Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Armada Garuda Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Armada Garuda Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Garuda Finalisasi 'Bridging Loan' Rp 2,3 Triliun

Senin, 21 September 2020 | 09:05 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terus bernegosiasi dengan sejumlah bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) terkait bridging loan senilai Rp 2,3 triliun. Sementara itu, peringkat Kontrak Investasi Kolektif (KIK) Efek Beragun Aset (EBA) Mandiri GIAA01 Kelas A dinaikkan menjadi BB dari sebelumnya CCC.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, pihaknya masih melakukan pembicaraan dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). “Kesepakatan belum final,” kata dia kepada Investor Daily, Minggu (20/9).

Dia menjelaskan, bridging loan diperlukan sambil menunggu dana talangan pemerintah yang akan dicairkan melalui penerbitan mandatory convertible bond (MCB) senilai Rp 8,5 triliun. Realisasi penerbitan MCB ditargetkan pada kuartal lV-2020.

Seperti diketahui, pembiayaan terhadap Garuda Indonesia dan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lain tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 118/PMK/06/2020 tentang Investasi Pemerintah dalam Rangka Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Beleid ini berlaku mulai 2 September 2020.

Manajemen Garuda mengharapkan dana talangan dari pemerintah yang akan dicarikan dalam bentuk MCB dapat menjaga lukuiditas dan solvabilitas selama 2020-2023.

Perseroan berdiskusi secara intensif dengan pemerintah supaya memperoleh dukungan yang diperlukan. Untuk menjaga likuiditas saat pandemi, perseroan melakukan optimalisasi operasional. Semisal, perseroan bernegosiasi dengan perusahaan leasing untuk menunda pembayaran sewa pesawat, serta memperpanjang masa sewa pesawat untuk mengurangi biaya sewa per bulan.

Tak ketinggalan, manajemen Garuda turut menegosiasikan kewajiban perseroan yang akan jatuh tempo dengan pihak ketiga. Perseroan melakukan program efisiensi biaya dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Adapun pendapatan penumpang berkontribusi lebih dari 80% terhadap total pendapatan Garuda. Penurunan trafik penumpang yang signifikan selama pandemi, membuat Garuda mengoptimalkan layanan charter dan kargo.

“Guna mendorong percepatan recovery, Garuda saat ini mendorong trust dan minat masyarakat untuk dapat kembali menggunakan transportasi udara melalui konsistensi penerapan protokol kesehatan penerbangan,” jelas manajemen.

Peringkat EBA

Sementara itu, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merevisi peringkat KIK EBA Mandiri GIAA01 kelas A menjadi BB dan sebelumnya CCC. Penilaian kembali ulang ini dilakukan setelah Garuda membayar pokok amortisasi EBA kelas A senilai Rp 360 miliar pada 2 September 2020 dari jadwal seharusnya 27 Juli 2020.

Proses klaim dari PT Mandiri Manajemen Investasi selaku manajer investasi KIK EBA kepada PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) sebagai penjamin utama transaksi ini telah ditarik. Hal tersebut lantaran Garuda mampu menyediakan dana yang diperlukan untuk membayar jumlah terutang.

Sebagai informasi, KIK EBA Mandiri GIAA01 merupakan surat berharga hak atas pendapatan penjualan tiket penerbangan rute Jeddah dan Madinah. Lantaran ada faktor force majouer ketika pandemi, maka rute penerbangan dari Madinah dan Jeddah ke Indonesia dan sebaliknya dihentikan.

“Selama penghentian tersebut, kami menilai jaminan Askrindo berdampak kecil terhadap peringkat KIK EBA, dibandingkan penilaian awal saat penerbitan KIK EBA yang tidak memperhitungkan dampak masif pandemi Covid-19,” tulis riset Pefindo.

Secara bersamaan, Pefindo turut merevisi kembali outlook Garuda menjadi negatif dari sebelumnya credit watch dengan implikasi negatif. Menurut Pefindo, outlook tersebut mencerminkan profil kredit Garuda yang masih rentan di tengah pandemi, apalagi kasus positif infeksi Covid-19 di Indonesia terus meningkat.

Outlook Garuda, kata Pefindo, bisa direvisi menjadi stabil apabila ada peningkatan dan stabilisasi profil kredit perseroan. Hal tersebut dapat terjadi jika tren lalu lintas penumpang udara meningkat secara berkelanjutan. Selain itu, berkurangnya tekanan pada beban keuangan Garuda karena dukungan pemerintah juga menjadi faktor untuk menaikkan outlook.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN