Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi bursa Asia. Foto: dok. Investor Daily

Ilustrasi bursa Asia. Foto: dok. Investor Daily

Fokus Pasar: Ekonomi Tiongkok dan Imbal Hasil Obligasi di Eropa

Nabil Al Faruq, Jumat, 9 Agustus 2019 | 10:50 WIB

JAKARTA, investor.id – Data neraca perdagangan serta ekspor dan impor Tiongkok telah dirilis. Neraca perdagangan raksasa ekonomi Asia itu lebih baik ketimbang beberapa bulan lalu yang berada di bawah US$ 45 miliar.

Sementara, stabilnya ekspor merupakan salah satu tanda yang menunjukkan bahwa pembuat kebijakan telah menoleransi yuan yang terus melemah, dimana pelemahan ini merupakan salah satu tools yang dapat membantu meningkatkan daya saing Tiongkok.

Terlebih, pada 1 September nanti, AS akan mengenakan tarif tambahan sebesar 10% untuk setiap ekspor Tiongkok ke AS senilai US$ 300 miliar. “Kami melihat, apabila Presiden AS Donald Trump benar-benar menjalankan aksinya, pertumbuhan Tiongkok akan kembali melambat menjadi 6% tahun ini dan akan terus berpotensi turun menjadi 5,6% pada 2020,” sebut Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Jumat (9/8).

Jika benar pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan melambat, tentu akan memberikan sedikit banyak berimplikasi terhadap Indonesia. Sebab, Tiongkok merupakan negara tujuan utama perdagangan bagi Indonesia.

Di sisi lain, Trump sangat kecewa dengan dolar AS yang terus menguat di tengah pelemahan yuan. Trump menyalahkan The Fed sebagai asal muasal penguatan dolar AS. Trump menginginkan The Fed untuk kembali memangkas tingkat suku bunga, setidaknya pada September 2019.

Selanjutnya, selain perang dagang antara AS dan Tiongkok, sentimen lain datang dari Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini. Dia mengatakan bahwa koalisi yang memimpin pemerintahan telah runtuh. Satu satunya jalan adalah mengadakan pemilihan baru.

Salvini mengaku telah memberi tahu Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte bahwa aliansi ‘5 Star’ telah runtuh, sehingga pihaknya harus cepat memberikan pilihan kepada para pemilih. Atas hal ini, imbal hasil obligasi di semua negara di Eropa menguat.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA