Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala negosiator Brexit Uni Eropa Michel Barnier sedang berbicara kepada media saat meninggalkan pusat konferensi di London pada 10 September 2020, di mana dia ikut serta dalam pembicaraan perdagangan dengan para pejabat Inggris. ( Foto: JUSTIN TALLIS / AFP )

Kepala negosiator Brexit Uni Eropa Michel Barnier sedang berbicara kepada media saat meninggalkan pusat konferensi di London pada 10 September 2020, di mana dia ikut serta dalam pembicaraan perdagangan dengan para pejabat Inggris. ( Foto: JUSTIN TALLIS / AFP )

Fokus Pasar: Inggris dan UE Belum Temui Kesepakatan

Jumat, 16 Oktober 2020 | 08:40 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Inggris dan Uni Eropa (UE) belum menemui kesepakatan mengenai Brexit di pertemuan negosiasi 15 Oktorber 2020. Hal ini akan memberikan dampak buruk terhadap Inggris apabila kesepakatan kedua belah pihak belum tercapai.

Pilarmas Sekuritas mengatakan, hubungan antara Inggris dan Uni Eropa berpotensi mengalami fase krisis apabila Inggris tidak mendapatkan kesepakatan apapun. Apabila kesepakatan tersebut belum tercapai, maka bisnis dan konsumen akan terkena biaya tambahan dan mengalami turbulensi.

Pemimpin Uni Eropa menyampaikan bahwa pihaknya dan Inggris harus terus melanjutkan negosiasi dalam kurun waktu beberapa minggu mendatang, dan para pemimpin telah meminta Inggris untuk mendorong setiap langkah yang diperlukan untuk membuat kesepakatan menjadi mungkin.

“Uni Eropa menuntut agar apa yang Inggris mulai untuk keluar harus diselesaikan secepatnya agar tidak berlarut larut,” tulis Pilarmas Sekuritas dalam riset harian di Jakarta, Jumat (16/10).

Kedua belah pihak masih memiliki waktu 2 bulan lagi untuk bernegosiasi, sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 31 Desember 2020. Menurut jadwal 15 – 16 Oktober, para pemimpin Uni Eropa akan bertemu di Brussels untuk mendorong terjadinya kesepakatan lebih awal. Kemudian Pada tanggal 16 November, para pemimpin Uni Eropa akan kembali bertemu di Berlin, apabila ada susunan kesepakatan antara Uni Eropa dan Inggris, maka diharapkan para pemimpin dapat menyetujui hasil dari negosiasi tersebut.

Lebih lanjut, 23 – 26 November, Parlement Eropa akan bertemu dan akan meratifikasi kesepakatan apapun yang telah disetujui oleh para pemimpin Uni Eropa. Kemudian, 10 – 11 Desember akan diadakan KTT Uni Eropa, jika kesepakatan masih belum ditandatangani, maka bersiaplah untuk menghadapi situasi dan kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya khususnya perekonomian Inggris yang keluar tanpa kesepakatan. Terakhir, 31 Desember merupakan akhir dari proses transisi Brexit.

Sementara itu dari dalam negeri, Kementerian Ketenagakerjaan berupaya meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di Asean melalui program-program yang disepakati dalam pertemuan Senior Labour Officials Meeting Working Group on Progressive Labour Practices to Enhance the Competitiveness (SLOMWG).

Terdapat 5 program yang didukung oleh Kemenaker, yakni implementasi program kerja para Menaker Asean tahun 2021-2025, pembentukan Asean TVET Council, Asean Roadmap on The Elimination of Worst Forms of Child Labour, pelaporan Monitoring and Evaluation Framework of the ALM Program 2018-2020, dan rencana Implementasi Regional Action Plan dari Declaration on Transition from Formal Employment towards Decent Work Promotion in Asean.

Menurut Pilarmas, dengan adanya program tersebut diharapkan dapat menghasilkan capaian-capaian dan inisiatif baru dalam kerja sama ketenagakerjaan di Asean Terutama dalam rangka meningkatkan kemampuan dan daya saing, ketahanan, serta ketangkasan para pekerja Asean terutama dalam menghadapi pekerjaan masa depan.

Selain itu, Kemenaker juga mengusulkan agar rencana kerja mendatang dapat membantu upaya pemulihan dari dampak Covid-19, melalui pembangunan ekosistem bisnis dan investasi yang berkelanjutan dimana pelatihan menjadi instrumen kebijakan ketenagakerjaan dalam merespon tantangan-tantangan tersebut.

“Kami melihat hal ini seiring dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri dalam negeri agar dapat menarik perhatian investor, hal ini dapat disinergikan apabila UU Cipta Kerja sudah berjalan,” ujar dia. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN