Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fasilitas minyak mentah milik Aramco, di dekat daerah al-Khurj, luar ibu kota Riyadh,  Arab Saudi. ( Foto: AFP / FAYEZ NURELDINE )

Fasilitas minyak mentah milik Aramco, di dekat daerah al-Khurj, luar ibu kota Riyadh, Arab Saudi. ( Foto: AFP / FAYEZ NURELDINE )

Fokus Pasar: Harga Minyak dan Inflasi

Ghafur Fadillah, Kamis, 5 Desember 2019 | 10:22 WIB

JAKARTA, investor.id – Menjelang pertemuan negara-negara OPEC, harga minyak naik lebih dari 4%, setelah sebelumnya terjadi penurunan persediaan Amerika yang turun lebih dalam dari yang sudah diperkirakan, yaitu hingga 4,9 juta barel per 29 November lalu.

Selain itu, isu pemangkasan produksi minyak oleh para negara produsen pun turut menjadi sentimen negatif yang berdampak kepada kenaikan harga minyak dunia.

Pertemuan dua tahunan itu rencananya akan digelar pada Kamis di Wina, Austria. Pada rapat tersebut, 14 negara penghasil minyak akan berdiskusi terkait kebijakan produksi minyak mereka. Pertemuan akan dilanjutkan pada Jumat, dimana negara anggota OPEC akan bertemu dengan Rusia atau yang lebih dikenal dengan OPEC+.

Sebelumnya, OPEC+ telah memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari sejak awal tahun dan akan terus berlangsung hingga Maret 2020. Sebelum pertemuan tersebut, Menteri Perminyakan Irak Thamer Ghadhban menyarankan bahwa para anggota OPEC akan terus melanjutkan pemotongan produksi yang lebih dalam, dimana produksi tersebut akan dikurangi kembali sebesar 400.000 barel per hari.

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai langkah OPEC sebetulnya merujuk pada pengaturan ulang harga minyak mentah dan memberikan peluang yang lebih tinggi untuk dilakukan pemotongan yang lebih dalam.

Namun, dari negara anggota OPEC tersebut, kredibilitas Irak terkait dengan pengurangan output tambahan mulai dipertanyakan, karena sejauh ini mereka belum mematuhi pemotongan yang seharusnya dilakukan sebagai bagian dari perjanjian OPEC +. Meskipun begitu Arab Saudi mengatakan bahwa jika anggota OPEC yang lain tidak mematuhi ketentuan mengenai pemotongan produksi saat ini, Arab Saudi siap untuk memangkas produksinya lebih dalam lagi.

"Dapat dikatakan langkah ini sebagai bagian dari rencana strategis untuk memberikan dorongan kepada Aramco yang sebentar lagi akan melakukan IPO," sebut Pilarmas dalam ulasannya, Kamis (5/12).

Beralih ke dalam negeri, para pelaku pasar sedang menunggu rilis data Consumer Confidence per November yang rencananya dikeluarkan pada hari ini. Menurut konsensus, data Consumer Confidence berpotensi mengalami penurunan sebesar 0,4 poin, seiring penurunan dari kondisi ekonomi menjelang akhir kuartal IV.

Menurut Pilarmas, penurunan pada Consumer Confidence tersebut seiringan dengan rendahnya inflasi pada bulan November. Kondisi ini ditopang oleh inflasi inti yang melambat sehingga secara YTD hanya mencapai 2,37% atau 3% YOY.

"Inflasi yang rendah tersebut seiringan dengan strategi dari pemerintah dan bank sentral yang berupaya menjaga harga di pasaran lebih stabil, sehingga perekonomian tetap bertumbuh daya beli masyarakat terjaga stabil," papar Pilarmas.

Meskipun begitu, daya beli yang terlalu rendah juga tidak berarti baik, apalagi sampai dengan saat ini tingkat suku bunga kredit yang diharapkan untuk turun masih belum mengalami penurunan yang cukup signifikan. 

"Apabila mengacu pada data BPS, Consumer Spending cenderung naik sejak awal tahun. Hal tersebut berbanding terbalik dengan Consumer Confidence yang berada pada tren penurunan sejak awal tahun," jelas Pilarmas.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA