Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perang dagang Amerika Serikat (AS) -Tiongkok, Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. ( Foto ilustrasi: AFP / GETTY )

Perang dagang Amerika Serikat (AS) -Tiongkok, Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. ( Foto ilustrasi: AFP / GETTY )

FOKUS PASAR:

Euforia Pasca Penandatanganan Kesepakatan Dagang, Terus Memanasnya Timur Tengah hingga Kenaikan Impor-Eskpor RI

Ghafur Fadillah, Kamis, 16 Januari 2020 | 10:28 WIB

JAKARTA, investor.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) hari ini kompak menguat pasca penandatanganan kesepakatan perdagangan fase satu antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Dalam kesepakatan yang dilakukan kedua negara ekonomi terbesar itu, Tiongkok berjanji untuk membeli produk pertanian AS senilai US$ 200 miliar selama dua tahun dan barang serta jasa lainnya lebih dari US$ 186 miliar.

"Perjanjian dagang ini membuka jalan bagi investor untuk fokus pada laporan pendapatan kuartalan yang akan datang, termasuk pandangan perusahaan tentang kesepakatan dagang," Jelas Pilarmas dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (16/01).

Dari Timur Tengah kabar terbaru datang dari, Presiden Iran Hassan Rouhani yang mengatakan dalam pidatonya mengecam AS dan Eropa atas kehadirannya di Timur Tengah.

Pilarmas menjelaskan saat ini kondisi negara-negara di Timur Tengah sedang memanas diakibatkan konflik yang berkepanjangan, juga terakhir pemboman yang dilakukan AS yang menewaskan Qasem Soleimani membuat Iran geram dan mengecam AS atas tindakan tersebut dan mengancam akan melakukan serangan balasan.

Kemudian masyarakat dunia yang sebelumnya bersimpati menjadi berbalik setelah pihak militer Iran secara tidak sengaja menembakan rudal yang menjatuhkan pesawat komersial milik Ukraina dan menewaskan 175 orang.

"Hal ini memicu protes di berbagai belahan dunia agar Hassan dan pemerintahnya mengusut tuntas kasus tersebut," papar Pilarmas.

Sementara itu dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan realisasi ekspor dan impor sepanjang 2019 dimana total ekspor mencapai US$ 167,53 miliar atau turun 6,94% dari 2018 lalu yang mencapai US$ 180,01 miliar.

Lalu total impor selama 2019, tercatat US$ 178,72 miliar atau turun 9,53% dibanding di 2018 yang sebesar US$ 188,71 miliar. Sehingga neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2019 mengalami defisit US$ 3,2 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia masih surplus diantaranya ke Amerika Serikat, India dan Belanda. Sementara defisit terjadi ke Australia, Thailand, Tiongkok.

"Kami melihat angka tersebut jauh lebih baik daripada defisit pada tahun 2018 yang mencapai US$ 8.6 miliar, selain itu ketegangan dari negara emerging memberikan persaingan tarif masuk yang memberikan dampak pada kinerja ekspor," pungkas Pilarmas.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA