Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto:  Investor Daily/DAVID

Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto: Investor Daily/DAVID

Faktor Penentu Pulihnya Margin Keuntungan Wika

Sabtu, 4 Juli 2020 | 04:31 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Pemulihan aktivitas konstruksi di sejumlah proyek utama dan luar negeri akan menjadi faktor penentu kinerja keuangan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sepanjang tahun ini. Sedangkan perolehan kontrak baru diperkirakan turun drastis akibat penundaan tender sejumlah proyek pemerintah dan swasta.

Analis Mirae Asset Sekuritas Joshua Michael mengungkapkan, margin keuntungan bisnis konstruksi diperkirakan pulih, apabila aktivitas konstruksi pada sejumlah proyek utama perseroan, termasuk proyek di luar negeri, sudah normal.

Sebagaimana diketahui, pendapatan proyek luar negeri turun sebesar 19,2% pada kuartal I-2020 dan hanya berkontribusi 2% terhadap total pendapatan. Ekspektasi peningkatan margin keuntungan didukung oleh keputusan Pemerintah Aljazair membuka pembatasan Negara tersebut dari pandemi Covid-19 sejak 7 Juni 2020.

Meski demikian, perbatasan darat, penerbangan penumpang internasional, perjalanan laut, dan penerbangan domestik masih ditutup. Pembukaan tersebut diharapkan bisa memulihkan aktivitas proyek perseroan di negara tersebut.

Wika memiliki proyek besar yang sedang berjalan senilai Rp 2 triliun di Aljazair. Berdasarkan data proyek konstruksi di luar negeri menghasilkan margin keuntungan yang besar atau mencapai 15,1% pada kuartal I-2020 dibandingkan dengan margin keuntungan proyek domestik dengan margin keuntungan bersih hanya 4%.

wijaya karya
wijaya karya

Peningkatan margin keuntungan perseroan juga diharapkan datang dari segmen bisnis properti pada semester II tahun ini. Kenaikan didukung oleh ekspektasi pertumbuhan permintaan. Karena itu, margin kotor perseroan diperkirakan meningkat dari 12,1% pada kuartal I-2020 menjadi 12,5% sepanjang tahun ini.

Terkait proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung, Wika diharapkan menuntaskan pengerjaan proyek hingga 65% tahun ini dari perkiraan awal mencapai 80-85% setelah sempat mengalami penundaan akibat pandemi Covid-19.

Pengerjaan proyek ini diharapkan mulai normal pada semester II tahun ini. “Meskipun pengerjaan proyek kereta cepat ini sempat tertunda, kami percaya bahwa target penyelesaian proyek tersebut tahun 2021 tetap bisa terwujud dengan asumsi tidak ada lagi hambatan dan kecepatan pengerjaan bisa dipertahankan seperti tahun 2019,” tulis Joshua dalam risetnya, baru-baru ini.

Adanya penundaan pengerjaan proyek tersebut, menurut dia, mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mengalihkan kontribusi keuntungan bersih dari proyek kereta cepat senilai Rp 121 miliar tahun ini menjadi keuntungan tahun depan.

Terkait perolehan kontrak baru Wika tahun ini, Joshua tetap mempertahankan senilai Rp 33,5 triliun atau turun 19% dari perolehan pada periode sama tahun lalu dan total kontrak yang dikerjakan mencapai Rp 114 triliun. Target tersebut jauh di bawah proyeksi semula mencapai Rp 53,6 triliun. Bahkan dalam skenario terburuk, perolehan kontrak baru perseroan hanya mencapai Rp 13-16 triliun.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas memilih untuk menurunkan rekomendasi saham WIKA menjadi hold dengan target harga dipertahankan Rp 1.250. Target harga tersebut sejalan dengan pemangkasan target kinerja keuangan perseroan tahun ini. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PB tahun ini mencapai 0,9 kali.

Wika - wijaya karya
Wika - wijaya karya

Selain itu, pihaknya juga mempertimbangkan proyeksi penurunan laba bersih perseroan menjadi Rp 904 miliar tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu senilai Rp 2,28 triliun. Pendapatan perseroan juga diperkirakan turun dari Rp 27,21 triliun pada 2019 menjadi Rp 20,96 triliun tahun ini.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, perolehan kontrak baru Wika diharapkan mulai normal pada kuartal III dan IV tahun ini setelah penerapan new normal.

“Kami memperkirakan banyak tender proyek infrastruktur dimulai pada semester kedua tahun ini dan diharapkan Wika mampu untuk memenangkan sejumlah proyek baru,” tulis dia dalam risetnya.

Meski demikian, menurut dia, sejumlah proyek pemerintah yang ditenderkan tersebut kemungkinan baru dicatatkan sebagai perolehan kontrak baru perseroan tahun depan, karena proses tender akan membutuhkan waktu berkisar 3-6 bulan.

Sedangkan tender proyek swasta diperkirakan mulai pada kuartal terakhir tahun ini dengan asumsi kondisi ekonomi kian membaik. Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham WIKA dengan target harga direvisi turun dari Rp 1.800 menjadi Rp 1.750.

Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun ini sekitar 7,4 kali atau di bawah rata-rata tiga tahun terakhir mencapai 9,7 kali. Target harga tersebut juga mempertimbangkan proyeksi penurunan laba bersih Wika menjadi Rp 1,61 triliun tahun ini dibandingkan perolehan periode sama tahun lalu Rp 2,28 triliun. Pendapatan perseroan juga diperkirakan turun dari Rp 27,21 triliun menjadi Rp20,63 triliun.

Maria sebelumnya mengungkapkan, dampak negatif pandemic Covid-19 telah terlihat dari penurunan laba berish perseroan sebesar 65,3% menjadi Rp 99 miliar sampai kuartal I-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai Rp 286 miliar.

Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan pendapatan perseroan dari Rp 6,50 triliun menjadi Rp 4,19 triliun. Danareksa Sekuritas mengungkapkan bahwa realisasi pendapatan dan laba bersih tersebut di bawah ekspektasi. Pencapaian pendapatan Wika kuartal I-2020 baru mencerminkan 14,4% dari total target tahun ini. Sedangkan perolehan laba bersihnya hanya merefleksikan 4,4% dari total target laba bersih tahun ini dengan total Rp 2,24 triliun.

Rendahnya realisasi kinerja keuangan Wika kuartal I-2020 dipicu atas minimnya perolehan pendapatan yang disertai dengan peningkatan beban non-operasional.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN