Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Fokus Pasar: PPKM, Vaksinasi dan Proyeksi Ekonomi Global

Senin, 26 Juli 2021 | 08:44 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pelaku pasar awal pekan ini memperhatikan proyeksi Bank Indonesia (BI) yang menyatakan perekonomian global akan tumbuh 5,8%, lebih tinggi dari sebelumnya yakni 5,7%.

Hal itu ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan negara di kawasan Eropa, akibat percepatan vaksinasi dan stimulus fiskal.

Dalam riset harianya Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan terus berlanjut di tahun ini.

Sejalan dengan itu, volume perdagangan dan harga komoditas dunia diperkirakan lebih tinggi sehingga akan mendukung kinerja ekspor di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sedangkan, negara Asean dan sekitarnya, ekonomi diproyeksikan lebih rendah dari sebelumnya akibat kebijakan pembatasan sosial. Untuk Indonesia, proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik 2021 turun dari 4,1% - 5,1% menjadi 3,5% - 4,3%.

Menurut Pilarmas, proyeksi itu bisa berubah asal pergerakan mobilitas masyarakat bisa kembali normal dibarengi dengan peningkatan vaksinasi Covid-19 dan berlanjutnya stimulus fiskal dan moneter, serta meningkatnya kinerja ekspor.

“PPKM yang diperpanjang lambat laun akan berdampak terhadap pasar secara keseluruhan,” jelasnya, Senin (26/7).

Adapun untuk para investor, Pilarmas menyarankan untuk mencermati ketidakpastian pasar keuangan global yang masih terus mengalami peningkatan karena penyebaran Covid-19 dan adanya rencana tapering oleh the Fed.

“Kondisi ini menyebabkan investor mengalihkan modalnya ke aset yang lebih aman sehingga aliran modal asing ke emerging market menjadi terhambat dan nilai tukar di negara tersebut pun menjadi tertekan,” ujarnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN