Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja IHSG saat pembukaan sesi I Rabu (15/1/2020). Sumber: BSTV

Kinerja IHSG saat pembukaan sesi I Rabu (15/1/2020). Sumber: BSTV

Fokus Pasar: BI Prediksi Industri Manufaktur Naik, Hingga Defisit Anggaran AS

Rabu, 15 Januari 2020 | 10:13 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Bank Indonesia (BI) memprediksi ekspansi industri manufaktur meningkat pada kuartal I-2020. Hal ini tercermin dari Promp Manufacturing Index (PMI BI) yang diperkirakan meningkat menjadi 52,73%.

“Ekspansi kegiatan usaha diprediksi terjadi pada sebagain besar subsektor, dengan peringkat tertinggi pada industri semen dan barang galian non-logam,” tulis Valbury Sekuritas dalam riset harian, Rabu (15/01).

Secara rinci, PMI pada subsektor semen dan barang galian diproyeksikan naik dari 57,43% menjadi 56,85%. Ekspansi pada subsektor ini didorong oleh peningkatan volume produksi dan pesanan barang input, serta persediaan barang jadi dan tenaga kerja. 

Kemudian dalam catatan Bank Indonesia, kinerja industri manufaktur pada kuartal IV-2019 masih berada pada fase eskpansi. Menurut Valbury Sekuritas, kinerja tersebut melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. “Tercermin dari PMI BI 51,50% pada triwulan IV 2019, lebih rendah dari kuartal sebelumnya 52,04%,” ujarnya.

Selain itu, Bank Indonesia optimis neraca perdagangan bulan Desember 2019 akan surplus, karena kondisi eksternal yang cukup baik, yang ditunjukan dengan naiknya ekspor. Realisasi ekspor hingga triwulan III-2019 cukup positif. Sementara impor juga menurun, terutama sektor minyak dan gas seiring dengan kebijakan biodiesel 20% (B20). 

“Neraca perdagangan Indonesia pada November 2019 mengalami defisit USD1,33 miliar. Defisit neraca perdagangan November disebabkan oleh impor yang masih terus naik, sementara ekspor belum membaik,” ujar Valbury Sekuritas.

Valbury Sekuritas menambahkan, tercatat nilai impor Pada November 2019 mencapai US$ 15,34 miliar atau naik 3,94% dibanding Oktober 2019. Sedangkan nilai ekspor Indonesia November 2019 mencapai US$ 14,01 miliar atau menuru 6,17% dibanding ekspor Oktober 2019.

Dari sisi global, Amerika Serikat (AS) terancam defisit anggaran di 2020. Sedangkan di tahun fiskal baru yang dimulai Oktober 2019, defisit naik 11,8% dari periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Valbury Sekuritas menyampaikan, periode Oktober hingga Desember 2019, membuat AS berpotensi kembali mencatatkan defisit sebesar US$ 1 triliun, tertinggi sejak delapan tahun terakhir. Hal ini mencerminkan tidak efektifnya dampak pemotongan pajak US$ 1,5 triliun yang Presiden Donald Trump dorong melalui Kongres pada 2017 lalu. Peningkatan pengeluaran termasuk militer disinyalir membuat terjadinya defisit.

Editor : Elly Rahmawati (ely_rahmawati@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN