih dari satu,” terangnya.

Saat ini, OJK baru meloloskan satu izin penyelenggara ECF, yakni PT Santara Daya Inspiratama, pada 6 September 2019. Sedangkan pengajuan izin 10 perusahaan teknologi finansial (fintech) yang berminat menjadi penyelenggara ECF masih dalam tahap proses. Jika perusahaan tersebut lolos akan langsung di bawah pengawasan OJK.

OJK menyebutkan bahwa perusahaan yang ingin menjadi penyelenggara ECF wajib memenuhi sejumlah syarat, antara lain berbentuk badan hukum perseroan terbatas (PT) atau koperasi dengan modal minimum Rp 2,5 miliar.

Penyelenggara juga harus menyampaikan laporan tengah tahunan, laporan tahunan dan laporan insidentil kepada OJK. Setiap perubahan kepemilikan pengendali wajib dilaporkan kepada OJK.

Menurt Fakhri, kriteria selanjutnya yang membedakan skema ECF dengan papan akselerasi adalah dari sisi penerbit. “Ibaratnya di bursa saham, penerbit ini adalah emiten. Kami batasi, penerbit adalah perusahaan yang tidak dikendalikan oleh konglomerasi. Jadi memang untuk perusahaan kecil,” kata dia.

Perusahaan penerbit tidak boleh memiliki aset lebih dari Rp 10 miliar. Di sisi lain, ada persamaan kewajiban antara penerbitan ECF dengan emiten di pasar modal. Mereka harus menyerahkan dokumen kepada penyelenggara, termasuk jumlah penawaran, rencana bisnis dam kebijakan deviden.

Tak ketinggalan, penerbit berkewajiban menyampaikan laporan keuangan dan tahunan ke OJK dan mengumumkan kepada publik melalui website penyelenggara.

Adapun jangka waktu penawaran ECF ditetapkan selama 12 bulan. Penerbit bisa melakukan satu kali atau beberapa kali penawaran selama periode tersebut. Setiap satu penawaran memiliki periode selama 60 hari.

“Karena ini untuk perusahaan kecil, maka penggalangan dana dibatasi maksimal Rp 10 miliar. Misalnya, pengelola restoran sop ayam, atau barbershop, dana yang mereka butuhkan juga bukan dalam skala puluhan miliar,” jelas Fakhri.

Ketika penerbit mematok target dana tertentu dan dalam proses penawaran minimum target itu tidak terpenuhi, maka penawaran dinyatakan batal demi hukum.

Sebagai catatan, penerbit hanya diperbolehkan menerbitkan sahamnya dalam satu platform ECF, atau tidak diperkenankan melakukan aksinya dalam dua platform sekaligus. Setelah diterbitkan, penyelenggara bakal mengunci saham yang sudah dibeli investor selama satu tahun.

“Ini berarti saham tidak diperdagangkan selama masa lock up. Setelah waktu satu tahun itu, hanya akan dibuka dua kali dalam satu tahun. Sekali lagi ini bukan seperti saham di pasar modal” kata Fakhri.

Lantaran sistem ECF tidak memperdagangkan saham layaknya bursa saham, maka tidak ada lembaga yang berperan sebagai kliring dan penjaminan.

Menurut Fakhri, apabila terdapat perusahaan start-up yang telah berhasil menggalang dana lewat ECF dan mau naik kelas ke pasar modal, maka hal tersebut sepenuhnya menjadi pilihan mereka.

“Kami tidak menetapkan target penerbit atau raihan dana dari ECF ini. Kalau dari ECF mereka ingin ke bursa, silahkan, ketentuannya tentu mengikuti bursa,” pungkasnya.

Return dan Investor

Dalam skema ECF, investor atau yang disebut sebagai pemodal adalah individu yang dinilai sudah memiliki kemampuan analisa dalam beinvestasi saham. Para pemodal ini juga tidak lepas dari sejumlah batasan.

Setiap pemodal yang memiliki penghasilan kurang dari Rp 500 juta per tahun, diperbolehkan berinvestasi maksimum 5% dari penghasilan. Kemudian, jika pemodal ini bergaji lebih dari Rp 500 juta per tahun, maka maksimum investasinya adalah 10% dari penghasilan.

Fakhri menjelaskan, keuntungan yang diraih pemodal adalah pembagian dividen oleh penerbit dan return yang disepakati kedua belah pihak. Sebagai contoh, Santara menawarkan proyeksi bagi hasil dengan kisaran 15%-25% per tahun yang diperoleh dari dividen perusahaan.

Kisaran bagi hasil yang diberikan tergantung dari profil bisnis penerbit yang dipilih oleh pemodal. Pasalnya, setiap profil bisnis memiliki tingkat profitabilitas yang berbeda-beda.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA