Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang menyaksikan Indeks Harga Saham Gabungan di sebuah sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pialang menyaksikan Indeks Harga Saham Gabungan di sebuah sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Fokus Pasar: Harga CPO Naik di Tengah Pemulihan Ekonomi

Senin, 7 Juni 2021 | 08:28 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Fokus pasar di awal pekan tertuju pada penguatan harga Crude Palm Oil (CPO) pasca penerapan kembali lockdown oleh Malaysia. Keterbatasan sumber daya manusia menyebabkan meningkatnya permintaan di tengah produksi yang menurun.

Dalam riset harian Pilarmas Sekuritas mengatakan, selain itu momentum kenaikan harga ini juga didorong oleh meningkatnya harga minyak keledai di Bursa Chicago dan Dalian, yang disebabkan oleh bencana kekeringan yang menghambat produksi. Pemerintah Brazil menanggapi dengan cepat bencana ini dengan mengeluarkan kebijakan peringatan darurat air.

Menurunya produksi tersebut, terjadi di tengah meningkatnya permintaan dari Tiongkok sebagai negara importir minyak sawit terbesar kedua di dunia,. Secara rinci, Pilarmas mengatakan, Tiongkok telah meningkatkan pembelian setelah penurunan persediaan dalam negeri ikut mendorong harga dan meningkatkan margin keuntungan importir.

“Terjaganya harga CPO di atas 3.800 dinilai dapat berdampak positif bagi kinerja ekspor Indonesia, sehingga dengan sentiment tersebut diharapkan dapat menopang kinerja perekonomian di kuartal II tahun ini, menuju target pertumbuhan ekonomi pada kuartal-II  2021 yakni diatas 5%,” jelasnya, Senin (7/6).

Sementara itu, setelah berdiskusi sekian lama, negara yang tergabung dalam G7 yakni  Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, serta Amerika Serikat pada akhirnya sepakat untuk menerapkan pajak minimum 15% atas pendapatan global bagi perusahaan. Selain itu, para anggota akan membuka jalan bagi negara negara dimana perusahaan tersebut menghasilkan keuntungan dapat dikenakan pajak.

Pilarmas melanjutkan, perubahan kesepakatan perpajakan internasional ini menjadi kali yang pertama sejak 1 abad lalu dan diharapkan memicu perubahan lainya. Diskusi terkait dengan pajak ini merupakan sesuatu yang diperjuangkan selama 4 tahun di semua forum Eropa dan Internasional, dan pada akhirnya peraturan mengenai pajak ini mengalami kemajuan meskipun belum diimplementasikan.

Kementerian Keuangan Amerika, Yellen mengatakan bahwa kesepakatan tersebut merupakan sebuah langkah dan keputusan yang tidak pernah terjadi sebelumnya sehingga menjadi sebuah kesepakatan yang sangat penting saat ini.

“Kesepakatan ini merupakan kebangkitan multilateralisme, dimana semua negara G7 dan G20 bekerja sama untuk mengatasi krisis yang saat ini sedang dihadapi oleh perekonomian global,” ujar Pilarmas.

Maka dari itu, Pilarmas menyarankan para investor untuk mencermati pertemuan G20 pada Juli mendatang yang akan digelar di Italia dan juga pembicaraan jangka panjang OECD dimana ada 140 negara berpartisipasi. Hal ini merupakan sebuah momentum penting bagi semua pihak. 

Di sisi lain, menanggapi kesepakatan tersebut, Kementerian Irlandia mengatakan bahwa seperti apapun kebijakan diharapkan memenuhi kebutuhan negara kecil dan berkembang.

“Tentu ini menjadi sesuatu yang sangat positive bahwa ini bukan saja mengenai pajak, tapi sesuatu yang juga dapat dipertanggungjawabkan terkait dengan dampak yang diberikan terhadap perkembangan bisnis kedepannya karena akan mempengaruhi pemulihan ekonomi,” pungkas Pilarmas.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN