Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. (Foto: MANDEL NGAN / AFP)

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. (Foto: MANDEL NGAN / AFP)

Fed Akan Mengecilkan Neraca US$ 95 Miliar Per Bulan

Kamis, 7 April 2022 | 08:44 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

NEW YORK, investor.id – Pejabat Federal Reserve (The Fed) membahas bagaimana mereka ingin mengurangi kepemilikan obligasi hingga triliunan dolar pada pertemuan Maret 2022, dengan konsensus sekitar US$ 95 miliar per bulan, menurut risalah yang dirilis Rabu (Kamis pagi WIB).

Pejabat bank sentral secara umum sepakat bahwa maksimum US$ 60 miliar dalam Treasury dan US$ 35 miliar dalam sekuritas berbasis hipotek akan diizinkan untuk bergulir, bertahap dalam lebih dari tiga bulan dan kemungkinan dimulai pada Mei 2022. Jumlah itu akan menjadi sekitar dua kali lipat dari upaya terakhir, dari 2017-2019, serta merupakan bagian dari peralihan bersejarah dari kebijakan moneter ultra longgarnya.

Selain pembicaraan neraca, para pejabat juga membahas laju kenaikan suku bunga ke depan, dengan para anggota condong ke arah langkah yang lebih agresif.

Baca juga: Saham AS Jatuh Lagi Setelah Risalah Fed yang Hawkish

Pada pertemuan 15-16 Maret 2022, The Fed menyetujui kenaikan suku bunga pertama dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan 25 basis poin atau seperempat poin persentase mengangkat suku bunga pinjaman jangka pendek dari level mendekati nol sejak Maret 2020.

Namun, risalah tersebut menunjukkan potensi kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin pada pertemuan mendatang, tingkat yang konsisten dengan harga pasar untuk pemungutan suara Mei 2022. Bahkan, ada sentimen yang cukup besar untuk kenaikan lebih tinggi bulan lalu. Ketidakpastian atas perang di Ukraina menghalangi beberapa pejabat untuk mengambil langkah 50 basis poin pada Maret 2022.

“Banyak peserta mencatat bahwa satu atau lebih kenaikan 50 basis poin dalam kisaran target bisa sesuai pada pertemuan mendatang, terutama jika tekanan inflasi tetap tinggi atau intensif,” kata risalah tersebut, dilansir dari CNBC pada Kamis (7/4/2022).

Saham jatuh setelah rilis Fed, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah bertahan lebih tinggi. Namun, pasar keluar dari posisi terendahnya karena para trader menyesuaikan diri dengan postur baru bank sentral Amerika Serikat (AS).

“(Risalah adalah) peringatan bagi siapa saja yang berpikir bahwa Fed akan lebih dovish dalam perjuangan mereka melawan inflasi. Pesan mereka adalah, ‘Kamu salah’,” kata Quincy Krosby, kepala strategi ekuitas di LPL Financial.

Memang, regulator dalam beberapa hari terakhir semakin tegas dalam pandangan mereka tentang menjinakkan inflasi.

Gubernur Fed Lael Brainard mengatakan pada Selasa bahwa menurunkan harga akan membutuhkan kombinasi kenaikan stabil ditambah pengurangan neraca yang agresif. Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga total 250 basis poin tahun ini.

“Semua peserta menunjukkan komitmen dan tekad kuat mereka untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan stabilitas harga,” tulis risalah tersebut.

Krosby mengatakan bahwa posisi regulator seharusnya tidak terlalu mengejutkan.

“The Fed mengatur upaya bersama untuk memperingatkan pasar, memberi tahu pasar dengan tegas bahwa ini serius, ini yang terpenting, kita akan melawan inflasi. Apa yang mereka miliki adalah pasar kerja yang masih sehat, dan itu penting. Yang tidak Anda inginkan adalah The Fed membuat kesalahan kebijakan,” jelas Krosby.

Ketegasan relatif bank sentral meluas ke pembicaraan neraca. Beberapa anggota tidak menginginkan batasan jumlah limpasan bulanan, sementara yang lain mengatakan mereka baik-baik saja dengan batas relatif tinggi.

Ikhtisar neraca akan melihat Fed mengizinkan tingkat hasil yang dibatasi dari sekuritas yang jatuh tempo untuk bergulir setiap bulan, sambil menginvestasikan kembali sisanya. Kepemilikan tagihan Treasury jangka pendek tetap ditargetkan, karena investasi ini sangat dihargai sebagai aset yang aman dan likuid oleh sektor swasta.

Sementara para pejabat tidak memberikan suara resmi, risalah menunjukkan bahwa para anggota setuju bahwa prosesnya dapat dimulai pada Mei 2022.

Apakah pelaksanaannya benar-benar akan mencapai US$ 95 miliar, masih dipertanyakan. Permintaan Efek Beragun Hipotek (MBS) sekarang diredam dengan aktivitas refinancing rendah dan tingkat hipotek naik melewati 5% untuk pinjaman 30 tahun. Pejabat mengakui bahwa hipotek pasif mungkin tidak cukup, dengan penjualan langsung untuk dipertimbangkan setelah neraca berjalan dengan baik.

Juga pada pertemuan tersebut, pejabat Fed secara tajam menaikkan prospek inflasi mereka dan menurunkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi mereka. Melonjaknya inflasi adalah faktor pendorong di balik pengetatan bank sentral.

Pasar sedang menunggu rilis risalah untuk perincian tentang ke mana arah kebijakan moneter dari sini. Secara khusus, Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan pada konferensi pers pasca pertemuannya bahwa risalah akan memberikan rincian tentang pemikiran tentang pengurangan neraca.

The Fed memperluas kepemilikannya menjadi sekitar US$ 9 triliun, atau lebih dari dua kali lipat, selama pembelian obligasi bulanan setelah krisis pandemi.

Pembelian tersebut berakhir sebulan yang lalu, meskipun ada bukti inflasi yang menderu lebih tinggi dari apa pun yang telah dilihat AS sejak awal 1980-an. Saat itu, lonjakan inflasi dipadamkan oleh guberbur Fed saat itu Paul Volcker, dengan menyeret ekonomi ke dalam resesi.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : CNBC

BAGIKAN