Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Garap Smelter Bahodopi, Vale Undang Mitra Asal Tiongkok

Thereis Love Kalla, Senin, 19 Agustus 2019 | 08:49 WIB

JAKARTA, Investor.id –  PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjajaki kerja sama dengan mitra baru asal Tiongkok untuk pembangunan pemurnian nikel atau smelter di Bahodopi, Sulawesi Tengah. Hingga kini negosiasi masih berjalan.

Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy mengatakan, proses negoisasi dengan calon mitra untuk pembangunan smelter sudah pada tahap final. “Smelter di Bahodopi mitranya sudah ada, tapi belum bisa diumumkan,  karena masih tahap final negoisasi, tak etis kalo saya jelaskan sekarang. Kalau nanti sudah selesai tanda tangan pasti kita umumkan bahkan kita undang ke Indonesia,” ungkapnya di Jakarta, baru-baru ini.

Negosiasi dengan perusahaan asal Tiongkok tersebut direncakanan tuntas akhir tahun ini. Menurut Febriany, jika negosiasi lancar, smelter Bahodopi dapat beroperasi tahun depan. “Nanti setelah selesai, kita proses financing, bisa langsung mulai, harapannya tahun depan sudah operasional,” imbuhnya.

Adapun smelter Bahodopi akan menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) namun dengan emisi yang lebih rendah. “Produksinya kan feronikel, teknologi RKEF harusnya sama dengan biasa yang disini, cuma memang kita pilih dengan standar yang tinggi jadi emisinya dengan chinese player lain memang paling rendah,” tandas Febriany.

Perseroan sebelumnya telah menjajaki kerja sama dengan perusahaan sektor pertambangan asal Jepang, Sumitomo, untuk pembangunan smelter di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Hingga saat ini negosiasi dengan Sumitomo sudah memasuki tahap proses finalisation commercial negoitation. Sementara negosiasi berlangsung perijinannya juga sedang disiapkan.

“Karena perijinannya cukup banyak kalo HPAL. Saat ini kita sedang proses ijin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), jika lancar kuartal III sudah selesai proses ijinnya,” ungkap Febriany.

Adapun, pembiayaan smelter Pomalaa sebesar 51% akan dibiayai oleh Sumitomo. Pasalnya teknologi pengolahan semua dimiliki oleh perusahaan Jepang itu. Sementara sisa nya perseroan telah menyiapkan berbagai mekanisme pembiayaan. “FInancing nya multiple source, jelas kalo ada equity ya equity, tapi negoisasi masih berlangsung dengan Sumitomo ,” imbuhnya.

Hingga kini proses divestasi, masih menunggu keputusan valuasi tim internal pemerintah. Namun, proses valuasi yang sedang berlangsung tidak menghambat proses negosiasi dengan partner. “Divestasi bagian dari kewajiban, tapi memang perlu kepastian, namun tak menghambat negosiasi dengan partner,” ujarnya. 

Vale Indonesia sudah merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 42,2 juta pada kuartal II-2019, atau mencapai 25,5% dari total belanja modal tahun ini yang mencapai US$ 165 juta. Adapun sumber dari belanja modal tersebut adalah dari kas perseroan yang mencapai US$ 111,9 juta pada periode Juni 2019 . Nilai tersebut menurun dibandingkan periode Maret 2019 yang mencapai US$ 219,4 juta.

Perseroan berencana  mengalokasikan belanja modal tersebut digunakan untuk produksi nikel. Adapun sampai kuartal II-2019, perseroan membukukan produksi nikel dalam matte sebesar 17.631 mt, dan penjualan sebesar US$ 165,8 juta. lebih tinggi sekitar 35% dibandingkan produksi pada kuartal I-2019.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA