Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Peti kemas di pelabuhan Qindao di provinsi Shandong, Tiongkok timur, belum lama ini. (Foto: China OUT/AFP/STR)

Peti kemas di pelabuhan Qindao di provinsi Shandong, Tiongkok timur, belum lama ini. (Foto: China OUT/AFP/STR)

Fokus Pasar: Tiongkok Melunak

Thereis Love Kalla, Selasa, 3 Desember 2019 | 09:35 WIB

JAKARTA, investor.id – Sikap Amerika Serikat (AS) terkait dengan penandatanganan RUU HAM dan Demokrasi Hong Kong tak membuat Tiongkok membalas perlakuan tersebut. Tiongkok lebih menghindari tindakan yang dapat membalas perlakuan AS terhadap Tiongkok beberapa waktu lalu.

Tiongkok memang memberikan balasannya, tapi lebih pada sanksi. Hal ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying bahwa sanksi tersebut ditujukan kepada National Endowment for Democracy, Human Rights Watch, dan Freedom House. Tidak hanya itu saja, Hua juga mengatakan bahwa Tiongkok akan menangguhkan kunjungan kapal-kapal Angkatan Laut AS di pelabuhan Hong kong.

“Seperti yang sudah kami duga dan sampaikan sebelumnya bahwa Tiongkok tampaknya enggan untuk melakukan pembalasan terhadap sikap AS. Sejauh ini, kami menilai bahwa meskipun Tiongkok berkesempatan untuk membalas tindakan AS, namun kami melihat Tiongkok masih menahan tindakan tersebut,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Selasa (3/12).

Adapun situasi saat ini berbeda dibanding sebelumnya. Di satu sisi, apabila Tiongkok membalas, maka akan kehilangan kesempatan dan daya tawar untuk mendapatkan kesepakatan. Namun, apabila Tiongkok tidak membalas, pernyataan Tiongkok beberapa waktu yang lalu untuk membalas akan dianggap sebagai omong kosong semata.

“Karena biar bagaimanapun juga, selama kesepakatan belum ditandatangani, market kita akan begini-begini saja. Marilah kita berharap bahwa sikap mengalah Tiongkok nyatanya memang untuk mendapatkan kemenangan yang lebih besar nantinya,” ungkap Pilarmas Sekuritas.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump akan memberlakukan kembali tarif baja dan aluminium dari Argentina dan Brasil. Sekali lagi, Trump meminta bantuan dari The Fed untuk dapat melonggarkan kebijakan moneternya untuk kembali melakukan pemangkasan tingkat suku bunga.

“Trump sejatinya melakukan tindakan tersebut merupakan tindakan balasan terhadap dua negara tesebut yang merupakan pemasok alternatif kacang kedelai dan produk pertanian lainnya bagi Tiongkok,” jelas Pilarmas Sekuritas.

Di tengah kenaikan bursa saham global, pemberlakuan tarif baja ini membuat sentimen yang cukup negatif, sehingga memberikan potensi tekanan terhadap bursa global. Hal ini dikhawatirkan para pelaku pasar jika Trump dapat memperlakukan hal yang sama terhadap Tiongkok di tengah potensi kesepakatan perdagangan tahap pertama.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia kembali menyampaikan, pihaknya akan tetap mempertahankan sikap kebijakan moneternya yang akomodatif untuk mendukung ekonomi Indonesia terhadap perlambatan ekonomi global. Bank Indonesia akan terus menggunakan bauran kebijakan pada tahun 2020 untuk membantu perekonomian tahun ini.

Selain itu, di tengah perang dagang antara AS dan Tiongkok, pemerintah juga terus memberikan keringanan pajak kepada perusahaan dan investor properti untuk ikut menjaga menopang pertumbuhan. Bank Indonesia juga mengharapkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia dapat rebound menuju 5,3% pada tahun depan dari estimasi tahun ini sebesar 5,1%.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga menyampaikan bahwa dibutuhkan penyederhanaan prosedur investasi untuk menarik investasi asing, terutama investasi secara langsung. Selain itu, ekonomi perlu di integrasikan lebih cepat dengan tren digitalisasi yang terus mengalami peningkatan.

“Dan yang terpenting adalah Bank Indonesia akan terus memperluas kebijakan makroprudensial pada tahun 2020 nanti, terutama untuk usaha skala kecil dan menengah dan sektor proritas. Tentu hal ini akan disambut baik oleh pasar, karena akan memberikan dorongan terhadap ekonomi pada tahun depan nantinya,” ujar Pilarmas Sekuritas.

Sementara itu Purchasing Manager Indeks (PMI) Indonesia bulan November mengalami kenaikan dari 47,7 menjadi 48,2. Meskipun secara keseluruhan dapat dikatakan masih rendah dan melambat, namun perbaikan dari sisi permintaan dan produktivitas menjelang akhir tahun dapat menjadi trigger guna mencapai pertumbuhan ekonomi sesuai target.

“Kami melihat adanya penumpukan barang yang akan dikerjakan menjadi berkurang setelah banyaknya tumpukan dari barang jadi, sehingga tingkat penjualan yang rendah menjadi beban bagi produksi,” ujar Pilarmas Sekuritas.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA