Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi pasar saham. (Gerd Altmann/Pixabay)

Ilustrasi pasar saham. (Gerd Altmann/Pixabay)

Fokus Pasar: Corona Bisa Kembali Memicu Perang Dagang

Ghafur Fadillah, Kamis, 23 April 2020 | 10:07 WIB

JAKARTA, investor.id – Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kian memanas, setelah saling tuduh mengenai penyebaran virus corona. Tudingan tersebut diutarakan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa kurangnya transparansi Tiongkok mengenai wabah tersebut membuat penyebaran tidak bisa dikendalikan. Hal itu sebagai tanggapan atas pernyataan Pemerintah Tiongkok yang menyebut AS kemungkinan besar menjadi sumber pandemi global saat ini.

“Ketegangan yang kembali terjadi antara kedua negara ini berpotensi mengancam kesepakatan dagang yang sebelumnya sudah ditandatangani,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Kamis (23/4).

Sementara itu, Uni Eropa tengah berjuang keras memulihkan ekonomi. Presiden Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen mengatakan, dirinya akan mempresentasikan beberapa rencana mengenai pemulihan ekonomi. Salah satunya mengeluarkan stimulus sebesar 2 triliun euro atau US$ 2,2 triliun.

Sedangkan di Indonesia, Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menyampaikan bahwa realisasi penerimaan pajak baru 14%. DJP mengungkapkan bahwa penerimaan pajak sebesar Rp 241,61 triliun atau 14,71% dari target APBN 2020. Realisasi per akhir Maret 2020 ini turun 2,47% dibandingkan periode sama tahun lalu yang tumbuh 1,32%.

“Kondisi ini tentunya menjadi perhatian pemerintah karena penurunan penerimaan dari pajak kemungkinan besar bakal kembali menurun, mengingat dampak penyebaran virus corona yang baru dirasakan di dalam negeri pada Maret lalu," ungkap Pilarmas.

Bank Indonesia telah menyatakan, meskipun di tengah tekanan, rupiah kembali stabil. BI memprediksi penguatan rupiah menuju Rp 15.000 per dolar AS hingga akhir tahun ini. “Rupiah sejauh ini masih dalam posisi undervalued,” ujar Pilarmas.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN