Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Papan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Papan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Fokus Pasar: Pertumbuhan Ekonomi Dunia dan Neraca Perdagangan RI

Nabil Al Faruq, Rabu, 16 Oktober 2019 | 11:25 WIB

JAKARTA, investor.id – International Monetary Fund (IMF) terus memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini. Tercatat, IMF sudah memangkasnya sebanyak lima kali.

Sebelumnya, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,2% menjadi 3%. Untuk tahun 2020 juga dipangkas dari 3,5% menjadi 3,4%. Hal tersebut disampaikan dalam Market Outlook Global, baru-baru ini. “Pertumbuhan ini merupakan yang terlemah sejak 2009 ketika ekonomi global mengalami pelemahan,” sebut Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Rabu (16/10).

Dengan perlambatan ekonomi global yang dihubungkan dengan situasi dan kondisi pemulihan yang tidak pasti, prospek pertumbuhan global masih tetap berisiko. IMF juga menyampaikan bahwa tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan dalam membuat kebijakan untuk secara kooperatif meningkatkan perdagangan dan meredakan ketegangan geopolitik.

Selain itu, penurunan dalam pertumbuhan yang didorong oleh penurunan aktivitas manufaktur dan perdagangan global, serta kenaikan tarif yang lebih tinggi dan disertai dengan ketidakpastian kebijakan perdagangan yang berkepanjangan akan merusak investasi dan permintaan barang modal.

Pada 2020, meskipun diperkirakan masih melambat, namun pertumbuhan ekonomi kemungkinan ditopang oleh ekspektasi kinerja yang lebih baik dari Brasil, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, dan Turki.

Sementara itu, Tiongkok menginginkan diskusi secara mendalam sebelum menandatangani kesepakatan fase pertama dengan Amerika Serikat (AS) terkait perdagangan. Hingga saat ini, pembicaraan tersebut masih belum jelas akan dilakukan di mana. Namun, Tiongkok diperkirakan akan mengirim Wakil PM Tiongkok Liu He untuk menyelesaikan perjanjian fase pertama dari perjanjian perdagangan.

Selain itu, Tiongkok juga menginginkan AS membatalkan kenaikan tarif yang telah dijadwalkan pada Desember. Meskipun demikian, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan bahwa dirinya mengarapkan para pejabat dapat bekerja dalam beberapa minggu mendatang untuk menyiapkan fase pertama agar secepatnya bisa ditandatangani.

Di satu sisi, Presiden Bank Sentral The Fed St. Louis James Bullard mengatakan, perdagangan global dan resiko lainnya masih tetap tinggi untuk ekonomi AS yang mungkin akan melambat lebih dalam dari yang diperkirakan. Pada akhirnya, The Fed dapat memilih untuk menyediakan akomodasi tambahan di masa depan, namun keputusan akan dibuat berdasarkan pertemuan berikutnya.

Di dalam Negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa neraca perdagangan Indonesia per September 2019 mengalami defisit sebesar US$ 160 juta. Nilai ekspor RI masih lebih rendah ketimbang impor.

Lebih lanjut BPS menyatakan, sepanjang Agustus-September 2019, harga komoditas terpantau berfluktuasi. Ada beberapa komoditas non-migas yang mengalami peningkatan harga, yang kemudian mempengaruhi nilai ekspor-impor. Barang seperti konsumsi mengalami kenaikan baik bulanan dan tahunan.

Meningkatnya impor konsumsi disebabkan oleh kenaikan permintaan kendaraan seperti daging beku, mobil sport, dan bahan kimia. Sedangkan untuk bahan baku terjadi penurunan impor karena permintaan yang turun. Komoditas yang turun salah satunya raw sugar dari Thailand. Dari sektor barang modal terjadi kenaikan dibandingkan bulan lalu dan penurunan jika dibandingkan tahun lalu.

Menurut Pilarmas, sentimen perang dagang juga turut mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Dari perkembangan selama Agustus-September 2019, dimana situasi perekonomian global masih diliputi ketidakpastian, perang dagang yang berlangsung kadang adem, kadang tidak menentu, dan harga komoditas yang berfluktuasi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA