Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teknisi bekerja di menara XL Axiata. (Foto; XL Axiata/IST)

Teknisi bekerja di menara XL Axiata. (Foto; XL Axiata/IST)

Gagal dengan Telenor, Axiata Jajaki Peluang Merger di Indonesia

Farid Firdaus, Selasa, 17 September 2019 | 20:20 WIB

JAKARTA, investor.id – Axiata Group Bhd, induk usaha PT XL Axiata Tbk (EXCL), kembali membuka peluang untuk melakukan konsolidasi atas operasinya di Malaysia dan Indonesia. Aksi ini menjadi strategi perseroan setelah sebelumnya gagal melakukan merger dengan Telenor ASA, perusahaan telekomunikasi asal Norwegia.

Chief Executive Officer (CEO) Axiata Group Jamaludin Ibrahim mengatakan, sebagai operator seluler terbesar di Malaysia, pihaknya melihat aksi merger bisa terjadi untuk operasi perseroan di Indonesia dan Malaysia dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

“Konsolidasi adalah kunci pembuktian masa depan kami dalam jangka menengah mengingat tantangan di industri telekomunikasi ini,” kata Jamaludin, seperti dikutip The Star Online, Selasa (17/9).

Sebagai informasi, awal September lalu, Axiata dan Telenor sepakat mengakhiri diskusi untuk konsolidasi aset dan operasi di Asia. Semula, penggabungan aset infrastruktur ini perkirakan menghasilkan pendapatan US$ 13 miliar dan laba sebelum bunga dan pajak (EBITDA) hingga US$ 5,5 miliar.

Tak lama setelah pengumuman keputusan ini, Bloomberg melaporkan bahwa perusahaan asal Hong Kong, CK Hutchison Holdings Ltd, secara informal berencana melakukan konsolidasi bisnis seluler perseroan di Indonesia dengan unit bisnis Axiata di Indonesia, yakni XL Axiata.

Seperti diketahui, Hutchison memegang kendali atas PT Hutchison 3 Indonesia, pengelola operator merek 3. Terkait kabar ini, Jamaluddin menolak berkomentar.

Di sisi lain, Jamaluddin membenarkan laporan yang menyebutkan bahwa Axiata menerima penawaran dari investor terhadap anak usahanya di bisnis usaha menara telekomunikasi, Edotco Group Sdn Bhd senilai US$ 3 miliar.

Secara terpisah, Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan juga enggan menyatakan pendapatnya. “Pertanyaan soal kabar itu (Hutchison) bisa ditanyakan langsung kepada Axiata Group Bhd selaku pengendali XL,” jelas dia kepada Investor Daily.

Adapun, menurut Jamaludin, saat ini perseroan akan fokus kepada efisiensi operasional. Pihaknya menyakini keuntungan serta arus kas perseroan dalam keadaan tidak cukup baik lantaran industri telekomunikasi yang melambat.

“Selama tiga tahun terakhir, kami telah berbicara dengan pihak-pihak di kedua negara (Malaysia dan Indonesia). Salah satu aksi yang direncanakan yakni hampir terjadinya merger dengan Telenor,” pungkas dia.

Penjualan Menara

Sementara itu, XL menjajaki peluang penjualan 4.500 menara telekomunikasi miliknya. Jika berhasil dieksekusi, aksi ini akan menjadi yang ketiga kalinya, setelah perseroan berhasil melepas 6.000 menara pada 2014 dan 2016.

Menurut Adlan, semula aset 4.500 menara ini masuk dalam kelompok aset strategis. Disebut strategis lantaran perseroan cukup bergantung pada menara dalam rancangan jaringan telekomunikasinya. Namun, seiring berjalan waktu, kini ketergantungan tersebut telah berkurang karena arsitektur jaringan XL lebih terdistribusi.

“Sekarang menara ini sifatnya sudah tidak terlalu strategis. Jadi bisa dipertimbangkan untuk dijual. Kami belum mengumumkan aksi ini ke pasar karena tahapnya masih dalam persiapan,” jelas dia, baru-baru ini.

Adlan belum dapat mengungkapkan berapa target atau jumlah menara yang akan dijual. Namun, apabila secara nilai memang cukup bagus, dan minat pasar lumayan baik, maka tidak menutup kemungkinan perseroan melepas seluruh menara tersebut.

Sementara itu, Presiden Direktur dan CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan, aksi penjualan menara kemungkinan tidak dilakukan tahun ini sebab prosesnya membutuhkan waktu. “Tahun ini kan hanya tinggal tiga bulan lagi. Dan penjualan menara itu bukan hanya soal persiapan dan pengumuman, tapi kita juga harus masuk di waktu yang tepat,” jelas dia.

Sebagai informasi, XL Axiata tercatat melakukan transaksi penjualan 3.500 menara melalui proses lelang seharga Rp 5,6 triliun kepada PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) pada 2014. Selanjutnya, perseroan mengantongi Rp 3,56 triliun dari hasil penjualan 2.500 menara kepada anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia pada 2016.

Menurut Dian, kondisi persaingan antara emiten telekomunikasi akan semakin ketat di sisa tahun ini dan tahun depan. Pihaknya berjanji tidak akan masuk ke strategi price war. XL cenderung fokus pada akselerasi infrastruktur dan memperkuat brand.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA