Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST

Aktivitas di tambang Bukit Asam. Foto: IST

Gencar Diversifikasi, Saham Bukit Asam Masuk Radar Investasi

Jumat, 18 September 2020 | 04:45 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Perbaikan ekonomi global dan musim dingin berpotensi memulihkan permintaan serta harga jual batu bara pada kuartal IV-2020. Hal tersebut akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tahun ini.

Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, dua faktor tersebut diharapkan menaikkan permintaan batu bara, dan harga jual kemungkinan bisa kembali naik dari level saat ini US$ 50 per ton.

Kenaikan harga jual juga bakal dipicu oleh keputusan negara eksportir batu bara yang memangkas target volume produksi, seperti Indonesia, Australia, dan Rusia.

“Permintaan batu bara diproyeksi mulai memasuki masa pemulihan pada kuartal III-2020 setelah pelonggaran PSBB yang tentunya akan menaikkan permintaan batu bara dari industri listrik. Namun, pemulihan kemungkinan belum signifikan yang terlihat dari keputusan Bukit Asam untuk memangkas target volume penjualan dari 29,9 juta ton menjadi 24,9 juta ton,” tulis Stefanus dalam risetnya, baru-baru ini.

Adapun keputusan manajemen Bukit Asam yang menurunkan target volume penjualan batu bara dari 30 juta ton menjadi 25 juta ton sudah sesuai dengan kondisi pasar yang masih melemah. Pemangkasan target tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi turun target kinerja keuangan Bukit Asam tahun 2020-2022. Target laba bersih diturunkan dari Rp 3,95 triliun menjadi Rp 2,45 triliun tahun ini dibandingkan realisasi 2019 yang senilai Rp 4,05 triliun.

Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL
Kegiatan tambang di Bukit Asam. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Begitu juga dengan proyeksi pendapatan tahun 2020 direvisi turun dari Rp 22,53 triliun menjadi Rp 17,35 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar Rp 21,78 triliun.

Sebab itu, Danareksa Sekuritas menurunkan target saham PTBA dari Rp 3.200 menjadi Rp 2.900, dengan rekomendasi dipertahankan beli.

Sedangkan dalam jangka panjang, menurut Stefanus, keputusan Bukit Asam untuk terus meningkatkan kapasitas daya angkut kereta api dan pelabuhan batu bara akan menjadi penopang pertumbuhan. Perseroan menargetkan total kapasitas angkut kereta dan pelabuhan batu bara meningkat menjadi 40 juta ton pada 2024-2025 dibandingkan target daya angkut tahun ini sebanyak 32 juta ton.

Saat ini, perseroan sedang meningkatkan daya angkut  nalis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, dua faktor tersebut diharapkan menaikkan permintaan batu bara, dan harga jual kemungkinan bisa kembali naik dari level saat ini US$ 50 per ton. Kenaikan harga jual juga bakal dipicu oleh keputusan negara eksportir batu bara yang memangkas target volume produksi, seperti Indonesia, Australia, dan Rusia.

“Permintaan batu bara diproyeksi mulai memasuki masa pemulihan pada kuartal III-2020 setelah pelonggaran PSBB yang tentunya akan menaikkan permintaan batu bara dari industri listrik. Namun, pemulihan kemungkinan belum signifikan yang terlihat dari keputusan Bukit Asam untuk memangkas target volume penjualan dari 29,9 juta ton menjadi 24,9 juta ton,” tulis Stefanus dalam risetnya, baru-baru ini.

Tambang batu bara Bukit Asam. Foto: UTHAN
Tambang batu bara Bukit Asam. Foto: UTHAN

Adapun keputusan manajemen Bukit Asam yang menurunkan target volume penjualan batu bara dari 30 juta ton menjadi 25 juta ton sudah sesuai dengan kondisi pasar yang masih melemah. Pemangkasan target tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi turun target kinerja keuangan Bukit Asam tahun 2020-2022. Target laba bersih diturunkan dari Rp 3,95 triliun menjadi Rp 2,45 triliun tahun ini dibandingkan realisasi 2019 yang senilai Rp 4,05 triliun.

Begitu juga dengan proyeksi pendapatan tahun 2020 direvisi turun dari Rp 22,53 triliun menjadi Rp 17,35 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar Rp 21,78 triliun.

Sebab itu, Danareksa Sekuritas menurunkan target saham PTBA dari Rp 3.200 menjadi Rp 2.900, dengan rekomendasi dipertahankan beli. Sedangkan dalam jangka panjang, menurut Stefanus, keputusan Bukit Asam untuk terus meningkatkan kapasitas daya angkut kereta api dan pelabuhan batu bara akan menjadi penopang pertumbuhan.

Perseroan menargetkan total kapasitas angkut kereta dan pelabuhan batu bara meningkat menjadi 40 juta ton pada 2024-2025 dibandingkan target daya angkut tahun ini sebanyak 32 juta ton.

Saat ini, perseroan sedang meningkatkan daya angkut mengantisipasi penurunan penjualan ke negara tujuan utama yang terkena dampak Covid-19.

Pada semester I-2020, penjualan ekspor Bukit Asam mencapai 5,2 juta ton. Volume penjualan tersebut setara dengan 41,4% dari total penjualan perseroan yang mencapai 12,5 juta ton hingga Juni 2020.

Sementara, penjualan batu bara domestik masih menjadi prioritas perusahaan dengan porsi sebanyak 58,6% atau sekitar 7,3 juta ton.

Adapun produksi batu bara perseroan tahun ini diproyeksikan sebanyak 25 juta ton. Hingga Juni 2020, produksinya mencapai 11,9 juta ton. Kemudian, kapasitas angkutan batu bara mencapai 11,7 juta ton pada periode yang sama. Perseroan juga telah menggandeng PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II untuk pengembangan kapasitas angkutan batu bara dan komoditas lainnya melalui sungai dan pelabuhan di Sumatera Selatan. Kerja sama ini diharapkan mendongkrak kapasitas angkut batu bara menjadi 20 juta ton per tahun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN