Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell. ( Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP )

FOKUS PASAR:

Fokus Pasar: The Fed, Stimulus India, dan Defisit Anggaran Indonesia

Ghafur Fadillah, Kamis, 2 April 2020 | 09:54 WIB

JAKARTA, investor.id -The Fed mengumumkan membuka fasilitas repo kepada Bank Sentral Asing untuk mendukung dalam pasar keuangan yang memungkinkan para peserta menukar US Treasury dengan US Dollar, program tersebut akan dimulai 6 April.

Langkah yang dilakukan The Fed tersebut diambil untuk memastikan likuiditas mata uang US$ agar tetap stabil dan untuk membantu mengurangi kebutuhan Bank Sentral untuk menjual US Treasury-nya ke dalam pasar yang kurang likuid, tidak hanya itu saja fasilitas ini akan membantu menstabilkan perdagangan dalam bentuk aset yang paling aman di dunia.

Pilarmas menjelaskan data terakhir menyebutkan entitas asing memiliki sekitar US$6.86 triliun, dengan lima Bank Sentral Asing telah memiliki jalur swap permanen dengan The Fed dan sembilan Bank Sentral tambahan yang sudah masuk kriteria penerima program walaupun status tersebut masih dapat berubah.

"Fasilitas tersebut juga pastinya akan mendukung pasar dalam negeri dalam bentuk US Dollar sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pasar yang lebih luas, dengan stabilnya pasar dollar tentu akan mendorong situasi dan kondisi ekonomi yang dapat menguntungkan Amerika melalui lebih banyak channel yang bisa didapat, termasuk kepercayaan dan perdagangan," jelas Pilarmas dalam keterangan resmi, Kamis (2/4).

Beralih pada benua Asia, baru-baru ini India mengumumkan stimulus tahap pertama sejumlah INR 4,88 Triliun Rupee atau $64.5 miliar adapun realisasi rencana tersebut jauh di bawah rencana sebelumnya yakni INR 7,8 triliun dan memutuskan tidak menaikkan biaya pinjaman yang akan datang sebagai salah satu stimulus ke dalam pasar keuangan.

Sebelumnya Menteri Keuangan India, Nirmala Sitharaman telah meluncurkan paket 1.7 triliun Rupee untuk bagian yang kena dampak sebelumnya dan telah memberikan isyarat untuk menerapkan langkah lanjutan.

Selain itu Bank Sentral India telah memangkas 75 bps tingkat suku bunganya dan menyuntikkan 400 miliar rupee dalam bentuk tunai melalui operasi pasar terbuka yang diadakan pada bulan Maret lalu.

Pilarmas mengatakan saat ini para pelaku pasar dan investor mengharapkan paket stimulus yang lebih besar kepada sektor-sektor pariwisata dan transportasi massal seperti penerbangan dan travel yang terdampak secara langsung.

"Di tengah kondisi lockdown yang mereka lakukan, Pemerintah India masih memberikan stimulus yang jauh dari harapan. Hal ini akan membuat guncangan kepada para masyarakat yang mendapatkan penghasilan secara harian. Apabila hal seperti ini terus berlanjut, tentu implikasi berikutnya adalah guncangan sosial yang akan terjadi di masyarakat," papar Pilarmas.

Donald Trump. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )
Donald Trump. ( Foto: Fabrice COFFRINI / AFP )

Kemudian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memprediksi tingkat kematian warga negara Amerika oleh Coronavirus/Covid-19 akan terus meningkat setiap harinya hingga pertengahan bulan Juni dengan total korban dapat mencapai 240 ribu kematian.Selain itu Goldman Sachs mengatakan bahwa mereka telah memperkirakan angka pengangguran dapat melonjak hingga 15% dan GDP akan mengalami penurunan sebanyak 34% secara tahunan dalam kuartal kedua mendatang.

“Hal tersebut berpotensi membuat ekonomi AS, akan kembali terjun lebih dalam dari sebelumnya, Kami melihat tampaknya tidak ada kurva dalam bentuk V, karena situasi dan kondisi yang ada terus memaksa dan mendorong ekonomi ke titik terendahnya," kata Pilarmas.

Pilarmas Sekuritas menilai bahwa saat ini yang langkah yang paling tepat adalah mengendalikan wabah tersebut agar secepatnya dapat dihentikan. Senada dengan Pilarmas, Kepala Ekonomi Oxford, Gregory Daco mengatakan bahwa apabila situasi dan kondisi seperti ini  terus berlanjut, maka akan lebih banyak pekerjaan yang akan hilang terlebih kurangnya wawasan serta pemahaman Pemerintah terkait dengan virus tersebut akan membuat prediksi menjadi semakin sulit.

“Seberapa banyak apapun stimulus yang diberikan, selama wabahnya tidak bisa dikendalikan maka itu semua akan percuma. Seperti yang diketahui saham Amerika mengalami penurunan sebesar 4%,” ujar Pilarmas.

Di sisi lain dari dalam negeri tingkat meyakini defisit anggaran dapat lebih rendah menjadi 4% hingga 5%. Hal tersebut seiring dengan langkah Pemerintah Indonesia melakukan stimulus fiskal.

Saat ini, anggaran belanja pemerintah dapat berpeluang mengalami penurunan kinerja dan berpotensi meningkatkan daya beli bagi perusahaan yang pertumbuhanya melambat sehingga menyebabkan terjadinya selisih dari pendapatan maupun pengeluaran. Pada segmen perpajakan, dalam Perppu No. 1/2020 pemerintah merelaksasi tarif PPh Badan menjadi tinggal 22% pada 2020 dan akan ada pengurangan 3% bagi WP Badan yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang 40% sahamnya dimiliki oleh publik.

Sebelumnmya pemerintah juga telah mengeluarkan inseitif untuk sektor manufaktur tertentu atas beberapa jenis pajak yakni PPh Pasal 21 DTP, pembebasan PPh Pasal 22 Impor, angsuran PPh Pasal 25, hingga restitusi PPN dipercepat.

“Dari sisi belanja, ke depan akan sangat mungkin muncul belanja-belanja yang timbul untuk memenuhi kebutuhan penanganan Covid-19. Defisit masih mungkin untuk mengecil karena ke depan bisa saja ada banyak belanja kementerian lembaga (K/L) yang tidak terealisasi karena K/L saat ini tidak mungkin untuk melakukan kegiatan secara fisik,” tandas Pilarmas

Belanja non kelembagaan seperti belanja subsidi juga berpotensi turun karena konsumsi masyarakat atas BBM juga turun. Artinya, belanja yang tidak terserap ini bisa memperkecil defisit anggaran dari angka 5,07% PDB yang pernah diumumkan sebelumnya. Setelah 2020, defisit akan terus ditekan di bawah defisit 2020 dan akan kembali di bawah 3% dari PDB pada 2023.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN