Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bursa saham Asia. (Foto: AFP / Kazuhiro Nogi

Ilustrasi bursa saham Asia. (Foto: AFP / Kazuhiro Nogi

Fokus Pasar: Akuisisi Tiktok di AS dan Langkah Pemerintah Pulihkan Ekonomi Kuartal III

Kamis, 6 Agustus 2020 | 09:13 WIB
Muhammad Ghafur Fadila

JAKARTA, Investor - Amerika Serikat dikabarkan akan segera menutup aplikasi asal Tiongkok yakni Tiktok dan Wechat yang diyakini oleh jajaran pemerintah AS sebagai aplikasi yang tidak dapat dipercaya. Hal ini menambah panjang daftar pertentangan yang terjadi antara AS dan Tiongkok.

Secretary Of State AS Mike Pompeo menjelaskan penutupan ini sebagai upaya pemerintah untuk menjaga jaringan agar lebih bersih dan melindungi sistem dari potensi bahaya nasional. Adapun aplikasi Tiktok dan Wechat ini menjadi ancaman bagi data pribadi para warga AS dan juga disinyalir sebagai sensor konten partai Komunis Tiongkok.

Hingga kini, Pompeo masih berusaha untuk mengevaluasi TikTok, karena pemerintahan Trump menganggap TikTok memiliki kemiripan dengan Huawei dan ZTE sebagai alat untuk mengumpulkan informasi bagi intelijen Tiongkok. Upaya AS menjegal Tiktok ini juga menjadi bagian dari penolakan yang dilakukan oleh AS untuk bekerjasama dengan Huawei untuk masuk ke pasar AS.

Dalam praktiknya beberapa kementerian AS, seperti Departemen Luar Negeri AS, Departemen Perdagangan serta Departemen Pertahanan akan bekerjasama untuk membatasi kemampuan teknologi Cloud dari TIongkok untuk mengumpulkan, menyimpan, memproses data di AS.

Disisi lain, untuk menghentikan rencana penutupan ini, raksasa teknologi, yakni Microsoft berniat melakukan akusisi operasi Tiktok di AS dan bersedia membayar hingga US$ 30 miliar, yang saat ini masih dalam tahap pembicaraan dengan pihak China Byte Dance sebagai pemilik aplikasi tersebut.

Menurut Pilarmas, hal tersebut dikhawatirkan memicu masalah baru, lantaran dengan adanya tekanan dari pemerintah AS, secara tidak langsung memunculkan indikasi penjualan paksa kepada Microsoft. Kami berpikir bahwa mungkin saja apa yang dikatakan pemimpin Global Time benar adanya bahwa ini merupakan sebuah pencurian namun dilegalkan, Jelas Pilarmas dalam risetnya baru-baru ini, Kamis (6/20).

Sementara itu dari dalam negeri, kabar terbaru datang dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 atau selama April-Juni dimana ekonomi terkontraksi hingga minus 5,32% secara tahunan dan minus 4,19% secara kuartal. Adapun angka ini berbanding terbalik dengan capaian ekonomi pada kuartal I 2020 yang masih tumbuh sebesar 2,97%. Disisi lain, pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I 2020 dibanding semester I 2019 juga terkontraksi 1,26%.

Pilarmas menjelaskan kontraksi ini tidak terlepas dari situasi ekonomi global negara lain yang terkena imbas pandemi. Hal ini memberikan efek domino dari kesehatan menjadi masalah sosial dan ekonomi dan menghantam lapisan masyarakat di rumah tangga sampai korporasi. Namun tampaknya hal tersebut dapat diantisipasi para pelaku pasar karena terjadi hampir di semua negara.

“Tentunya saat ini para pelaku pasar sedang menantikan langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian yang memasuki kuartal 3. Menurut kami langkah perbaikan ekonomi dapat dimulai dari mendorong aktivitas konsumsi rumah tangga agar efektivitas program pemulihan ekonomi nasional terealisasi dengan tepat sasaran,” pungkas Pilarmas.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN