Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
lustrasi Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: SP/Ruht Semiono

lustrasi Indeks Harga Saham Gabungan. Foto: SP/Ruht Semiono

Fokus Pasar: Empat Sentimen yang Patut Dicermati Pemodal

Ghafur Fadillah, Kamis, 17 Oktober 2019 | 10:49 WIB

JAKARTA, investor.id – Pilarmas Investindo Sekuritas memprediksi, secara teknikal indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini (17/10) berpeluang menguat dan di-trading-kan pada level 6.126-6.208. Sementara itu, terdapat empat sentimen dari dalam maupun luar negeri yang dapat mempengaruhi pasar, seperti berikut ini;

• Brexit memasuki tahap kritis

Pembicaraan Inggris dengan Uni Eropa sudah memasuki tahap akhir. Namun, masih ada optimistis vs pesimistis di sana, karena kami melihat kedua pihak masih terkunci dalam diskusi penting dan diharapkan hal ini dapat dicapai sebelum KTT Uni Eropa pada akhir pekan ini.

Jika ternyata pada akhirnya kesepakatan tidak disetujui, maka PM Inggris Boris Johnson secara hukum berkewajiban untuk meminta Uni Eropa untuk memperpanjang proses Brexit hingga ke tanggal terakhir Brexit, yaitu 31 Oktober 2019.

Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar juga mengatakan bahwa masih ada cukup banyak masalah masalah luar biasa yang belum terselesaikan, khususnya permasalahan Irlandia Utara terutama masalah seputar bea cukai dan PPN. Jika kesepakatan tercapai, para pemimpin Uni Eropa harus meratifikasinya pada pertemuan puncak mereka pada Kamis dan Jumat, kemudian harus disetujui oleh mayoritas anggota parlemen Inggris pada pertemuan puncak pada Sabtu.

• Keraguan mulai muncul terkait klaim kemenangan AS atas Tiongkok

Kesepakatan yang kemarin membuat pasar sumringah, ternyata tampaknya mulai dicurigai oleh pasar. Para pelaku pasar dan investor tampak ragu terutama mengenai janji Tiongkok untuk meningkatkan pembelian produk pertanian dari Amerika. Selama pembicaraan pekan lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Tiongkok setuju untuk membeli produk pertanian AS senilai US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar dalam kurun waktu 2 tahun.

Apa yang diberikan oleh AS pun juga masih belum jelas atas apa yang dilakukan oleh Tiongkok, kesepakatan atau pembatalan kenaikan tarif pada Desember nanti. Tiongkok juga mengatakan akan membeli produk pertanian AS berdasarkan permintaan dan harga pasar.

Kementerian Luar Negeri Tiongkok juga mengonfirmasi bahwa apa yang disampaikan oleh Trump konsisten dengan apa yang dipahami oleh Tiongkok, namun dengan rincian yang masih kurang detail untuk saat ini.

Kami melihat bahwa hal ini sebetulnya juga sudah disampaikan oleh Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin bahwa dalam beberapa pekan mendatang, AS dan Tiongkok akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan kesepakatan tersebut yang mana akan ditandatangani bulan November nanti. Segala sesuatu tentu akan dibahas untuk dituang dalam perjanjian.

Sebab itu, kami juga menilai bahwa pasar terlalu dini untuk menilai apakah yang disampaikan oleh AS dan Tiongkok menjadi bias atau tidak. Menunggu merupakan hal yang paling membosankan, namun yang menarik adalah ketika Trump pada pertemuannya dengan Presiden Italia, Sergio Mattarella, mengatakan bahwa Tiongkok sudah mulai membeli dari petani dan ini akan menjadi bekal yang bagus bagi Trump untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertemuan APEC di Chili, November 2019.

Ini artinya bahwa kesepakatan, meskipun belum ada hitam di atas putih, namun sudah ada komitmen bagi Tiongkok untuk membeli dan ini akan menjadi hal yang baik ketika ada keraguan yang muncul di sana.

• The Fed melaporkan bahwa dampak kebijakan perdagangan AS terus mengaburkan ekonomi negara tersebut

The Fed menyampaikan bahwa perang dagang AS dan Tiongkok yang saat ini sudah memasuki 15 bulan, telah menyeret pertumbuhan ekonomi AS. Aktivitas manufaktur telah turun ke level terendah dalam kurun waktu 10 tahun. Data ekonomi ini dikumpulkan dari diskusi Bank Sentral dengan seluruh pebisnis di dalam negeri AS.

Mereka juga menyatakan bahwa pebisnis berharap fase ekspansi ekonomi akan terus berlanjut, namun, tentu akan menurunkan pandangan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam 6-12 bulan mendatang.

Beberapa distrik mengatakan bahwa ketegangan perdagangan yang terus menerus dan melambatnya pertumbuhan global akan membebani aktivitas ekonomi. Data AS juga mengatakan bahwa penjualan ritel telah turun untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 7 bulan.

• IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi kelompok emerging markets ikut tertekan

IMF kembali menyampaikan mengenai pertumbuhan ekonomi emerging markets dimana hanya akan menjadi 3,9% pada akhir tahun ini. Namun, pertumbuhan akan kembali naik menjadi 4,6% pada 2020.

Sedangkan untuk Indonesia diperkirakan hanya mampu tumbuh 5% pada tahun ini. Proyeksi tersebut sejalan dengan Bank Dunia yang baru-baru ini juga memperkirakan angka pertumbuhan yang sama untuk Indonesia.

Menilik situasi dan kondisi ekonomi global yang tengah terjadi saat ini, kami melihat bahwa bisa bertumbuh di atas 5% bukanlah sesuatu yang buruk. Hal ini mencerminkan bahwa fundamental ekonomi kita cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian global dan mampu bertahan untuk melewati masa masa sulit seperti ini.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA