Menu
Sign in
@ Contact
Search
PT Vale Indonesia Tbk (INCO). (Perseroan)

PT Vale Indonesia Tbk (INCO). (Perseroan)

Garap Proyek Sorowako, Vale (INCO) Bidik Produksi 60 Ribu Ton Nikel per Tahun

Rabu, 14 September 2022 | 18:22 WIB
Muhammad Ghafur Fadillah (muhamad.ghafurfadillah@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) kembali menggandeng mitra baru, Huayou untuk menggarap proyek Sorowako dan Pomala dengan smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) berkapasitas 60 ribu ton per tahun. Sebelumnya perseroan telah menjalin kerja sama dengan Tisco dan Xinhai, untuk proyek Bahodopi.

Direktur Utama Vale Indonesia Febriany Eddy mengatakan, kerjasama kedua pihak sebenarnya sudah mulai sejak awal tahun 2022. Awalnya, Huayou melakukan studi kelayakan pembangunan smelter dengan hasil yang positif, sehingga kedua pihak sepakat untuk meningkatkan kerjasama dengan menandatangani The Heads of Agreement sebagai acuan kesepakatan lebih lanjut dan ditandatangani pada 13 September 2022.

Baca juga: Gandeng Huayou Lagi, Vale (INCO) Siap Garap Proyek Nikel di Sorowako

Dia menuturkan, pabrik dengan smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) tersebut akan mengolah bijih nikel limonit menjadi produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 60.000 ton produk nikel dalam MHP. “MHP kemudian dapat diolah menjadi bahan untuk komponen baterai, misalnya untuk kendaraan listrik,” jelasnya kepada media, Rabu (14/9/22).

Febriany melanjutkan, kerjasama proyek pengembangan ini bentuk dari realisasi komitmen pertambangan berkelanjutan dan strategi Vale dalam menunjang program pemerintah untuk membuat ekosistem mobil listrik di Indonesia. Selain itu, poin terpenting lainnya adalah komitmen para pihak untuk mencapai netralitas karbon pada 2050 dan kesepakatan untuk bekerja sama dalam meminimalkan emisi karbon. Huayou akan berdiskusi lebih lanjut dengan Vale untuk mempelajari alternatif energi rendah karbon.

Disisi lain, Ketua Huayou Chen Xuehua mengatakan, kerjasama tersebut merupakan kombinasi sempurna dari keunggulan sumber daya mineral Vale dan keunggulan teknologi High Pressure Acid Leaching Huayou Cobalt, untuk mencapai pengembangan sumber daya mineral rendah karbon, hijau, dan berkelanjutan. Kerja sama kami juga dapat memenangkan peluang pertumbuhan bagi kedua belah pihak, menambah kekuatan dan nilai bagi industri, serta memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia,” terangnya.

Soal pembiayaan, Direktur Keuangan Vale Bernardus Irmanto mengatakan, perseroan dan Huayou akan menggelontorkan investasi sebesar US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 26,64 triliun. Porsi kepemilikan perseroan dan partner nantinya yakni 30% dan 70%. Proyek ini dijadwalkan selesai pada 2026.

Baca juga: Permisi... Vale (INCO) Mau Garap Megaproyek Rp 127 Triliun!

Sebagai informasi, dengan partner yang sama, perseroan akan membangun fasilitas pengolahan di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Pabrik yang dibangun akan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) dengan kapasitas produksi tahunan 120.000 ton Nikel dalam Mixed Hydroxide Precipitate (MSP). Pabrik ini akan memanfaatkan bijih limonit dari Blok Pomalaa yang akan dioperasikan sepenuhnya oleh Vale dengan cut-off grade 0,8% yang terendah di Indonesia untuk memaksimalkan konservasi mineral.

Tisco dan Xinhai

Dengan menggandeng partner asing lainnya, yakni Tisco dan Xinhai, perseroan menggarap smelter nikel Bahodopi akan menghasilkan 73 ribu ton nikel dalam FeNi. Proyek ini diperkirakan menghabiskan investasi US$ 2,3 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan nikel Reduction Kiln-Electric Furnace (RKEF) dan tambang. Pengerjaan proyek tersebut akan berlangsung pada 2022-2025.

Sementara itu, hingga semester pertama 2022, emiten yang sudah berdiri lebih dari 50 tahun tersebut berhasil mencatatkan kinerja positif dengan membukukan pendapatan US$ 564,54 juta pada semester pertama 2022. Jumlah itu meningkat 36,05% dari sebelumnya US$ 414,95 juta pada periode yang sama tahun lalu. Seiring dengan itu, laba bersih juga melesat 155,94% menjadi US$ 150,45 juta dari sebelumnya US$ 58,78 juta.

Febriany menuturkan bahwa perseroan berhasil mencatatkan laba yang positif meski dalam siklus komoditas yang sulit berkat fokus perseroan pada peningkatan efisiensi-efisiensi biaya. "Selain itu, Perseroan telah diuntungkan oleh kondisi harga nikel yang baik pada triwulan ini,” kata Febriany.

Baca juga: Vale Indonesia (INCO) Sepakati Proyek Nikel US$ 2,1 Miliar dengan Shandong Xinhai dan Baowu Steel

Meski demikian pada semester yang sama perseroan mencatatkan penurunan produksi hingga 13% dari periode yang sama tahun lalu lantaran adanya pelaksanaan proyek pembangunan kembali Tanur 4. Pekerjaan pembangunan kembali itu sendiri telah selesaid ilakukan dan tanur mulai memanas sejak 18 Juni 2022.

Saat ditanya soal pembagian dividen, Anto menjelaskan bahwa perseroan harus melakukan perhitungan terlebih dahulu dan mengevaluasi kondisi kas internal, lantaran perseroan masih dihadapkan pada proyek-proyek yang sebelumnya disebutkan. "Bisa saja ada pembagian dividen, langkah ini harus ditempuh dengan hati-hati," pungkasnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com