Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Budi Hikmat.

Budi Hikmat.

Fase Terburuk di Pasar Saham Sudah Berlalu

Abdul Aziz, Senin, 18 Mei 2020 | 08:15 WIB

JAKARTA, Investor.id - Meski dampak Covid-19 terhadap perekonomian nasional diperkirakan baru benar-benar terasa pada akhir kuartal II-2020, fase terburuk pasar saham sudah berlalu karena para pelaku pasar telah mem-price in portofolionya ke depan. Fase paling buruk terjadi pada 24 Maret saat indeks harga saham gabungan (IHSG) terperosok 51,88 poin (1,30%) ke level 3,937.63. Indeks kini dalam fase konsolidasi untuk kembali rally menuju level fundamentalnya.

Pasar saham domestik tergerus 28,45% selama tahun berjalan (year to date/ytd) atau sejak awal tahun hingga 15 Mei 2020. Kapitalisasi pasar (market cap) saham-saham LQ45 menyusut lebih dari separuhnya. Price to earning ratio (PER) saham-saham paling likuid di bursa pun turun signifikan.

Tekanan terhadap pasar saham terjadi sejak Covid-19 merebak di Tiongkok pada akhir Desember 2019, disusul pengumuman kasus corona pertama di Tanah Air pada 2 Maret 2020. Selain dipicu isu corona, pasar bergejolak akibat anjloknya harga minyak, perang dagang, dan meningkatnya risiko resesi.

Namun, sejak 26 Maret, tekanan mereda dan IHSG kembali meninggalkan level psikologis 4.000. Pada Jumat (15/5) pekan lalu, indeks ditutup di level 4.507,60, turun tipis 6,22 poin (0,13%). Sejalan dengan itu, sebagian saham emiten LQ45 (periode 24 Maret - 15 Mei 20200) mulai membukukan kinerja positif. 

Chief Economist & Director Investment Strategy Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat mengungkapkan, saat-saat terburuk di pasar finansial, khusus pasar saham, terjadi pada pekan ketiga Maret, persisnya pada 24 Maret 2020.

Saat itu, indeks bursa global dan negara-negara emerging markets, tak terkecuali IHSG, berguguran dan mengalami underperformed. Kondisi jenuh jual (oversold) di pasar saham meningkat. Pada saat bersamaan, dolar AS menguat dan suku bunga naik. Imbal hasil (yield) obligasi negara melonjak. Sebaliknya, harga emas dan minyak anjlok.

Rush for cash memicu kejatuhan bursa global. Investor mengambil posisinya sebagai partisipan demokrasi yang bengis, spontan, mandiri, namun pragmatik,” ujar Budi Hikmat kepada Investor Daily di Jakarta, Sabtu (16/5).

Menurut Budi Hikmat, menyusul turbulensi di pasar finansial pada 24 Maret 2020, para investor global jangka panjang memutuskan untuk mengakumulasi emas. Hal itu tercermin pada kenaikan harga emas sebesar 12,92% pada 14 Mei (ytd).

Pada periode yang sama, kata Budi, harga komoditas anjlok. Harga timah, nikel, gas, batu bara, karet, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masing-masing melorot 11,67%, 12,63%, 18,16%, 22,60%, 25,50%, dan 31,93%. “Bahkan, harga minyak Brent melemah 55,62%,” tutur dia.

Budi Hikmat menjelaskan, perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 telah direspons pemerintah berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan menggulirkan stimulus, pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE), dan kebijakan kontrasiklus (counter cyclical).

Alhasil, menurut Budi, dunia saat ini mengalami kelebihan likuiditas. “Kondisi sekarang membuka peluang bagi pelemahan dolar AS, kenaikan harga emas, dan kenaikan harga surat berharga negara (SBN) di negara berkembang bila keadaan membaik,” papar dia.

Dia menegaskan, kondisi terburuk di pasar finansial sudah berlalu. Variabel-variabel yang muncul saat ini adalah isyarat bagi para investor untuk kembali berinvestasi. “Jadi, sekarang adalah saat terbaik bagi para investor, khususnya investor milenial, untuk berinvestasi di pasar saham,” tandas dia.

Budi Hikmat menambahkan, sektor yang berpotensi turun atau membukukan kerugian (potential losers) dalam jangka pendek di antaraya pendidikan, jasa keuangan, manufaktur, konstruksi dan real estat, otomotif, penerbangan dan pelayaran, pariwisata, serta migas.

Adapun sektor yang berpotensi naik atau mencetak keuntungan (potential winners) antara lain jasa dan pasokan medis, ritel dan makanan olahan, personal & healthcare, teknologi informasi dan komunikasi, perdagangan secara elektronik (e-commerce), pertanian, serta migas.

Forecast  IHSG

Berdasarkan forecast Bahana, IHSG pada akhir tahun akan bercokol di level 4.565 (bear), 5.536 (base), dan 6.162 (bull). Sedangkan yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun bakal mencapai 8,20% (bear), 7,57% (base), dan 7,00% (bull).

Adapun rupiah bakal bertengger di level Rp 17.500 (bear), Rp 15.100 (base), dan Rp 14.100 per dolar AS (bull). Pertumbuhan ekonomi akan minus 0,40% (bear), 2,3% (base), dan 5,30% (bull). Sedangkan inflasi akan berada di posisi 5,10% (bear), 3,90% (base), dan 3,10% (bull).

Selan itu, suku bunga acuan (BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) bakal berada di level 4,75% (bear), 4,50% (base), dan 4,25% (bull). “Posisi suku bunga acuan saat ini sudah tepat. Peluang pemangkasan suku bunga relatif minim karena volatilitas rupiah dan capital outflow masih terjadi,” ucap dia.

Budi Hikmat mengakui, IHSG berpotensi memberikan return tahunan negatif pada 2020 jika ekonomi nasional bertumbuh terlampau lemah, apalagi jika sampai negatif.

“Pertumbuhan poduk domestik bruto (PDB) akan bergantung pada berapa lama restriksi mobilitas diberlakukan. PDB kuartal I dan II berpotensi jatuh sebelum recover pada kuartal III dan IV,” kata dia.

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN