Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja melintasi layar pergerakan saham di galeri BEI, Jakarta. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Pekerja melintasi layar pergerakan saham di galeri BEI, Jakarta. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Fokus Pasar: Mencari Titik Temu Kesepakatan Amerika dan Tiongkok

Nabil Al Faruq, Jumat, 6 Desember 2019 | 10:19 WIB

JAKARTA, Investor.id — Pejabat Tiongkok masih melanjutkan kontak secara intens dengan pejabat Amerika Serikat (AS) guna merampungkan kesepakatan perdagangan tahap pertama. AS didesak untuk memangkas tarif produk  dari Tiongkok secara proporsional. Penguarangan tarif tersebut bagian dari perjanjian kesepkatan tahap pertama.

Di tengah usaha untuk mencapai kesepakatan, AS justru berjanji untuk memberikan tarif tambahan kepada Tiongkok, apabila tidak negara Tirai Bambu tersebut tidak bersedia menandatangani kesepakatan pada 15 Desember nanti.

Meski beritanya belum begitu positif, hal tersebut setidaknya telah berimbas positif terhadap pasar saham di Asia dan Eropa, karena adanya progress yang dihasilkan antara AS dan Tiongkok. “Meskipun demikian kami melihat AS tetap masih memiliki daya tawar tinggi ditengah kesepakatan perdagangan antara kedua negara,” ujar Pilarmas Sekuritas dalam keterangan resmi, Jumat (6/12).

Selain itu, defisit perdagangan AS dan Tiongkok telah mengecil dan terus menerus mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Impor barang Tiongkok menuju AS mengalami penurunan sebesar 4,8% dari bulan sebelumnya dan ekspor mengalami penurunan 17%.

Hal tersebut merupakan yang terendah dalam kurun waktu 1 tahun. Secara keseluruhan sampai dengan saat ini defisit perdagangan antara AS dan Tiongkok kian mengecil menjadi US$ 47,2 miliar pada Oktober tahun ini.

“Kami melihat hal ini akan menjadi salah satu tolok ukur bagi Amerika bahwa apa yang dilakukannya telah terbukti benar, dan ketika apa yang dilakukan oleh Trump benar adanya, maka Trump akan melakukan hal yang sama dengan Negara lainnya,” jelas Pilarmas Sekuritas.

Disisi lain pertumbuhan ekonomi India saat ini merupakan yang terendah sejak tahun 2014. Ekonomi India tumbuh hanya 4,5% untuk periode Juli – September, dan ini merupakan perlambatan untuk kuartal ke 6 berturut turut karena konsumsi lokal yang terus memburuk, bank yang bermasalah serta prospek ekonomi global yang kian melemah ke depannya.

Meskipun demikian, pasar ekuitas India Index Sensex S&P BSE terus melonjak naik sebanyak 13% dari level terendah sejak 19 September lalu. “Memang benar pertumbuhan ekonomi terus mengalami perlambatan, namun kami melihat bahwa India bisa menjadi primadona tahun depan,” tulis Pilarmas Sekuritas.

Pilarmas Sekuritas menambahkan, Perdana Menteri India Narendra Modi terus menerus mengambil langkah untuk menghidupkan kembali pertumbuhan dari level terendah dalam kurun waktu 6 tahun.

Pada bulan September lalu, Modi memangkas tarif pajak perusahaan, melonggarkan aturan investasi asing dibidang ritel, manufakture, dan pertambangan batu bara, serta mulai menggabungkan 10 bank Milik Negara untuk menciptakan 4 pemberi pinjaman besar.

Pada tahun ini Bank Sentral India juga telah memangkas tingkat suku bunganya sebanyak 5 kali, meskipun masih harus menahan diri untuk tidak mengalami penurunan lebih lanjut.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA