Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST

Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST

Geliat Bukit Asam Setelah Ekonomi Kembali Pulih

Selasa, 16 Juni 2020 | 04:41 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Pembukaan lockdown pandemi Covid-19 di sejumlah negara akan menjadi sentimen positif terhadap industri pertambangan batu bara, termasuk bagi PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Mulai kembalinya aktivitas ekonomi tersebut diharapkan bisa mendorong lagi permintaan dan mengerek rata-rata harga jual batu bara dalam beberapa bulan ke depan.

Analis Trimegah Sekuritas Aditya Nugraha dan Willinoy Sitorus mengungkapkan, pembukaan kembali ekonomi sejumlah negara, semisal India dan Indonesia, dapat menjadi sentimen positif. Apalagi, Indonesia dan India kini menjadi pasar utama bagi produsen besar batu bara, terutama dari Indonesia sendiri.

“Hal ini telah terbukti dengan kenaikan rata-rata harga jual batu bara menjadi US$ 57 per ton atau masih di atas biaya penambangan (cash cost) sebesar US$ 50,” tulis Aditya dan Willinoy dalam risetnya, baru-baru ini.

Adapun harga terendah batu bara Newcastle 600 mencapailevel US$ 50 per ton pada Mei 2020 dan mulai merangkak naik menjadi US$ 57 per ton setelah aktivitas ekonomi mulai dibuka di sejumlah negara.

Meski demikian, kenaikan rata-rata harga jual batu bara diperkirakan lambat akibat pandemi Covid-19, kemungkinan hanya mencapai US$ 65 per ton pada 2024.

Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL
Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Di tengah perkiraan melambatnya kenaikan harga jual, emiten batu bara yang memiliki arus kas kuat, kualitas aset yang baik, tingkat keuntungan yang relatif besar, dan neraca keuangan kuat adalah perusahaan yang paling diuntungkan. Sebab, perusahaan dengan kriteria tersebut memiliki tingkat fleksibilitas untuk menaikkan dan menurunkan belanja modal dan biaya penambangan, sesuai dengan fluktuasi harga jual batu bara.

Selain faktor tersebut, Aditya dan Willinoy menyebutkan bahwa pemodal dapat mempertimbangkan emiten batu bara yang memiliki diversifikasi bisnis di luar batu bara, khususnya produsen batu bara yang memiliki progres diversifikasi usaha yang baik hinggasaat ini. Namun, dampak diversifikasi tersebut diperkirakan belum optimal terhadap kinerja keuangan.

Bukit Asam merupakan salah satu emiten batu bara yang layak dipertimbangkan, karena perseroan sedang gencar mendiversifikasi bisnis. Di antaranya, pembangunan pembangkit listrik Banjarsari, pembangkit listrik Tanjung Enim, pembangkit listrik Tarahan, pembangkit listrik Halmahera Timur, dan pembangkit listrik Banko Tengah.

Aditya dan Willinoy juga menyebutkan bahwa Bukit Asam merupakan produsen batu bara dengan tingkat pertumbuhan volume produksi paling tinggi dengan rata-rata 10% dalam empat tahun terakhir.

“Kami memperkirakan target pertumbuhan tersebut tercapai didukung besarnya cadangan dan peningkatan kapasitas angkut perseroan. Apalagi, dengan mulai beroperasinya PLTU Sulsel-8 akan meningkatkan volume produksi perseroan berkisar 5,4 juta ton per tahun,” ungkap mereka.

Selain gencarnya investasi di luar pembangkit listrik, besarnya dividen Bukit Asam pun menjadi sentimen positif. Nilaidividen Bukit Asam diperkirakan diperkirakan tetap besar hingga tahun depan berkisar 90% dari perolehan laba bersih.

Hal ini karena pemerintah membutuhkan dana besar setelah tingkat keuntungan sektor perbankan relatif rendah akibat pandemic Covid-19.

Meski demikian, Aditya dan Willinoy merevisi target kinerja keuangan Bukit Asam pada 2021 dan 2022, seiring dengan perkiraan peningkatan beban operasional. Produksi batu bara perseroan direvisi naik dari 28,7 juta ton menjadi 30,3 juta ton tahun ini, namun proyeksi volume penjualan diturunkan dari 30,2 juta ton menjadi 29,8 juta ton.

Rata-rata harga jual diperkirakan naik tipis dari US$ 42,9 per ton menjadi US$ 43,5 per ton.

Sedangkan proyeksi pendapatan Bukit Asam tahun ini direvisi naik menjadi Rp 18,92 triliun dari Rp 18,78 triliun. Proyeksi laba bersih diturunkan dari Rp 3,19 triliun menjadi Rp 3,07 triliun.

Hal tersebut mendorong Trimegah Sekuritas merevisi turun target harga saham PTBA dari Rp 4.000 menjadi Rp 3.200. Target tersebut merefleksikan perkiraan PBV tahun ini sekitar 2 kali, termasuk memperhitungkan valuasi pembangkit listrik Banjarsari dan Banko.

Tambang batu bara Bukit Asam. Foto: UTHAN
Tambang batu bara Bukit Asam. Foto: UTHAN

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri sebelumnya mengungkapkan, Bukit Asam memiliki keunggulan dibandingkan emiten lainnya, yaitu divefisifikasi bisnis pembangkit listrik dan proyek gasifikasi yang mengubah batu bara menjadi DME. Perseroan juga menawarkan yield dividen sebesar 14,5-15,5%. Pekan lalu, Bukit Asam telah menetapkan dividen final tahun buku 2019 senilai Rp 4,65 triliun atau dengan payout ratio 90%.

Terkait kinerja keuangan, menurut Stefanus, Bukit Asam diperkirakan membukukan penurunan laba bersih menjadi Rp 3,95 triliun tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu mencpai Rp 4,05 triliun.

Sedangkan pendapatan diperkirakan naik dari Rp 21,78 triliun menjadi Rp 22,53 triliun. Hal tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.200.

Sebelumnya, manajemen Bukit Asam menyebutkan bahwa volume produksi batu bara Bukit Asam tahun ini ditargetkan mencapai 30,3 juta, volume penjualan 29,9 juta ton, dan target angkutan batu bara 27,5 juta ton. Penjualan batu bara domestik diharapkan mencapai 21,6 juta ton dan ekspor sebesar 8,3 juta ton.

Perseroan pun menyiapkan rencana cadangan seandainya pemulihan ekonomi ternyata di luar prediksi. Kini, perseroan membidik peluang pada Negara seperti Kamboja, Laos, dan Vietnam sebagai tujuan ekspor.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN