Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja bursa Asia, Selasa (26/11/2019). Sumber: BSTV

Kinerja bursa Asia, Selasa (26/11/2019). Sumber: BSTV

Fokus Pasar: Pidato Powel menunjukan Optimisme The Fed

Nabil Al Faruq, Rabu, 27 November 2019 | 09:58 WIB

JAKARTA, investor.id — Ketua Federal Reserve Jerome Powell dalam pidatonya merasa optimistis terhadap kemampuan pembuat kebijakan untuk memperpanjang fase ekspansi ekonomi di Amerika. Ia juga mengindikasikan bahwa tingkat suku bunga The Fed akan ditahan.

Powel mengatakan ekspansi Amerika tersebut ibarat gelas sudah terisi lebih dari setengah air. “Dengan kebijakan yang tepat, kita dapat terus mengisinya, dan membangun keuntungan serta menyebarkan manfaat yang lebih luas terhadap masyarakat di Amerika,” ujarnya, di Jakarta, Rabu (27/11).

The Fed melihat kebijakan moneter saat ini sepertinya tidak akan berubah, selama informasi mengenai data ekonomi yang masuk terus konsisten dengan target prospek mendukung pasar tenaga kerja yang kuat dan tentunya mengembalikan inflasi ke target simetris yaitu 2%.

Inflasi merupakan salah satu tujuan dari The Fed. Powell menambahkan bahwa ekspektasi inflasi yang rendah akan membuat The Fed lebih sulit untuk mendukung ekonomi. Kami terus berkomitmen untuk mencapai sasaran inflasi sebesar 2% secara simetris dan berkelanjutan, sehingga dalam membuat rencana jangka panjang, rumah tangga, dan bisnis dapat mendukung tercapainya inflasi 2%.

Sementara itu, Pejabat The Fed lainnya juga menyarankan The Fed untuk membuat komitmen yang lebih tegas untuk tidak menaikkan suku bunga sampai tujuannya tercapai.

Pilarmas Sekuritas menilai, The Fed juga tidak akan mengubah kebijakan apapun dalam waktu dekat. Namun, bukan berarti The Fed menutup mata. The Fed siap untuk menyesuaikan kebijakan apabila ternyata ada perubahan secara material yang artinya ada perubahan yang memberikan implikasi kepada prospek ekonominya.

Disisi lain, hubungan antara Amerika dan Tiongkok kembali diperlihatkan harmonis. Kedua negara sepakat untuk menyelesaikan beberapa permasalahan dan setuju untuk terus menjalin kontak untuk menyelesaikan permasalahan yang tersisa dalam kesepakatan perdagangan fase pertama.

Baru baru ini kedua belah pihak membuat konsesi mengenai masalah impor makanan, hak kekayaan intelektual, dan Huawei Technologies. Liu He Kepala Negosiator Tiongkok mengatakan bahwa dirinya sangat optimis untuk menyelesaikan kesepakatan fase pertama.

Ekonomi Afrika

Lebih lanjut, IMF dan S&P Global Ratings telah mewanti-wanti Afrika Selatan. Pertumbuhan ekonomi dengan memburuknya situasi utang, dan hambatan besar bagi BUMN telah mendorong IMF dan S&P mendesak Afrika Selatan untuk mengadakan reformasi ekonomi yang mendesak.

Dalam laporannya, IMF mengatakan bahwa kebijakan yang ada saat ini akan membuat prospek pertumbuhan ekonomi dalam jangka waktu menengah akan tetap lemah, yang disertai dengan melemahnya inflasi. Ditambah lagi dengan adanya peningkatan populasi usia kerja akan membuat GDP menjadi lebih rendah serta lapangan kerja yang minim.

Pada hari Jumat lalu, S&P Global Ratings telah menurunkan peringkat Afrika Selatan menjadi negatif, dari sebelumnya stabil yang dimana hal ini disebabkan oleh meningkatnya beban utang, defisit fiskal, dan pertumbuhan GDP yang rendah.

Pertumbuhan GDP akan berada di 0.6% tahun ini, turun dari yang diharapkan sebelumnya sekitar 1% pada bulan May, sementara itu penggangguran berada pada level tertinggi dalam kurun waktu 16 tahun sebesar 29%.

Pilarmas Sekuritas melihat hal tersebut akan menjadi sentimen yang kurang baik bagi pasar emerging market, sehingga tidak terkecuali Indonesia sedikit banyak akan terkena dampaknya. Bukan dalam arti fundamental, namun dalam artian sentiment dan sensitivitas yang ada di pasar. 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA