Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja bursa regional Asia, Senin (11/11/2019) pagi. Sumber: BSTV

Kinerja bursa regional Asia, Senin (11/11/2019) pagi. Sumber: BSTV

Fokus Pasar: Kesepakatan Parsial AS-Tiongkok yang terancam kandas, Hingga Serba Serbi Sentimen di Berbagai Negara

Ghafur Fadillah, Senin, 11 November 2019 | 10:36 WIB

JAKARTA, investor,id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald kenbaili membuat pasar terkejut dengam menyatakan bahwa AS belum setuju untuk menarik kembali tarif yang sebelumnya dikenakan terhadap Tiongkok.

Juru bicara Departement Perdagangan Tiongkok Gao Feng mengatakan, negosiator telah mendiskusikan dan mereka setuju untuk menghapuskan tarif tambahan secara bertahap, karena kemajuan yang telah dicapai dalam kesepakatan.

Analis Keuangan AS Larry Kudlow juga mengatakan bahwa jika ada perjanjian perdagangan fase satu, maka akan ada perjanjian mengenai tarif dan konsesi. Di sisi lain, Trump menjelaskan bahwa Amerika belum mencapai kesepakatan dan menekankan bahwa AS tidak akan menghilangkan semua tarif.

Adapun arif yang tetap berlaku adalah tarif 15% untuk barang tambahan senilai US$ 110 miliar yang mulai berlaku 1 September 2019.

Pilarmas Sekuritas menilai hal ini sebagai sebuah permainan antara Amerika dan Tiongkok lantaran setiap sentimen yang muncul dari kedua belah pihak, mampu membuat gejolak di pasar, baik positif maupun negatif. Dengan adanya komentar Trump tersebut, justru berpotensi memperpanjang fase ketidakpastian hingga bulan Desember nanti karena besar kemungkinan kesepakatan akan ditandatangani pada bulan Desember. 

Sementara itu, Trump dan Powell akan berbicara pekan ini. Trump akan menyampaikan pidatonya di hadapan Economic Club of New York pada hari Selasa nanti. Dihadapan para Investor, Trump diperkirakan akan menjelaskan kesepakatan awal yang direncanakan sebelumnya dengan Tiongkok.

"Hal ini juga akan menjadi cerminan apakah Powell akan berhenti menurunkan tingkat suku bunganya tahun ini ataukah masih ada potensi satu kali lagi pada akhir tahun nanti," jelas Pilarmas dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (11/11).

Selanjutnya Pilarmas Sekuritas mengatakan trade balance dan ekspor Indonesia berpotensi untuk mengalami penurunan kembali. Hal ini akan menjadi perhatian para pelaku pasar setelah sebelumnya data GDP Indonesia meskipun data yang keluar tidak seburuk consensus tapi hasilnya tetap saja mengecewakan pasar.

Disisi lain Moody’s menurunkan outlook Inggris menjadi negatif. Meskipun belum ada penurunan rating, tapi hal ini sudah cukup memberikan impact dan perhatian akan ekonomi Inggris. Moodys menilai bahwa Pemerintah tidak memiliki komitmen terhadap displin fiskal dan tidak mampu menetapkan beberapa kebijakan Brexit yang hingga hari ini masih terkantung kantung, dan tidak jelas kapan Brexit ini akan selesai. Lalu Inggris juga akan mengeluarkan data GDP yang dimana secara YoY diperkirakan akan mengalami penurunan dari sebelumnya 1.3% menjadi 1.1%.

"Pada akhirnya, perekonomian Inggris terkena efek samping proses Brexit. Penurunan GDP ini mungkin akan menjadi yang terendah sejak 2012 silam yang dimana GDP England berada di 1.1% atau sama dengan 2018 kuartal 1 lalu," jelas Pilarmas.

Secara terpisah Jerman pada tanggal 14 nanti akan mengeluarkan data GDP yang dimana sebelumnya sudah terkontraksi secara QoQ yaitu berada di -0.1%, meskipun secara YoY masih berada dikisaran 0.4%. Data Jerman ini akan menjadi sebuah tanda apakah Jerman akan memasuki fase resesi pada kuartal ke 3 atau tidak. Ini akan menjadi pelemahan GDP terburuk dari jerman sejak 2015 silam lalu dimana GDP Jerman berada di -0.2%, meskipun kuartal berikutnya berangsur angsur sudah mengalami pemulihan.

"Tentu kita berharap bahwa Jerman mampu melewati ini dengan baik, kalaupun Jerman mengeluarkan data Negatif pada tanggal 14 November nanti, tetap kita semua harus menunggu data Final pada tanggal 22 November nanti," ujar Pilarmas.

Domestik

Beralih ke dalam negeri Bank Indonesia menyampakan Capial Inflow tembus Rp 226 triliun secara year to date yang di mana modal asing ini masuk sebagian besar ke obligasi pemerintah surat berharga negara sebesar Rp175 triliun, ke instrumen saham sebesar Rp49 triliun, dan sisanya ke obligasi korporasi serta instrumen keuangan lainnya. Meskipun pasar saham belum menarik secara inflow namun beberapa perbaikan kinerja dari fundamental dalam negeri saat ini dapat menjadi trigger bagi optimisme pada pasar saham.

Bank Indonesia melaporkan kinerja current account deficit yang lebih rendah dari periode sebelumnya. Dimana pada kuartal III CAD menjadi 2.66% - 2.7% hal tersebut lebih baik dari kuartal II dimana CAD berada pada 2.98% - 3% dari PDB. Sehingga deficit anggaran lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang berada pada US$ 2.0 miliar.

Perbaikan pada ekspor dan impor masih mencatat perlambatan pertumbuhan karena didorong oleh pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang lebih lambat. Dengan harapan konsumsi dan investasi berbagai proyek strategis dapat selesai pada kuartal IV, pertumbuhan dan daya beli masyarakat diharapkan dapat lebih baik, sehingga menjadi penopang pertumbuhan selama tahun 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA