Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Saham Hong Kong. Foto: Investor Daily/AFP

Saham Hong Kong. Foto: Investor Daily/AFP

Fokus Pasar: Hong Kong!

Nabil Al Faruq, Jumat, 16 Agustus 2019 | 11:33 WIB

JAKARTA, investor.id – Stabilitas ekonomi global bisa dikatakan kian memburuk, karena hubungan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok semakin menegang menyusul adanya dugaan bahwa AS di balik konflik Hong Kong.

Presiden AS Donald Trump selalu mengaitkan kerusuhan di Hong Kong dengan pembicaraan kesepakatan perdagangan. Trump dalam beberapa cuitannya di Twitter membela keputusan tarif terhadap Tiongkok dan meminta negara tersebut untuk lebih manusiawi dalam menyelesaikan protes yang telah mencengkeram Hong Kong selama lebih dari dua bulan. Trump juga menawarkan pertemuan pribadi dengan Xi Jinping terkait dengan penyelesaian masalah Hong Kong.

Sementara, dalam berbagai kesempatan, demonstran Hong Kong terlihat mengibarkan sejumlah atribut Amerika sebagai simbol kebebasan berekspresi. Hal tersebut disambut negatif oleh Tiongkok, karena menganggap AS sebagai ‘tangan hitam’ di belakang para demonstran Hong Kong.

Ini menjadi bentuk kekusutan baru di tengah hubungan AS dan Tiongkok yang masih belum selesai. “Ada dua sisi yang diperlihatkan oleh AS dalam permasalahan yang terjadi di Hong Kong. AS yang penasaran ingin menolong Tiongkok menyelesaikan permasalahan Hong Kong atau AS justru mendukung demonstran di Hong Kong?” sebut Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Jumat (16/8).

Kembali ke permasalahan perang dagang, Tiongkok menyebutkan bahwa naiknya tarif yang akan dikenakan oleh Trump terhadap Tiongkok adalah pelanggaran perjanjian antara Trump dan Xi Jinping. Meski demikian, satu pernyataan yang meredakan ketegangan saat ini adalah, Trump telah mendapatkan telepon dari Xi Jinping pada hari Kamis. Trump juga mengatakan bahwa ia telah melakukan pembicaraan yang baik dengan Tiongkok.

Komunikasi antara Trump dan Xi Jinping tersebut sempat memberikan dampak kepada pasar untuk lebih tenang. Fokus berikutnya adalah menanti petunjuk tentang bagaimana The Fed melihat semua ini sebagai bagian dari keputusan terhadap pemangkasan tingkat suku bunga nantinya. 

Sementara itu, di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia per Juli 2019 mengalami defisit sebesar US$ 60 juta. Defisit tersebut dikarenakan ekspor Juli 2019 tercatat sebesar US$ 15,45 miliar, sedangkan impor Juli 2019 sebesar US$ 15,51 miliar. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN