Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas Pasar Global

Aktivitas Pasar Global

Fokus Pasar: Data Ekonomi Tiongkok Jadi Sorotan

Thereis Love Kalla, Kamis, 15 Agustus 2019 | 11:35 WIB

JAKARTA, investor.id - Sentimen pasar hari ini akan dipengaruhi oleh Tiongkok yang telah mengeluarkan data ekonominya. Hasil laporan ekonomi negeri bambu tersebut tampaknya jauh dari yang diharapkan.

Sorotan tertuju kepada angka pertumbuhan Industrial Production menjadi yang terlemah sejak 2002. Hal ini diakibatkan oleh perlambatan siklus ekonomi dan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang semakin menekan pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu itu.

Data ekonomi tersebut semakin menyedihkan lantaran retail sales Tiongkok juga turun cukup dalam, meskipun secara year to date masih dalam batas toleransi. “Data ekonomi Tiongkok yang keluar masih menunjukkan bahwa Tiongkok masih berjuang untuk bisa beradaptasi dan stabil,” ungkap Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya Kamis (15/8)

Ditengah situasi dan kondisi seperti saat ini, para pelaku pasar dan investor mengharapkan adanya stimulus untuk membantu menstabilkan perekonomian Tiongkok. Karena tentu saja, implikasinya akan berpengaruh pada Indonesia juga.

Sementara para pembuat kebijakan di Tiongkok baru melakukan kombinasi pemotongan pajak untuk mendorong pengeluaran, dan menargetkan insentif moneter dari Bank untuk diberikan kepada pelaku bisnis. Namun hal tersebut belum mampu menstimulus perlambatan ekonomi yang terjadi pada tiga pendorong siklus ekonomi Tiongkok yaitu ekspor, infrastruktur, dan properti.

“Harus ada langkah-langkah yang lebih agresif disana untuk bisa menghadapi meningkatnya utang dan resiko stabilitas keuangan yang berkelanjutan,” sebut Pilarmas Sekuritas.

Bank Sentral Tiongkok sejauh ini telah mengubah metode dalam mengevaluasi pinjaman bank. Hal tersebut diharapkan dapat memotong jumlah yang harus disimpan di Bank sehingga akan lebih banyak kredit yang mengalir ke produsen dan perusahaan kecil.

Hingga saat ini, para pejabat Tiongkok masih berencana melakukan pertemuan dengan Amerika Serikat (AS) pada bulan September nanti. Sementara, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pertemuan belum lama ini dengan Tiongkok sangat produktif dan ada kemajuan.

“Tapi selama apa yang diminta oleh Amerika, Tiongkok tidak bisa memberikan semuanya akan sama saja. Meskipun sisi baiknya, mereka masih berkomunikasi, yang menandakan selalu ada harapan ditengah ketidakpastian,” ungkap Pilarmas.

Sementara itu dari dalam negeri, pelaku pasar terlihat menunggu sentimen positif yang berasal dari internal. Menjelang rilis data neraca keuangan pada hari ini, diprediksi target defisit untuk ditekan berada di bawah 3% sepertinya agak berat melihat saat ini dikarenakan kinerja ekspor juga belum membaik.

Selain itu BI juga masih akan menunggu beberapa indikator makro guna memutuskan kebijakan yang preventif dalam menjaga stabilitas perekonomian dalam negeri. Stabilitas rupiah saat ini menjadi perhatian para pelaku pasar, melihat fluktuasi yang terjadi dapat berdampak erat dengan pertumbuhan sektor riil.

Adapun BI juga berencana melaksanakan Rapat Dewan Gubernur pada 22 Agustus pekan depan. Namun hasil rapat tersebut diprediksi belum akan menurunkan tingkat suku bunga terlebih pada bulan lalu.

Sebelumnya, BI telah memberikan pelonggaran guna mendorong likuiditas dan pertumbuhan kredit. “Kami melihat saat ini penurunan suku bunga lebih condong pada kondisi global. Sehingga diharapkan apabila BI menurunkan suku bunga lagi, dapat berdampak pada peningkatan aktivitas perekonomian sektor riil,” ungkap Pilarmas .

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA