Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang karyawan berfoto di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daiy/DAVID GITA ROZA

Seorang karyawan berfoto di galeri BEI, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daiy/DAVID GITA ROZA

Fokus Pasar: Strategi Tiongkok Pulihkan Ekonomi hingga RUU BI

Senin, 21 September 2020 | 10:11 WIB
Ghafur Fadillah

JAKARTA, investor.id - Pasca pandemi, negara Tirai Bambu Tiongkok menyiapkan berbagai strategi untuk pemulihan ekonominya dimulai dari peningkatan cadangan minyak mentah, komoditas logam hingga pertanian.

Sebagai langkah pertama, Tiongkok sedang mempertimbangkan proposal untuk mempercepat pengadopsian energi bersih, karena sejauh ini di seluruh dunia mulai mengurangi emisi gas rumah kaca dan memperoleh 20% penggunaan energi primernya dari bahan bakar non fosil pada tahun 2030 nanti.

Sejalan dengan keinginan Tiongkok untuk memangkas pasar batubaranya dalam bauran energi menjadi 52% pada tahun 2025, dari sebelumnya 57.5% yang telah direncanakan sebelumnya pada akhir tahun ini.

Adapun Tiongkok saat ini menargetkan dapat mengumpulkan cadangan minyak setara dengan 90 hari impor bersih yang dapat diperluas hingga 180 hari.

Kendati demikian Sekretaris Jenderal Aliansi Pembiayaan dan Investasi Energi Terbarukan, Peng Peng menjelaskan meski energi terbarukan dapat mengurangi pemakaian energi kotor seperti Batubara, hal tersebut belum tentu berarti bahwa konsumsi bahan bakar fosil akan mengalami penurunan, karena total kebutuhan listrik akan mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan ekonomi.

Sehingga Tiongkok tetap akan menjadi penambang dan konsumen batu bara terbesar di dunia, bahkan pada data terbarunya porsi bahan bakar non fosil mengalami kenaikkan hingga 15.3% pada tahun 2019, di atas dari target yang sudah ditetapkan sebelumnya.

“Langkah yang dilakukan Tiongkok ini pada masa yang akan datang akan mempengaruhi tingkat ekspor batubara ke TIongkok, dari sisi pemerintah sendiri diharapkan sudah mengantisipasi rencana ini agar dapat menjaga pasar ekspor,” jelas Pilarmas dalam risetnya, Senin (21/9).

Sementara itu Pilarmas Sekuritas mengatakan Bank Indonesia belum lama ini dikabarkan akan menjadi pengawas industri perbankan, adapun kabar ini akan diwujudkan dalam payung hukum yang saat ini sedang dipersiapkan dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang perubahan UU nomor 23/1999 tentang Bank Indonesia.

Meskipun pemerintah belum memutuskan RUU tersebut, dalam RUU ini mengatakan  bahwa untuk mewujudkan Bank Indonesia sebagai bank sentral sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, perlu dilakukan penataan kembali terhadap Bank Indonesia agar mampu menetapkan kebijakan moneter secara menyeluruh dan terkoordinasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat, mengatasi situasi darurat yang dapat membahayakan ekonomi negara dan menjawab tantangan perekonomian ke depan dalam menghadapi globalisasi ekonomi.

Pilarmas Sekuritas menilai kabar ini dapat menjadi sentimen negatif yang menggoyahkan minat para pelaku pasar untuk berinvestasi, ditambah dengan kebijakan moneter yang dinilai belum cukup kuat untuk mendorong perekonomian, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Dengan adanya kabari ini kami memprediksikan dapat terjadi Capital Outflow yang dilakukan oleh para investor, kami menilai apakah revisi undang-undang tidak diperlukan di tengah fokus pemerintah saat ini yakni pemulihan ekonomi akibat pandemi,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN