Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Suasana bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Fokus Pasar: Neraca Perdagangan Indonesia Alami Tren Surplus

Rabu, 16 September 2020 | 09:12 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  — Indonesia kembali mengalami tren surplus neraca perdagangan pada Agustus 2020 di tengah tekanan pandemi Covid-19. Hal ini terlihat dari data BPS yang menunjukkan neraca perdagangan mempereloh sebesar US$ 2,33 miliar, lebih rendah dari sebelumnya, yakni US$ 3,26 miliar pada Juli 2020.

Pilarmas Sekuritas mengatakan, mengacu pada data tersebut, posisi nilai ekspor tercatat sejumlah US$ 13,07 miliar lebih tinggi apabila dibandingkan dengan impor yang membukukan US$ 10,74 miliar selama Agustus 2020.

BPS juga melaporkan ekspor Juli 2020 mencapai US$ 13,07 miliar atau turun 4,62%. Kemudian, hal yang sama juga terjadi pada ekspor secara tahunan mengalami penurunan 8,36% pada Agustus 2019.

“Kami melihat hal tersebut dipicu oleh penurunan ekspor migas dan nonmigas secara tahunan yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 27,23% dan 7,16%. Secara kumulatif, ekspor Indonesia pada periode Januari-Agustus 2020 tercatat senilai US$ 103,16 miliar atau turun 6,51% YoY,” tulis Pilarmas Sekuritas dalam riset harian di Jakarta, Rabu (16/9).

Pilarmas menambahkan, pihaknya menilai penurunan tersebut disebabkan oleh permintaan negara lain yang masih lemah dan diikuti dengan aktivitas ekonomi yang belum berjalan dengan normal.

Sementara itu, impor Indonesia sepanjang Agustus 2020 mencapai US$ 10,74 miliar atau naik 2,65% dari Juli 2020. Kenaikan terjadi karena ada pertumbuhan impor non migas dan migas masing-masing 2,65% dan 3,01%. Sebaliknya, impor secara tahunan dilaporkan  turun 24,19% yang disumbangkan oleh penurunan dari impor migas dan nonmigas.

“Penurunan dari impor yang terjadi saat ini dapat dikatakan baik untuk sementara, namun menurunnya kontribusi impor dari bahan baku dapat menandakan turunnya aktivitas produksi dalam negeri,” ujar dia.

Di sisi lain, Asian Development Bank (ADB) mengumumkan bahwa perekonomian negara berkembang di Asia yang dilanda wabah virus corona akan mengalami penurunan untuk pertama kalinya sejak awal tahun 1960 dengan tingkat output pada tahun depan yang masih di bawah proyeksi pra pandemic.

ADB meyebutkan bahwa GDP akan mengalami penurunan hingga 0,7% pada tahun 2020. Kontraksi ini merupakan yang pertama sejak tahun 1962, hal ini tentu disebabkan oleh wabah virus corona yang menyebabkan penurunan terjadi.

Penurunan di wilayah Asia akan berkembang lebih luas daripada krisis sebelumnya, dengan ¾ perekonomian di Kawasan Asia akan mengalami penurunan tahun ini.

Sejauh ini Tiongkok masih akan terus mencoba untuk melawan trend pelemahan dan diperkirakan akan mengalami kenaikkan hingga 1,8% pada tahun ini, proyeksi tersebut tidak berubah dari bulan Juni lalu karena langkah-langkah yang diambil oleh Tiongkok terkait dengan kesehatan mendorong terjadinya pertumbuhan.

Pertumbuhan Tiongkok sendiri diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 7,7% pada tahun 2021, proyeksi tersebut naik dari sebelumnya yang hanya diperkirakan 7,4%. Sedangkan untuk India akan mengalami penurunan sebanyak 9%, turun lebih dalam dari yang diperkirakan pada bulan Juni sebesar 4%. Filipina diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 7,3%, dan Thailand sebesar 8%.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN