Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sejumlah pengunjung berada di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Sejumlah pengunjung berada di gedung BEI, Jakarta, belum lama ini. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Fokus Pasar: Perang Dagang dan Suku Bunga 3 Negara Asia Pasifik

Kamis, 8 Agustus 2019 | 11:25 WIB
Thereis Love Kalla (thereis.kalla@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berlarut -larut memberikan dampak yang cukup besar untuk terjadinya resesi global. Salah satu dampaknya menyebabkan pemotongan tingkat suku bunga di beberapa Negara Asia Pasifik seperti, Selandia Baru, India, dan Thailand.

Turunnya tingkat suku bunga Selandia Baru sebesar 50bps, diikuti Thailand sebesar 25bps, dan terakhir Bank Sentral India yang memangkas sebesar 35bps. “Hal ini menandakan bahwa harus ada stimulus ekonomi dari kebijakan moneter ditengah tengah tekanan akan perang dagang tersebut,” ungkap Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya Kamis (8/8).

Adapun penurunan tingkat suku bunga di tiga negara tersebut mendapat perhatian dari Presiden AS Donald Trump  untuk dijadikan sebagai alasan untuk menyerang The Fed. Trump mengatakan bahwa The Fed harus melakukan pemotongan tingkat suku bunga lebih besar dan lebih cepat.

“Masalah kami bukan berada di Tiongkok, melainkan kami lebih kuat daripada sebelumnya, yang dimana uang terus mengalir ke Amerika sementara Tiongkok kehilangan ribuan perusahaan dan pergi ke negara lain,” tegas Trump.

Kekhawatiran global akibat perang dagang antara kedua negara tersebut masih akan terus menghantui hingga akhir bulan ini, dengan tensi yang terus meningkat. “Ada harapan bahwa pertemuan dibulan September akan membawa kebaikan, namun kami melihat jangan terlalu banyak berharap, karena akan menyakitkan bagi kita yang mengharapkan. Selama tidak ada keinginan untuk saling mengalah satu sama lain, kesepakatan itu hanyalah angan-angan saja,” sebut Pilarmas.

Selain itu tindakan Trump mengindikasikan agar The Fed melakukan untuk melakukan pemangkasan tingkat suku bunga untuk yang kedua kalinya di tahun ini. Sementara itu Ketua The Fed untuk St. Louis James Bullard mengatakan bahwa kebijakan moneter di Amerika tidak dapat ditentukan oleh negosiasi perdagangan yang dilakukan setiap hari. “Kami melihat ada potensi untuk pemangkasan kembali 25bps untuk tahun ini,” ungkap Pilarmas.

Sementara itu Bank Indonesia (BI) pada akhirnya angkat bicara mengenai situasi dan kondisi saat ini. Deputi Gubernur Bank Indonesia kemarin mengatakan bahwa siklus pelonggaran di Indonesia akan berlangsung lama karena pembuat kebijakan tetap waspada terhadap ekonomi global yang kemungkinan akan memburuk.

Bank Indonesia akan tetap melakukan campuran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk tetap fokus menjaga stabilitas. Tentunya kebijakan ini juga ditujukan untuk mendukung likuiditas domestik. “Cadangan Devisa yang meningkat juga menjadi bantalan yang cukup empuk untuk saat ini untuk menahan tekanan global,” sebut Pilarmas.

Editor : Elly Rahmawati (ely_rahmawati@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN