Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa global. Foto ilustrasi: Investor Daily/AFP

Bursa global. Foto ilustrasi: Investor Daily/AFP

Fokus Pasar: Eskalasi Perang Dagang Hingga Ancaman Default Surat Utang Argentina

Ghafur Fadillah, Selasa, 13 Agustus 2019 | 13:57 WIB

JAKARTA, Investor. Id - Goldman Sachs Group menyebutkan peningkatan tensi perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok mulai memperbesar kekhawatiran terhadap resesi perekonomian AS. Bahkan, sejumlah bank Investasi di negara tersebut tidak lagi mengharapkan kesepakatan perdagangan sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat hingga tahun depan.

Kekhawatiran resesi juga diungkapkan Mantan menteri keuangan Amerika Serikat, Lawrence Summers. Menurut dia, ketegangan perdagangan akan mendorong ekonomi dunia menuju resesi pertamanya dalam satu dekade terakhir dan hal ini akan menuntut para pelaku pasar, investor, banker, politis untuk bertindak lebih cepat untuk mengubah arah tujuan ekonominya.

Perkiraan resesi ekonomi AS jauh lebih besar saat ini,  dibandingkan dua tahun lalu.  Selain itu, dalam ketegangan perang dagang ini Tiongkok tampaknya lebih bersabar dengan memilih untuk berdiam diri, sembari melihat AS yang lebih banyak bermain api untuk saat ini. Karena Tiongkok memprediksi bahwa langkah-langkah yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump akan berdampak pada negatif pada AS.

Summers menambahkan bahwa pertarungan dagang dengan tiongkok sebagai konflik perdagangan yang sadis dan bodoh. Terlepas dari resikonya sendiri, krisis resesi ekonomi AS tetap berpotensi akan terjadi yang akan menjadi kejutan terbesar nantinya.

Hal ini mendorong Goldman Sachs  menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi AS kuartal keempat sebesar 0,2 poin menjadi 1.8%.

Selain perang dagang, fokus perhatian pemodal tertuju ke Hong Kong yang tengah berada dalam titik kritis di tengah aksi demonstran besar-besaran. Aksi tersebut di warnai dengan kerusuhan yang berakibat pada lumpuhnya lalu lintas darat dan juga penerbangan setelah pengunjuk rasa menduduki gedung terminal bandara selama tiga hari.

Hingga kini,  pemimpin Hong Kong Carrie Lam masih tetap menolak untuk mengundurkan diri sesuai tuntutan para demonstran, karena masih mendapatkan dukungan dari Otoritas Beijing. Hal ini diprediksi akan terus menambah tekanan terhadap perekonomian global. 

Selanjutnya kondisi Argentina terancam default kembali terulang. Di tengah kekalahan pemilihan presiden petahana Mauricio Macri, para pelaku pasar dan investor membuang saham, obligasi, dan mata uang secara massal dalam jumlah besar yang membuat para pelaku pasar dan investor global mempertanyakan apakah Argentina sedang menuju potensi krisis.

Hal itu disebabkan saat ini Argentina memiliki miliaran utang dalam bentuk mata uang asing yang jatuh tempo dalam satu tahun mendatang. Beberapa analis juga mengatakan bahwa Pasar mulai memberikan harga dengan potensi default. Credit Default Swap Argentina menunjukkan bahwa 75% kemungkinan bahwa Argentina akan menangguhkan pembayaran utang dalam 5 tahun ke depan.

Pasar saham utama Argentina terjun bebas 35%, dan mata uang turun 25% terhadap Dollar Amerika setelah hasil pemilu yang mengejutkan berbagai pihak. Kekhawatiran Argentina akan menjadi kekhawatiran Emerging Market, tidak terkecuali Indonesia yang kemarin merespon dengan kenaikkan imbal hasilnya.

Selanjutnya dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) Tengah menunggu saat yang tepat untuk melakukan kebijakan moneter dan makroprudensial guna mendukung pertumbuhan riil sektor. Kebijakan ini akan dilakukan dengan mempertimbbangkan trade war yang masih menjadi permasalahan utama dalam perekonomian bagi negara maju.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN