Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi perdagangan kripto.

Ilustrasi perdagangan kripto.

Eropa Pertimbangkan Larangan Stablecoin, Bitcoin Jebol ke US$ 28.000-an dan Investor Pun Makin Panik, Duh!

Kamis, 12 Mei 2022 | 07:06 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kondisi pasar aset kripto yang mulai merangkak naik pada Rabu (11/5/2022) kemarin ternyata tak bertahan lama. Kenaikan harga yang singkat dibanting pada hari berikutnya dan mencapai tingkat kejatuhan yang parah seperti dugaan para pengamat kripto.

Melansir situs CoinMarketCap pada Kamis (12/5/2022) pukul 07.00 WIB, Bitcoin (BTC) jebol 6,68% dalam 24 jam ke US$ 28.906,04 dan telah turun sebanyak 27,19% dalam sepekan. Secara year to date bahkan harganya sudah minus 39,38%. BTC menyentuh harga paling rendah di US$ 28.170 dan tertingginya di US$ 32.013 dalam sehari kebelakang.

Laut merah pasar kripto karena kesengsaraan stablecoin membuat beberapa pedagang gelisah. Token LUNA Terra jatuh untuk hari ketiga berturut-turut, turun sebanyak 94% selama 24 jam terakhir dan kini harganya tinggal US$ 1,08. LUNA dimaksudkan untuk menjadi penyangga terhadap volatilitas untuk stablecoin TerraUSD (UST), tetapi telah menyerah pada tekanan jual yang ekstrem. Luna Foundation Guard memindahkan seluruh cadangannya ke pertukaran Bitcoin untuk mempertahankan patokan 1:1 Dolar stablecoin UST pada hari Rabu.

Baca juga: Bitcoin di Bawah US$ 30.000, Turun 56% dari Level Tertinggi

Selanjutnya, Komisi Eropa sedang mempertimbangkan larangan stablecoin skala besar, yang telah banyak digunakan sebagai pengganti mata uang fiat, menurut dokumen yang dilihat oleh CoinDesk.

Trader Tokocrypto Afid Sugiono, menjelaskan fenomena pasar kripto yang mulai naik semu kemarin disebabkan oleh aksi buy the dip investor untuk mengakumulasi keuntungan lebih. Namun, overall market masih berpotensi terus mengalami penurunan, dan mungkin akan ada sedikit pullback di market, khususnya BTC.

“Para investor ini mulai terpengaruh saran untuk melakukan aksi buy the dip, sehingga  merasa bahwa beberapa aset kripto sudah bisa kembali diakumulasi. Sebagian kripto sudah mengalami fase jenuh jual atau oversold, jika dikaji menggunakan analisis teknikal,” kata Afid.

Baca juga: Duh... Momentum Bearish Dapat Giring Bitcoin Ke Level US$ 28.500

Kecemasan tersebut berhulu dari drama stablecoin milik Terra Labs, UST, yang ternyata tidak bisa menjaga nilai tukarnya di level US$ 1 untuk 1 UST. “Anjloknya nilai BTC dan terjadinya reserve asset dari UST, membuat sentimen negatif terhadap stablecoin. Tanda-tanda kelemahan dalam stablecoin, sebagai aset kripto yang lebih aman, tapi tidak terbukti semakin menakuti investor,” imbuh Afid.

Menurut laporan Coinmarketcap, total nilai pasar kripto saat ini mencapai US$ 550,29 miliar pada 10 Mei 2022, jauh dari puncaknya sepanjang masa sebesar US$ 2,9 triliun pada awal November 2021. Harga aset kripto yang merosot, mencerminkan penurunan ekuitas di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga agresif di seluruh dunia untuk mencegah inflasi yang tinggi.

Di sisi lain, Afid memberikan rincian sejumlah aset kripto yang berpotensi bullish dan bearish di pekan kedua bulan Mei ini. Daftar 5 aset kripto bullish yakni eCash (XEC), Kava (KAVA), Secret Network (SCRT), EOS (EOS), dan Bitcoin DOWN (BTCDOWN). Sedangkan,  daftar 5 aset kripto bearish yakni, Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Terra (LUNA), BarnBridge (BOND), dan JasmyCoin (JASMY).

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN