Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pejalan kaki yang mengenakan masker pelindung berswafoto di depan patung yang dikenal sebagai Charging Bull di dekat bursa
saham New York di Wall Street, New York, AS, belum lama ini. Foto: Angela Weiss / AFP

Pejalan kaki yang mengenakan masker pelindung berswafoto di depan patung yang dikenal sebagai Charging Bull di dekat bursa saham New York di Wall Street, New York, AS, belum lama ini. Foto: Angela Weiss / AFP

Fokus Pasar: AS dan Tiongkok Kembali Memanas Gara-gara Covid-19

Thereis Love Kalla, Selasa, 5 Mei 2020 | 10:46 WIB

JAKARTA, investor.id – Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Tiongkok merupakan penyebab penyebaran virus corona, meskipun sebetulnya dia tidak punya bukti untuk menuduh Tiongkok seperti itu.

Menurut Trump, mata-mata Amerika sebelumnya telah mengatakan bahwa virus tersebut bukan buatan manusia, tetapi sampai sejauh ini mereka masih menyelidiki apakah itu merupakan sebuah kecelakaan di laboratorium Wuhan atau bukan.

Tuduhan pun berlanjut ketika The Associated Press melaporkan bahwa dokumen mata-mata Amerika telah menuduh Tiongkok menyembunyikan data tingkat korban akibat pandemi Covid-19 untuk menimbun alat-alat medis. Ketika suasana antara Tiongkok dan Amerika sedang memanas, situasi dan kondisi di Amerika kian mengkhawatirkan. Jumlah korban yang meninggal karena virus corona disinyalir merupakan kematian tertinggi dalam satu hari.

Di sisi lain, para negara bagian tengah AS mempertimbangkan untuk membuka perekonomian kembali akibat wabah yang telah terjadi. Hal ini memberikan harapan kepada pasar bahwa perekonomian dapat segera bangkit.

“Tentu saja seketika itu semua akan sirna, karena situasi dan kondisi yang terjadi akan membuat potensi untuk social distancing dan penutupan akan semakin bertambah lama dan membuat perekonomian kian mengalami penurunan,” ungkap Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Selasa (5/5).

Sementara itu, The Food and Drug Administration (FDA) telah memberikan izin untuk pemberian obat darurat, yaitu remdesivir dari Gilead Sciences untuk membantu mengobati pasien Covid-19. Pekan ini pemberian obat dapat segera dilakukan untuk memberikan secercah harapan bagi para korban untuk bisa bertahan. “Menilik situasi dan kondisi yang ada, bukan tidak mungkin bahwa sell in may mungkin akan terjadi tahun ini,” jelas Pilarmas.

Beralih ke dalam negeri, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan lima strategi umum pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, yaitu sumber pembiayaan non-utang di tahun ini akan berasa dari dana yang sudah ada, fleksibilitas pinjaman tunai melalui multilateral dan bilateral, fleksibilitas penambahan Surat Berharga Negara (SBN).

Pemerintah juga akan melakukan upsize penerbitan SBN domestik dan SBN valuta asing (valas) senilai US$ 10-12 miliar dengan memperhatikan kondisi pasar keuangan. Keempat, pemerintah akan mengutamakan penerbitan SBN melalui mekanisme pasar. Termasuk akan tetap melakukan secara ritel dengan nilai antara Rp 50-75 triliun. Lalu, dukungan Bank Indonesia di pasar perdana sebagai sumber pembiayaan yang bersifat yang bersifat last resort atau back stop.

“Langkah ini tentunya sebagai langkah pemerintah dalam menjaga dan mengantisipasi ekonomi dalam negeri akibat pandemi Covid-19. Langkah pembiayaan tersebut juga dalam rangka menjaga pembiayaan APBN untuk sustainibilitas perekonomian dalam negeri ke depan,” pungkas Pilarmas.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN