Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Huawei. Foto: china.org.cn

Huawei. Foto: china.org.cn

Fokus Pasar: dari Huawei Hingga Rapat Dewan Gubernur BI

Nabil Al Faruq, Selasa, 20 Agustus 2019 | 10:32 WIB

JAKARTA, investor.id – Amerika Serikat (AS) berencana memperpanjang serangkaian pengecualian terbatas selama 90 hari mengenai larangan berbisnis dengan Huawei, perusahaan pemasok perangkat telekomunikasi dan jaringan komunikasi asal Tiongkok.

Menurut Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross, penangguhan selama 90 hari ini sangatlah tepat, sebab beberapa perusahaan telekomunikasi di AS masih sangat bergantung pada Huawei. Namun, tindakan AS untuk memasukkan perusahaan-perusahaan Tiongkok ke dalam daftar hitam tidak berhenti sampai di situ saja.

AS telah menambahkan lebih dari 40 afiliasi Huawei ke daftar hitam perdagangan. AS memberikan waktu kepada Tiongkok untuk berpikir, sehingga diberikan tenggat waktu hingga 19 November 2019.

Mengenai hal tersebut, Huawei mengungkapkan bahwa itu tidak mengubah fakta bahwa perseroan telah diperlakukan tidak adil. Keputusan AS baru-baru ini tidak berdampak besar bagi bisnis Huawei. Saat ini, sentimen tersebut sudah mulai masuk ke ranah tensi politik, sehingga permasalahan Huawei dulu dimasukkan ke dalam daftar hitam sebagai ancaman keamanan nasional Amerika sudah tidak diungkit lagi oleh AS.

“Hal tersebut hanya sebuah alasan untuk memperlambat pertumbuhan Huawei seperti yang sudah disampaikan Trump sebelumnya. Penundaan untuk Huawei pun tidak akan mungkin diperpanjang untuk kesekian kali, namun Huawei sendiri tampaknya sudah siap untuk berdiri di kedua kakinya sendiri tanpa harus bergantung pada Amerika,” sebut Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Selasa (20/8).

Beralih dari topik Huawei, Bank Sentral Tiongkok akan mulai merilis tingkat referensi baru untuk pinjaman bank pada Selasa. Pilarmas Sekuritas melihat bahwa itu sebagai langkah lebih lanjut dari reformasi yang ditunggu selama ini untuk membawa suku bunga yang lebih rendah terhadap perekonomian Tiongkok.

Reformasi ini merupakan salah satu cara Tiongkok untuk membuka penyumbatan moneter, karena ekonomi Tiongkok terus melemah selama berlangsungnya perang dagang hingga hari ini. Jika dilihat dari data output industri Tiongkok yang baru saja keluar data tersebut menunjukkan pelemahan terburuk sejak 2002.

Penggunaan tingkat referensi baru untuk pinjaman bank oleh Tiongkok tentu akan disambut baik oleh pasar. Sebab, langkah tersebut akan memberikan stimulus ekonomi yang lebih baik bagi Tiongkok.

Sementara itu, di AS, President The Fed untuk Boston Eric Rosengren kembali mendorong The Fed untuk melakukan pemangkasan tingkat suku bunga lanjutan. Dia yakin hal itu akan mempengaruhi perlambatan perdagangan dan pertumbuhan global yang akan berdampak terhadap perekonomian AS. Trump juga mendorong untuk The Fed menurunkan tingkat suku bunganya sebesar 100 bps atau 1%. Hal itu dapat menjadi booster.

Di dalam negeri, para pelaku pasar dan investor akan menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan berlangsung pada Kamis nanti. “Kami melihat, meskipun BI memiliki ruang penurunan tingkat suku bunga sebesar 25 bps, mereka tidak akan melakukannya pada pertemuan bulan ini. Mereka akan menahannya dan berpotensi seusai The Fed melakukan pertemuan pada September,” jelas Pilarmas Sekuritas.

Kemudian, di pasar komoditas, harga minyak mulai mengalami kenaikan dalam jangka pendek setelah berulang kali diterpa oleh sentimen negatif, sehingga harga minyak jatuh dari level tertingginya pada tahun ini.

Pilarmas melihat ketegangan di Timur Tengah tidak akan bergerak ke mana-mana pada pekan ini, sehingga harga minyak berpeluang rebound ke posisi US$ 57-58 per barel. Kekhawatiran tentang resesi ekonomi dunia dinilai membebani harga minyak, sehingga minyak ditekan untuk turun agar inflasi tidak tinggi.

Sementara itu, OPEC memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2019 sebesar 40 ribu barel per hari menjadi 1,1 juta barel per hari. Pilarmas Sekuritas melihat ada indikasi pasar akan sedikit surplus pada 2020. Prospek bearish terjadi di tengah sengketa perdagangan AS-Tiongkok, serta Brexit. Situasi tersebut dapat menekan OPEC dan sekutu mereka termasuk Rusia untuk mempertahankan kebijakan pemangkasan produksi guna mendukung harga.

“Kami melihat pasar minyak dunia masih berpotensi bearish hingga akhir tahun ini, mengingat pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global yang saat ini sedang berlangsung, belum juga pulih,” sebut perusahaan efek tersebut.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA