Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau jalannya perdagangan saham di sekuritas, Jakarta,  Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pialang memantau jalannya perdagangan saham di sekuritas, Jakarta, Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Fokus Pasar: Trump Bikin Ulah Lagi

Nabil Al Faruq, Rabu, 13 November 2019 | 11:00 WIB

JAKARTA, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato mengenai masuknya Tiongkok dalam World Trade Organization (WTO) pada 2001 dan menurutnya tidak ada yang bisa memanipulasi atau mengambil keuntungan lebih banyak dari AS.

Dalam pidato tersebut, Trump juga mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menambahkan kata “curang”. Namun, menurutnya tidak ada yang lebih dari Tiongkok untuk melakukan hal tersebut.

Pernyataan tersebut dinilai cukup berbahaya saat hubungan kedua negara sedang harmonis. “Di tengah mulai hangatnya hubungan antara AS dan Tiongkok, hal ini dapat meningkatkan ketegangan kembali antara kedua negara,” sebut Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya, Rabu (13/11).

Dalam pidatonya Trump juga menyampaikan bahwa dirinya tetap menyalahkan Tiongkok terhadap pemimpin sebelumnya yang telah menegosiasikan kesepakatan perdagangan, dimana kesepakatan tersebut dinilai hasil dari manipulasi perjanjian dengan dampak yang merugikan pekerja AS, terutama dalam industri manufaktur.

Trump juga tidak hanya menyebut Tiongkok dalam pidatonya. Dirinya mengatakan bahwa Uni Eropa juga tidak adil untuk perihal perdagangannya. Cukup banyak negara yang memberikan tarif luar biasa kepada AS atau menciptakan hambatan dalam membuat kesepakatan perdagangan menjadi mustahil. Uni Eropa dinilai lebih buruk dari Tiongkok.

Kemudian, Trump juga mengkritik The Fed bahwa The Fed ragu untuk menurunkan tingkat suku bunga dan ia menyalahkan Bank Sentral AS tersebut karena telah membatasi keuntungan dalam ekonomi AS dan pasar saham.

Menurut Trump, sejak dirinya terpilih sebagai Presiden AS, indeks S&P 500 telah naik lebih dari 45%, Dow Jones Industrial Average naik lebih dari 50%, dan Nasdaq Composite telah naik 60%. Namun, kenaikan itu bisa saja terjadi lebih tinggi, apabila The Fed mau memangkas tingkat suku bunga.

Lebih lanjut, Pemerintah AS akan meningkatkan tekanan terhadap WTO, dengan meningkatkan kemungkinan untuk memblokir anggaran dua tahunan dan secara efektif menghentikan kontribusi AS mulai tahun depan.

Dalam pertemuan reguler Komite Anggaran WTO di Jenewa, delegasi Amerika menyatakan keprihatinnya tentang pembayaran organisasi kepada badan banding, yang dimana menurut Pemerintahan AS telah melampaui mandatnya.

AS juga menyatakan keprihatinannya terhadap proxy dispute settlement system yang dalam waktu terakhir ini telah diperjuangkan oleh Uni Eropa, Kanada, dan Norwegia. Keputusan WTO harus dibuat secara konsensus di antara 164 anggota, dan manuver pemblokiran Amerika akan mengancam berfungsinya WTO yang selama ini bertanggungjawab untuk mengawasi peraturan perdagangan global. 

Para anggota memiliki waktu hingga 31 Desember 2019 untuk menyusun dan menyesuaikan anggaran untuk tahun 2020 dan 2021, dan pembahasan akan dilanjutkan Selasa depan.

Pilarmas Sekuritas menilai, jika AS secara sepihak tidak memberikan anggaran tersebut, hal ini dapat menyebabkan terganggunya pekerjaan dan fungsi WTO. Tidak hanya itu saja, hal tersebut juga akan menyebabkan negara tersebut tidak lagi bergantung kepada WTO untuk menyelesaikan kesepakatan di tengah pertikaian yang kian meningkat.

AS secara jelas juga menyalahkan WTO karena telah membiarkan Tiongkok tumbuh menjadi kekuatan ekonomi saingan bagi AS selama dua dekade terakhir dengan merendahkan peraturan. Menurut sumbangan anggaran untuk WTO, sejauh ini AS telah menyumbang lebih banyak dari pada negara lain, yaitu sebesar US$ 22,8 juta pada 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA