Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang investor memantau jalannya pergerakan saham melalui smartphone, Jakarta, belum lama ini.  Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Uthan AR

Seorang investor memantau jalannya pergerakan saham melalui smartphone, Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritasatuPhoto/Uthan AR

Fokus Pasar: Mengharapkan Konsistensi Tiongkok dalam Kesepakatan Dagang

Ghafur Fadillah, (elly_id)  Senin, 20 Januari 2020 | 10:01 WIB

JAKARTA - Pada akhirnya Amerika Serikat dan Tiongkok berhasil mencapai kata sepakat setelah sekian lama berseteru terkait perdagangan yang menyebabkan fluktuasi di pasar global.

Analis Pilarmas Sekuritas menjelaskan, penandatanganan kesepakatan  tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar global. Hal itu terlihat  dengan naiknya beberapa indeks global hingga rekor tertingginya sepanjang masa.

Menurut Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan selesai kesepakatan dagang ini diharapkan dapat memperbaiki ketidakadilan pada transaksi perdagangan di masa lalu. Disisi lain Presiden Tiongkok, Xi Jinping mengatakan, kesepakatan ini menunjukkan kepada dunia bahwa AS dan Tiongkok dapat bekerja sama menjembatani perbedaan.

"Kesepakatan fase pertama ini cukup menjadi sentimen positif bagi pasar, meskipun beberapa detail masih belum disepakati, yang kedepanya akan dilanjutkan dalam kesepakatan tahap ke 2," Jelas Pilarmas dalam keterangan resmi, Senin (20/01).

Namun Trump kembali mengatakan bahwa Amerika akan tetap mempertahankan tarif sekitar 2/3 terhadap impor dari Tiongkok. Hal ini dipercaya sebagai salah satu daya tawar menghadapi negosiasi kesepakatan tahap ke 2 nanti. 

Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang mengatakan bahwa Tiongkok dan Amerika harus terus mengakomodasi point point utama saat berusaha untuk menjalankan fase pertama.

Geng Shuang menambahkan bahwa kedua belah pihak harus bekerja bersama dalam semangat kesetaraan dan saling menghormati untuk menjaga perjanjian perdagangan dan mengimplementasikan perjanjian kesepakatan fase pertama. 

Robert Lighthizer mengatakan AS saat ini akan fokus terhadap implementasi perjanjian dalam jangka waktu pendek. Sejauh ini kelompok bisnis di AS menyambut baik kesepakatan tahap pertama, dan Kamar Dagang Amerika berharap bahwa kedua belah pihak dapat memulai negosiasi pada fase kedua sesegera mungkin. 

"Tentu saja kami berharap bahwa kesepakatan tahap pertama ini menjadi salah satu point yang sangat penting bagi para pelaku pasar, namun sampai keduanya mengimplementasikan kesepakatan tersebut, para investor diharapkan tetap berhati-hati," Jelas Pilarmas

Sejauh ini Pemerintahan Trump juga mengatakan bahwa kesepakatan Amerika dan Tiongkok merupakan sesuatu hal yang berbeda dengan kesepakatan biasanya. Apabila Tiongkok tidak menjalankan komitmennya, maka Pemerintah Amerika bergerak untuk memberikan sanksi kepada Tiongkok dengan tarif atau tindakan lain dalam kurun waktu 90 hari, lebih cepat dari system yang selama ini dijalankan oleh WTO. 

Robert pun mengatakan bahwa efektivitas mekanisme kesepakatan ini akan bergantung kepada Tiongkok. Kesepakatan tahap pertama merupakan sesuatu yang unik, karena begitu luasnya komitmen pembelian oleh Tiongkok, hal tersebut dinilai kritikus di Amerika sebagai hal yang tidak nyaman.

Pilarmas menjelaskan, dalam perjanjian tersebut Tiongkok diwajibkan melakukan pembelian sebesar $77.7 miliar tambahan produk manufaktur termasuk pesawat terbang $32 miliar, produk pertanian baru $52.4 miliar, energi $37.9 miliar hal ini akan dilakukan selama 2 tahun hingga Desember 2021. Atas hal ini, ekspor pertanian Amerika kepada Tiongkok akan mengalami peningkatan mulai dari $40 miliar hingga $50 miliar, yang dimana sebelumnya hanyalah berkisar $24 miliar.

"Tentu kami berharap bahwa hal ini akan dijalani dengan konsistensi oleh Tiongkok, sehingga kesepakatan ini akan menjadi hal yang patut kita nantikan selama ini," paparnya.

Insentif ESDM

Beralih ke dalam negeri, Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) mengkaji usulan pemberian insentif baru yang tujuannya untuk DME. Kajian tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan terkait insentif fiskal dan non fiskal. 

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan bahwa bisa jadi insentif akan diberikan di level hulu, yakni produksi batu bara. Kami melihat insentif tersebut dinilai dapat memberikan dampak pada bahan baku yang lebih murah, dimana insentif pajak dapat mengurangi royalti dan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN