Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melihat layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta.  Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Pengunjung melihat layar pergerakan saham di gedung BEI, Jakarta. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Fokus Pasar: Tiongkok Fokus Perbaikan Ekonomi, AS Temui Negara NATO

Ghafur Fadillah, Senin, 2 Desember 2019 | 09:36 WIB

JAKARTA, investor.id - Gubernur Bank Sentral Tiongkok Yi Gang mengatakan, akan menjaga kebijakan moneter dalam level normal selama mungkin karena pertumbuhan ekonomi masih dalam batas yang wajar dan inflasi tetap ringan secara keseluruhan. 

"Bahwa nilai tukar yuan akan diputuskan oleh penawaran dan permintaan pasar, Bank Sentral Tiongkok tidak akan melakukan devaluasi kompetitif terhadap yuan," Jelasnya dalam keterangan resmi, Senin (2/12).

Karena itu, Bank Sentral Tiongkok juga akan terus berusaha mempromosikan reformasi tehadap yuan dan mempertahankannya pada level yang stabil dan cukup seimbang. Selain itu Bank Sentral Tiongkok juga akan memperkuat pengawasan pada pembiayaan properti. 

"Penurunan ekonomi dunia kemungkinan akan bertahan untuk waktu yang lama, namun tidak serta merta menurunkan tingkat suku bunga menjadi nol atau terlibat dalam pelonggaran secara kuantitatif. Perkembangan ekonomi tidak boleh hanya dinilai dari pertumbuhan GDP," paparnya.

Yi menambahkan saat ini Tiongkok memiliki misi kebijakan moneter untuk menjaga harga stabil dan melindungi masyarahat terhadap inflasi. Kebijakan yang terlalu longgar justru dapat membahayakan pembangunan bagi jangka Panjang, karena reformasi yang dibutuhkan dan dapat memicu bubble.

Selanjutnya presiden Amerika Serikat, Donald Trump dijadwalkan akan bertemu dengan sejumlah perwakilan para negara-negara yang tergabung dalam NATO seperti Jerman, Prancis, Italia, dan Denmark yang diselenggarakan di London Utara pekan depan. 

Dalam kunjunganya itu Trump menekankan bahwa tantangan yang dihadapi oleh NATO dan masyarakat internasional berasal dari Tiongkok dan Rusia. Sebelumnya dua negara ini masih terlibat dalam pertempuran politik domestik dengan Amerika Serikat. 

Beralih ke dalam negeri,para pelaku pasar saat ini sedang menunggu rilis data Inflasi November dan Manufacturing PMI dimana data tersebut diproyeksikan lebih rendah dari pada periode sebelumnya. Sebagai informasi, Inflasi digunakan oleh Bank Indonesia menjadi tolok ukur dalam mengambil kebijakan moneter guna menopang pertumbuhan sektor riil. Berdasarkan konsensus yang dihimpun oleh Tradingeconomics. 

Inflasi November diproyeksikan berada pada 2.9% atau lebih rendah dari periode sebelumnya yang berada pada 3.13% dan Manufacturing PMI November berada pada 47.3 atau lebih rendah dari periode sebelumnya yang berada pada 47.7. 

Pilarmas Sekuritas menilai rendahnya data Manufacturing PMI dan Inflasi pada bulan kuartal IV dinilai berasal dari siklus bisnis dimana berdasarkan historis dalam 5 tahun terjadinya penurunan dari kinerja Manufacturing PMI dan Inflasi menjelang akhir tahun.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA