Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Refleksi pengunjung terlihatdi monitor pergerakan harga
saham Jakarta, kemarin. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Refleksi pengunjung terlihatdi monitor pergerakan harga saham Jakarta, kemarin. Foto: Investor Daily/David Gita Rosa

Fokus Pasar: AS Kembali Terlihat Perang Dagang, India Siapkan Balasan

Ghafur Fadillah, Senin, 24 Februari 2020 | 11:00 WIB

JAKARTA, investor.id - Kesepakatan dagang Amerika Serikat dan India diprediksi tidak akan berjalan lancar dalam waktu dekat ini. Soalnya, kedua negara tersebut memiliki ideologi yang sama dalam hal kebijakan.

Analis Pilarmas Sekuritas menjelaskan, kebijakan AS yakni First America dan India yang memiliki kebijakan Make In India menjadi salah satu faktor yang menghalangi kesepakatan dagang untuk segera disetujui kedua pihak.

"Hal tersebut berpotensi untuk membuat kesepakatan kedua negara tersebut tidak tercapai akibat egoisme masing-masing," jelas analis dalam keterangan resmi, Senin (24/2).

Sebelumnya, konflik dagang antara AS dan India dimulai ketika AS mengeluarkan India dari program pembebasan Negara Asia Selatan untuk bisa mengekspor ke Amerika tanpa tarif. Hal itu lantas membuat India geram dan memberikan serangan balasan dengan memberikan tarif balasan pada 28 produk AS.

"Sejauh ini kami melihat bahwa rencana India untuk memperkenalkan undang undang privasi data yang komprehensif dapat membuat kesepakatan akan menjadi semakin rumit," papar Pilarmas.

Lebih lanjut RUU Perlindungan Data Pribadi yang dimiliki India saat ini membuat hambatan bagi perusahaan teknologi asal Amerika untuk berekspansi di India salah satunya seperti Facebook dan Google. Saat ini rancangan undang-undang tersebut sedang ditinjau oleh parlemen India, adapun isi dari peraturan tersebut yakni melarang perusahaan untuk memproses informasi pribadi yang sensitif di luar India.

Sementara informasi mengenai data pribadi dapat ditransfer ke luar negara namun harus dalam keadaan khusus, sehingga server harus tetap berada di India. 

"Jika Perusahaan ingin menggunakan informasi pribadi seseorang, maka mereka harus meminta izin eksplisit. Hal ini mirip dengan Peraturan Perlindungan Data umum yang berada di Eropa," ungkap Pilarmas.

Disisi lain, bank sentral Tiongkok terus berupaya mencari jalan keluar atas perlambatan ekonomi yang disebabkan wabah Korona yang sampai saat ini masih belum ditemukan solusi tepatnya. Salah satunya adalah dengan menjaga tingkat  suku bunga pasar yang lebih rendah dan menjaga likuiditas yang memadai untuk membantu perusahaan yang terkena dampak epidemi Virus Korona. 

"Pelepasan lebih banyak likuiditas akan menyesuaikan kriteria pemotongan rasio persyaratan cadangan yang telah ditargetkan," jelas Pilarmas.

Pilarmas Sekuritas menilai ruang kebijakan moneter di Tiongkok saat ini masih sangat memadai. Tiongkok juga yakin bahwa PBOC akan mampu mengimbangi dampak dari epidemi tersebut.

Bank Sentral Tiongkok akan menekan tingkat suku bunga kredit riil, terutama untuk perusahaan kecil, dengan meningkatkan mekanisme transmisi tingkat suku bunga dasar kredit dan suku bunga acuan pinjaman baru.

Pilarmas menambahkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal pertama mungkin akan menunjukkan perlambatan yang tajam, dengan kisaran mengalami penurunan menjadi sekitar 3% - 4.5%. Ini akan lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang sebesar 6%, dan ini merupakan laju terlemah dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.

Kemudian Wakil Gubernur Bank Sentral Tiongkok, Chen Yulu, mengatakan bahwa dampak dari Virus Korona terhadap perekonomian Tiongkok akan bersifat jangka pendek, dan percaya diri akan segera selesai, dan, permintaan untuk konsumsi investasi akan segera pulih dengan cepat.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN