Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peti kemas di Pelabuhan Qindao di Provinsi Shandong, Tiongkok timur. (Foto: China OUT / AFP / STR )

Peti kemas di Pelabuhan Qindao di Provinsi Shandong, Tiongkok timur. (Foto: China OUT / AFP / STR )

Fokus Pasar: Batalnya Kesepakatan Parsial antara AS dan Tiongkok

Ghafur Fadillah, Kamis, 14 November 2019 | 12:05 WIB

JAKARTA, investor.id – Kesepakatan parsial antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok batal dilakukan. Hal tersebut lantaran AS dan Tiongkok menemui jalan buntu karena tidak adanya kesepakatan dalam beberapa poin.

Dalam naskah kesepakatan tersebut, AS menginginkan Tiongkok untuk mengatur perlindungan kekayaan intelektual juga menghentikan praktik transfer teknologi secara paksa sebagai imbalan atas penurunan tarif terhadap Tiongkok. Sedangkan Tiongkok ragu untuk berkomitmen terhadap pembelian sejumlah produk pertanian tertentu yang berada di dalam teks kesepakatan fase pertama.

AS disebut-sebut tidak mau menurunkan tarif, kecuali Tiongkok menunjukkan poin-poin perjanjian yang lebih fleksibel pada tuntutan AS yang mana Tiongkok  tak akan bergeming selama tarif tersebut belum diturunkan oleh AS.

“Ini memberikan pengaruh besar terhadap pasar global, karena ketidakpastian semakin tinggi. AS pun tampaknya masih enggan untuk menurunkan tarif yang sudah mereka naikan sebelumnya,” sebut Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Kamis (14/11).

Sebelumnya, hubungan kedua negara sempat menghangat. Tiongkok sempat setuju untuk membeli produk pertanian AS hingga US$ 50 miliar sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan fase pertama.

Sejauh ini, AS telah mengenakan tarif lebih dari US$ 500 miliar terhadap barang-barang Tiongkok. Sebaliknya, Tiongkok telah mengenakan tarif sekitar US$ 110 miliar terhadap barang-barang dari Amerika, dan dapat menghentikan pembelian jika negosiasi memburuk.

Pilarmas menambahkan, kebuntuan ini akan membuat apa yang disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump menjadi kenyataan. Trump mengatakan akan menandatangani kesepakatan tersebut, asalkan kondisi itu menjadi pilihan terbaik bagi para pengusaha di AS. Lalu, dia juga meyatakan AS akan menaikkan tarif secara substansial, apabila fase kesepakatan pertama tidak tercapai dan beranggapan bahwa Tiongkok sedang sekarat untuk membuat kesepakatan perdagangan dengan AS.

"Sejauh ini, hal tersebut akan menghilangkan harapan para pelaku pasar yang menginginkan tahun depan sebagai tahun pemulihan perdagangan global," papar Pilarmas.

Sementara itu, Chairman The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan, pihaknya tidak berencana untuk mengubah suku bunga dalam waktu dekat, karena ekonomi AS masih berada di jalurnya dan menegaskan bahwa kebijakan moneter yang lebih akomodatif telah menumbuhkan perekonomian.

Powell juga mengatakan bahwa The Fed melihat kebijakan moneter saat ini akan tetap sesuai selama informasi data ekonomi yang masuk tentang ekonomi secara luas tetap konsisten dalam pertumbuhan ekonomi yang moderat dimana ada pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi yang mulai mendekati 2%. Sejauh ini, The Fed telah memangkas tingkat suku bunga sebanyak 3 kali selama tahun ini hingga menjadi 1,5%.

"Saat ini, ekonomi sedang berada ditempat yang baik dan nyatanya tidak akan membutuhkan lebih banyak stimulus, apabila data ekonomi tetap konsisten seperti saat ini," jelas Pilarmas.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA