Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Washington DC, Amerika Serikat. (Skeeze/Pixabay)

Washington DC, Amerika Serikat. (Skeeze/Pixabay)

Fokus Pasar: Langkah Tiongkok Menuju Washington

Thereis Love Kalla, Selasa, 24 September 2019 | 09:41 WIB

JAKARTA, investor.id – Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Liu He dikabarkan bakal menuju ke Washington, Amerika Serikat (AS) pada pekan depan untuk mengadakan pembicaraan perdagangan bersama Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin. Liu He berencana untuk mengunjungi peternakan pada pertemuan antara AS dan Tiongkok pada Oktober nanti, setelah konferensi tingkat tinggi yang akan diadakan pada 10 Oktober.

Adapun kunjungan ini merupakan kunjungan yang telah dijadwalkan ulang. Sebelumnya, rencana pertemuan Liu He dibatalkan oleh Mnuchin. Mnuchin beralasan tidak ingin ada kebingungan tentang masalah harga perdagangan, sehingga dia memilih untuk membatalkan pertemuan tersebut dan menjadwalkan ulang.

“Harapan ini menjadi sesuatu yang sangat penting karena bisa memberikan potensi bahwa akan ada kesepakatan, meskipun kesepakatan dalam jumlah kecil,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Selasa (24/9).

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebenarnya menginginkan agar pembelian produk pertanian oleh Tiongkok dapat dilaksanakan lebih cepat. “Kami harus membawa Tiongkok ke sana segera mungkin agar Tiongkok dapat memulai membeli,” ungkap Trump.

Sejauh ini, data ekonomi seperti ManufactureServices, dan Composite PMI yang diyakini memberikan sinyal resesi di AS mungkin bisa dianggap berlebihan. “Karena data yang keluar justru memberikan sinyal yang positif bahwa ekonomi AS masih bisa berjalan stabil,” ungkap Pilarmas Sekuritas.

Kendati demikian, meskipun data yang keluar menunjukkan hasil positif, Presiden The Fed untuk St. Louis James Bullard mengatakan, mungkin perlu melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut untuk mengimbangi resiko konflik perang dagang dan inflasi yang terlalu rendah.

Hingga saat ini, seluruh bank sentral di dunia sudah mulai bergerak ke arah yang sama, yaitu pelonggaran moneter yang bertujuan untuk memberikan stimulus terhadap perekonomian di negaranya masing-masing.

“Pertanyaannya adalah, ketika kebijakan moneter tidak lagi memberikan pengaruh yang besar, apakah akan ada stimulus dari kebijakan fiskal? Hal ini tentu patut kita nantikan, karena kombinasi keduanya tentu akan memberikan impact yang lebih besar,” tandas Pilarmas Sekuritas.

Sementara itu, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde, menyatakan, penetapan tarif oleh AS dan Tiongkok pada 1 November berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi global 2020 turun 0,8%. Christine menambahkan, saat ini, perang dagang merupakan salah satu ancaman terbesar bagi ekonomi global.

“Semakin lama ini terjadi, akan semakin besar ketidakpastian yang akan muncul. Dan, ketika Anda merupakan salah satu perusahaan, baik kecil, menengah, maupun besar, Anda tentu tidak akan berinvestasi,” imbuhnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA