Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Desain proyek Grand Sagara, Surabaya besutan PT PP Properti Tbk.

Desain proyek Grand Sagara, Surabaya besutan PT PP Properti Tbk.

Februari, PP Properti Tawarkan Obligasi Rp 1,2 Triliun

Farid Firdaus, Jumat, 3 Januari 2020 | 18:16 WIB

JAKARTA, investor.id – PT PP Properti Tbk (PPRO) berencana melangsungkan penawaran awal (bookbuilding) atas Obligasi Berkelanjutan II Tahap I senilai Rp 1,2 triliun pada awal Februari 2020. Sekitar enam penjamin emisi (underwriter) pelat merah dan swasta bersiap menangani aksi korporsi ini.

Direktur Keuangan PP Properti Indaryanto mengatakan, obligasi ini merupakan bagian dari Obligasi Berkelanjutan II yang memiliki total plafon hingga Rp 2,4 triliun dan berlaku selama dua tahun. Saat ini, perseroan sedang dalam proses pendaftaran di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Untuk tahap I ini akan terdiri atas dua seri, masing-masing bertenor tiga dan lima tahun. Namun, kisaran kuponnya dan detail underwriter belum bisa saya sebutkan karena menunggu proses di OJK selesai,” jelas dia kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (3/1).

Indaryanto mengatakan, perseroan menggunakan dasar valuasi laporan keuangan September 2019 dalam proses penawaran ini. Pihaknya mencermati, belum banyak emiten yang menerbitkan obligasi di awal tahun, sehingga perseroan optimistis obligasi bisa terserap oleh pasar secara maksimal.

Jika berjalan sesuai rencana, perseroan menargetkan bisa mengantongi dana segar pada akhir Februari 2020. Hasil penerbitan obligasi, lanjut Indaryanto, akan digunakan untuk keperluan modal kerja, investasi dan pelunasan utang (refinancing).

Salah satu bentuk ekspansi anak usaha BUMN ini pada 2020 adalah penyelesaian pembangunan pusat belanja Grand Sungkono di Surabaya, Jawa Timur. Selain itu, perseroan juga melanjutkan pembangunan hotel di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pada 2020, kata dia, perseroan juga membidik sejumlah lahan untuk diakuisisi, salah satunya berlokasi di Jawa Barat. Namun, pihaknya belum dapat mengungkapkan detail pembelian lahan tersebut lantaran masih proses negosiasi.

“Kami meyakini tahun ini industri properti bisa lebih baik di dari tahun lalu yang banyak sekali tantangannya. Kami masih menghitung jumlah belanja modal (capital expenditure/capex) yang memungkinkan untuk dikeluarkan pada 2020,” jelas dia.

Hingga kuartal III-2019, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 210,5 miliar, turun 31% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 Rp 305,82 miliar. Hal ini dipicu oleh pendapatan usaha perseroan yang turun 24,7% menjadi Rp 1,37 triliun.

Per September 2019, penjualan realti berupa apartemen dan tanah yang menjadi penyumbang utama bisnis perusahaan turun 25,4% menjadi Rp 1,26 triliun. Sementara itu, pendapatan usaha dari hotel, pelayanan, dan sewa tercatat sebesar Rp 111,8 milar atau turun 10% dibanding periode yang sama 2018 sebesar Rp 124,4 miliar. Di sisi lain, beban pokok penjualan ikut turun 29,2% menjadi Rp 964 miliar.

Adapun PP Properti juga mencatatkan total aset yang naik 10,43% atau sebesar Rp 1,71 triliun. Kenaikan aset juga diikuti dengan peningkatan liabilitas yang mencapai 14,86%. Kenaikan liabilitas terutama dipicu tambahan utang dalam bentuk obligasi yang mencapai Rp 1,33 triliun dan utang bank jangka panjang Rp 410,4 miliar hingga kuartal III-2019.

Potensi Emisi

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) meyakini penerbitan obligasi oleh BUMN bakal lebih marak pada 2020. Hal tersebut seiring dengan ekspektasi penurunan suku bunga acuan yang akan terjadi kembali.

Sebelumnya, Kepala Divisi Pemeringkatan Pefindo Hendro Utomo mengatakan, pihaknya memperkirakan penerbitan obligasi korporasi pada 2020 mencapai Rp 158,5 triliun. Proyeksi jumlah tersebut didorong oleh kecenderungan suku bunga yang akan turun satu kali lagi.

“Surat utang korporasi bisa tumbuh 10-15% menjadi Rp 158,5 triliun. Dengan estimasi akan terjadi kemungkinan penurunan suku acuan bunga sebanyak dua kali yang terjadi pada 2020 dan 2021,” papar Hendro.

Hendro menambahkan, ekspektasi jumlah penerbitan tersebut dikontribusi oleh kebutuhan refinancing utang perusahaan. Hal itu juga akan didorong oleh jumlah surat utang yang jatuh tempo pada 2020 sebesar Rp 132,1 triliun, khususnya bagi perusahaan yang memiliki kecenderungan melakukan refinancing. Penerbitan obligasi korporasi pada 2020 secara industri akan didominasi oleh sektor perusahaan pembiayaan dan perbankan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA