Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Armada Garuda Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Armada Garuda Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

GLOBAL BOND KUARTAL I-2020

Garuda Indonesia Restrukturisasi Bisnis

Farid Firdaus, Kamis, 12 Desember 2019 | 22:09 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) fokus merestrukturisasi bisnisnya setelah skandal yang menimpa jajaran direksi. Sementara itu, perseroan juga tengah mengkaji penerbitan obligasi global (global bond) yang ditargetkan pada Februari 2020.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama Garuda Indonesia Fuad Rizal mengatakan, perseroan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Januari 2020 untuk menetapkan formasi baru jajaran direksi perseroan.

Sebelum RUPSLB digelar, perseroan akan terus melakukan koordinasi dengan kementerian terkait, termasuk Kementerian Perhubungan terkait operasional dalam menyambut musim libur Natal dan Tahun Baru.

“Selain itu, good corporate governance (GCG) juga akan kita terus tingkatkan sesuai dengan arahan Kementerian BUMN. Kami minta masukan apa saja yang perlu diperbaiki. Pesan Pak Menteri untuk menjaga akhlak dan loyalitas kepada negara” jelas dia, usai melangsungkan pertemuan dengan Menteri BUMN Erick Thohir di Jakarta, Kamis (12/12).

Adapun Fuad didampingi oleh lima direksi lain yang bertugas sementara. Mereka adalah Direktur Niaga Pikri Ilham Kurnianysah, Direktur Teknik dan Layanan Mukhtaris, Pejabat Direktur Operasi Tumpal Manumpak Hutapea, Pejabat Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Joseph Dajoe K. Tendean, Direktur Human Capital Capt. Aryaperwira Adieksana.

Jajaran direksi sementara ini menggantikan lima direksi Garuda yang dicopot oleh Erick Thohir. Mereka adalah Direktur Utama Ari Askhara, Direktur Teknik dan Layanan Iwan Joeniarto, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal, Direktur Human Capital Heri Akhyar, dan Direktur Operasi Bambang Adisurya Angkasa.

Lebih lanjut, Fuad mengatakan, pihaknya mengikuti arahan komisaris terkait kebijakan selanjutnya, termasuk status dari Ari Askhara berserta direksi lain yang diberhentikan pada anak dan cucu perusahaan Garuda Indonesia

Arahan tersebut sudah tertuang dalam surat keputusan dewan komisaris Garuda Indonesia tertanggal 9 Desember 2019 yang beredar di kalangan awak media. Surat keputusan dewan komisaris tersebut ditandatangani oleh Komisaris Utama Sahala Lumban Gao dan dewan komisaris lainnya seperti Chairal Tanjung, Insmerda Lebang, Herbert Timbo P Siahaan, dan Eddy Porwanto Poo.

Dalam suratnya, dewan komisaris menjelaskan, pemberhentian eks direksi dari jabatan dewan komisaris anak dan cucu perusahaan tersebut berlaku sejak penetapan pemberhentian waktu yang bersangkutan dari jabatan direksi Garuda Indonesia.

Terkait operasional, Direktur Niaga Pikri Ilham Kurniansyah mengatakan, perseroan akan meninjau ulang rute Eropa lantaran dipandang tidak terlalu urgent. Pihaknya akan fokus kepada ruter-rute domestik beserta rute internasional seperti Timur Tengah, Asia Pasifik, Jepang dan Korea. “Kita meninjau penerbangan ke Eropa. Kita ingin perusahaan ini lebih sehat,” pungkas dia.

Lebih lanjut, penutupan rute Eropa seperti London, Inggris kini telah disuspensi sampai waktu yang tak ditentukan. Sementara, rute ke Amsterdam, kata Pikri sejauh ini masih beroperasi. “Kita hanya akan terbang sesuai dengan kompetensi kita," katanya. Kita lihat profitabilitas dan sebagainya,” jelasnya.

Sementara itu, terkait jam terbang awak kabin pada rute Jakarta-Melbourne, Pejabat Direktur Operasi Tumpal Manumpak Hutapea menegaskan, kewajiban harus pulang-pergi bagi awak kabin sudah dicabut. Itu artinya, awak kabin diperbolehkan untuk remain over night dalam jadwal rute penerbangan tersebut.

Manajemen Garuda juga berjanji memperhatikan kompetensi dari sumber dayanya. Pelaksana Harian Direktur Human Capital Garuda Indonesia Aryaperwira Adileksana menjelaskan akan mengkaji ulang kebijakan mutase dan rotasi yang dinilai merugikan karyawan. Hal ini sebagai salah satunya merupakan jawaban atas permintaan dari Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI). “Mutasi dan rotasi yang tidak memenuhi ketentuan, akan kami tinjau ulang dan sesuaikan dengan perusahaan,” jelas dia.

Global Bond

Sebagai informasi, Garuda Indonesia memiliki utang jatuh tempo global sukuk senilai US$ 500 juta pada 2020. Global sukuk tersebut sebelumnya diterbitkan perseroan pada 2015.

Menurut Fuad, pihaknya mengkaji sejumlah opsi untuk pelunasan utang tersebut, salah satunya dengan kembali menerbitkan global bond pada Februari 2020. Namun, perseroan belum menetapkan besaran nilai global bond yang akan diterbitkan. “Saya belum bisa bicara lebih detail, harapannya memang kuartal  I tahun depan,” jelasnya.

Hingga kuartal III-2019, Garuda mampu meraup total laba bersih sebesar US$ 122,8 juta naik signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya saat mencatatkan rugi bersih US$ 127,97 juta.

Melonjaknya laba bersih tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan Garuda, yang pada kuartal III 2019 mencapai US$ 3,5 miliar naik 9% dari akhir September 2018 sebesar US$ 3,2 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN