Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Monitor indeks saham di salah satu galeri sekuritas Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Monitor indeks saham di salah satu galeri sekuritas Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Fokus Pasar: Rendahnya Realisasi Anggaran PEN

Rabu, 19 Mei 2021 | 08:11 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Fokus pasar pada hari ini tertuju pada realisasi serapan anggaran program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang dinilai masih rendah. Berdasarkan data yang dirilis oleh pemerintah hingga 11 Mei 2021, hanya Rp 172,35 triliun yang baru terserap atau 24,6% dari total pagu yakni berjumlah Rp 699,43 triliun.

Dalam riset harian Pilarmas Sekuritas terungkap secara rinci, serapan terkecil terjadi pada sektor kesehatan yakni sebanyak Rp 24,9 triliun dari anggaran penuh yang disediakan Rp 175,22 triliun. Kemudian, program prioritas mencapai Rp 21,8 triliun atau sebesar 17,6% dari pagu Rp 123,67 triliun.

Selanjutnya, realisasi anggaran untuk mendukung UMKM dan korporasi telah mencapai Rp 42,03 triliun atau 21,7% dari pagu Rp 193,53 triliun. Pemerintah juga mencatat realisasi anggaran untuk pos perlindungan sosial telah mencapai Rp 56,79 triliun atau sebesar 37,8% dari pagu Rp 150,28 triliun. Terakhir, realisasi anggaran untuk insentif usaha tercatat sebesar Rp 26,83 triliun atau 47,3% dari pagu sebesar Rp 56,72 triliun.

Pilarmas menilai, rendahnya realisasi tersebut tentunya akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam berinvestasi. Terlebih saat ini sektor kesehatan dan program prioritas masih membutuhkan dorongan agar mampu menopang pemulihan ekonomi di tahun 2021.

“Jika mengacu pada pelaksanaan tahun lalu, tidak optimalnya perencanaan dan realisasi anggaran PEN menjadi salah satu penghambat proses pemulihan ekonomi, di samping tren penyebaran Covid-19 yang cenderung tidak menentu,” jelas Pilarmas.

Hal tersebut, lanjut Pilarmas, terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi pada kuartal-II yang diproyeksikan bertumbuh positif akibat kenaikan harga komoditas yang menjadi trigger terhadap peningkatan perolehan ekspor.

Pemerintah perlu menyelesaikan hambatan terkait dengan implementasi program PEN, khususnya di bidang kesehatan tersebut. Di sisi lain, distribusi vaksin yang masih lambat serta penanganan pandemi yang kurang tegas dinilai akan mempengaruhi kepercayaan diri dari pelaku pasar.

“Apabila kondisi ini terus berlanjut dikhawatirkan, masyarakat akan kembali menunda konsumsi yang dapat berdampak buruk pada pertumbuhan ekonomi baik dalam jangka pendek maupun panjang,” terang Pilarmas.

Fokus utamanya adalah mendorong setiap sisi fase pemulihan agar dapat menopang perekonomian untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil. Namun itu semua kembali lagi kepada pemerintah, sejauh apa pemerintah mempertahankan trend positif, sejauh itu pula keyakinan masyarakat akan tetap melakukan konsumsi. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN