Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lini bisnis GoTo

Lini bisnis GoTo

GoTo IPO Tahun Ini, 4 'Unicorn' dan 5 'Centaur' bakal Menyusul

Kamis, 29 Juli 2021 | 07:00 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Satu-satunya decacorn Indonesia, GoTo, diperkirakan melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tahun ini. Selain itu, empat unicorn dan lima centaur bakal menyusul. Bursa Efek Indonesia (BEI) memproyeksikan kapitalisasi pasar (market cap) bursa bertambah Rp 553,9 triliun setelah lima unicorn dan satu decacorn melantai di bursa saham domestik.

Satu dari lima unicorn, yaitu Bukalapak, sedang menggelar penawaran umum dan akan mencatatkan saham (listing) pada 6 Agustus mendatang. Sedangkan empat unicorn lainnya masih mempersiapkan diri. Market cap BEI akan meningkat lagi setelah lima centaur ikut menyemarakkan lantai bursa.

Decacorn adalah perusahaan rintisan teknologi (startup) yang memiliki valuasi US$ 10-100 miliar. Sedangkan unicorn merupakan startup yang memiliki valuasi US$ 1-10 miliar. Adapun centaur adalah startup dengan valuasi US$ 100 juta sampai US$ 1 miliar.

Di Indonesia, startup yang masuk kategori decacorn baru satu, yaitu GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dengan Tokopedia. Sedangkan di jajaran unicorn ada Traveloka, Bukalapak, JD.ID, J&T Express, dan OVO. Lalu di level centaur terdapat sekitar 27 perusahaan, antara lain Halodoc, Dana, Modalku, Ralali, Akulaku, Kredivo, dan Blibli.

Kepala Unit Pengembangan Startup dan SME BEI, Aditya Nugraha menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang menghasilkan unicorn paling banyak di Asean. Sebanyak enam unicorn (termasuk GoTo yang kini bersatatus decacorn) dari 12 unicorn di Asia Tenggara berada di Indonesia.

“Jika digabung, nilai valuasinya sebelum IPO mencapai US$ 38,2 miliar," ujar Aditya dalam acara edukasi wartawan mengenai IPO Unicorn di Jakarta, Rabu (28/7).

Indonesia, menurut Aditya, juga memiliki potensi untuk menghasilkan unicorn baru. Soalnya, sebanyak 27 dari 70 centaur di Asia Tenggara berada di Indonesia.

IPOTahun Ini

Khusus tahun ini, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menyebutkan, ada tiga unicorn yang akan tercatat di bursa. Unicorn pertama adalah PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang sudah memasuki masa penawaran umum dan akan listing pada 6 Agustus mendatang.

"Dengan tercatatnya Bukalapak, market cap pasar modal Tanah Air akan bertambah sekitar Rp 77,3-86 triliun," kata dia.

Dua unicorn lagi yang akan mencatatkan saham di BEI diperkirakan adalah perusahaan hasil merger Gojek dengan Tokopedia (GoTo). Kendati tidak menjelaskan nama perusahaan itu, Nyoman mengungkapkan, perusahaan ini awalnya menyampaikan proposal untuk melakukan IPO untuk dua perusahaan.

Namun, IPO perusahaan tersebut kemungkinan dilakukan dalam satu perusahaan gabungan dengan nilai yang besar. "Untuk market cap tentunya akan lebih besar dari Bukalapak yang mencapai Rp 86 triliun," tandas dia.

Selain dua unicorn tersebut, menurut Nyoman, otoritas bursa aktif berdiskusi dengan para centaur yang akan mencatatkan saham di BEI. “Setidaknya ada lima centaur yang terlibat diskusi secara intensif dengan bursa mengenai IPO,” tutur dia.

Nyoman Yetna menambahkan, selain bakal mendongkrak market cap BEI, IPO saham unicorn di bursa domestik bisa meningkatkan nilai penggalangan dana di pasar modal.

Proyeksi market cap unicorn dan  decacorn di bursa.
Proyeksi market cap unicorn dan decacorn di bursa.

Terbanyak di Asean

Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan BEI, Saptono Adi Junarso menjelaskan, jumlah IPO saham di Indonesia merupakan yang terbanyak di kawasan Asia Tenggara. Namun dari sisi nilai masih jauh tertinggal.

Pada 1995 ada PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang menjadi emiten dengan nilai IPO terbesar, yakni US$ 1,7 miliar. Lalu ada PT Adaro Energy Tbk (ADRO) yang mencatatkan sahamnya pada 2008 dengan nilai IPO US$ 1,28 miliar.

Nyoman Yetna mengemukakan, hingga 28 Juli 2021, nilai penggalangan dana dari 27 IPO saham mencapai Rp 7,66 triliun atau meningkat 99,48% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,84 triliun.

Adapunn di pipeline BEI terdapat 26 perusahaan yang akan menggelar IPO saham. Sebanyak 21 perusahaan di antaranya adalah perusahaan berskala aset besar dan menengah.

Nyoman Yetna mengakui, dampak positif lain dari IPO unicorn adalah bisa meningkatkan jumlah nomor identitas tunggal investor (single identification investor/SID). Dari IPO saham Bukalapak, misalnya, jumlah investor yang berpartisipasi bisa mencapai 800 ribu pihak dan menambah 42 ribu investor baru.

Jumlah investor pasar modal hingga akhir Juni 2021 mencapai 5,6 juta atau meningkat 44% dari akhir 2020 yang mencapai 3,88 juta. Sebanyak 2,51 juta di antaranya merupakan minvestor saham.

Saptono Adi Junarso menambahkan, manfaat lain dari IPO unicorn yaitu bisa menarik arus modal asing. "Penambahan perusahaan tercatat dari industri teknologi bisa meningkatkan potensi Indonesia sebagai tujuan investasi bagi investor global," papar dia.

Akomodasi Aturan

Kepala Unit Pengembangan Startup dan Small and Medium Enterprises (SME) BEI, Aditya Nugraha mengemukakan, banyaknya manfaat IPO unicorn menjadi alasan BEI untuk memperbarui aturan agar para unicorn maupun centaur tertarik mencatatkan sahamnya di bursa domestik.

Menurut dia, setidaknya ada empat inisiasi bursa untuk mengikuti perkembangan bisnis para unicorn agar sesuai dengan bursa domestik. Pertama dari segi pencatatan, BEI memberikan empat pintu masuk bagi para unicorn atau perusahaan yang masuk kategori ekonomi baru (new economy) agar bisa tercatat di papan utama.

“Empat pintu masuk adalah pendekatan laba sebelum pajak dalam satu tahun terakhir, agregat laba sebelum pajak dalam dua tahun terakhir, pendapatan, total aset, dan operating cash flow kumulatif,” ujar dia.

Selanjutnya, kata Aditya, bursa juga mengembangkan sektor perusahaan tercatat agar sesuai praktik yang berlaku di negara lain. Pengklasifikasian sektor industri itu dilakukan dengan mengganti klasifikasi 10 indeks sektoral dalam Jakarta Stock Industrial Classification (Jasica) menjadi IDX Industrial Classification (IDX-IC) yang berlaku sejak 25 Januari 2021. "Melalui IDX-IC, perusahaan seperti Gojek akan tergolong dalam sektor aplikasi dan jasa internet," tutur dia.

Otoritas bursa, menurut Aditya Nugraha, juga mengeluarkan peraturan notasi khusus kepada perusahaan yang menggunakan multiple voting shares (MVS) atau saham dengan hak suara multipel (SHSM) dalam struktur permodalannya di tahap pertama. Aturan ini sebagai bentuk perlindungan kepada investor.

Bursa pun, kata dia, sedang menyiapkan aturan SHSM sebagai bentuk perlindungan atas ide dan maupun visi perusahaan dalam jangka panjang.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, aturan SHSM dan aturan pencatatan di papan utama sudah masuk tahap finalisasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aturan ini diharapkan bisa segera dirilis sehingga dapat mengakomodasi unicorn yang akan melakukan IPO. "Aturan MVS bersifat opsional. Khusus untuk Bukalapak, mereka tidak menggunakan aturan MVS ini," ujar dia.

BEI juga tengah melakukan studi terhadap penerapan special purpose acquisition company (SPAC) atau perusahaan cangkang/cek kosong yang didirikan dengan tujuan khusus akuisisi, dalam proses IPO unicorn. “Penggunaan SPAC cukup masif di luar negeri, bahkan sekitar 70% perusahaan di AS menggunakan SPAC sebelum melakukan IPO,” ucap Nyoman Yetna.

Kinerja saham IPO teknologi
Kinerja saham IPO teknologi

IPO GoTo

Sementara itu, GoTo dikabarkan bakal listing di dua bursa (dual listing), yakni bursa domestik dan Amerika Serikat (AS). Nilai penggalangan dana dari aksi IPO GoTo bisa mencapai US$ 2 miliar.

Berdasarkan laporan Bloomberg, GoTo berencana melantai di BEI tahun ini. Namun sebelum itu, GoTo akan menggalang dana dari bursa AS terlebih dahulu.

"GoTo sudah memulai proses penggalangan dana sekitar US$ 1 hingga US$ 2 miliar dengan valuasi sekitar US$ 25 hingga 30 miliar," kata sumber yang mengetahui hal ini.

Perwakilan GoTo menolak berkomentar mengenai hal ini. Namun, salah satu sumber menyebutkan, perundingan terus berlangsung dan nilai penggalangan dana bisa berubah.

Hingga akhir 2020, GoTo mencatatkan total gross transaction value (GTV) lebih dari US$ 22 miliar. GoTo memiliki lebih dari dua juta pengendara dan 11 juta mitra merchant per Desember 2020. Pengguna aktif bulanannya mencapai 100 juta orang.

Selain GoTo, Grab Holdings dan PropertyGuru dikabarkan bakal mencatatkan sahamnya di bursa AS melalui perusahaan cek kosong.

Di pihak lain, di bursa domestik ada Bukalapak yang akan mencatatkan sahamnya pada 6 Agustus mendatang. Nilai penggalangan dana dari IPO perusahaan e-commerce tersebut mencapai Rp 21,9 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengungkapkan, perusahaan teknologi asal Indonesia yang akan mencatatkan sahamnya di bursa domestik bukan cuma Bukalapak. Saat ini terdapat tiga startup bervaluasi unicorn dan decacorn yang akan listing di BEI.

Hoesen tidak merinci nama-nama perusahaan startup dimaksud. Ia hanya menyebut total valuasi aset ketiga perusahaan rintisan itu di atas US$ 21,5 miliar atau sekitar Rp 311,75 triliun.

Menurut Komisaris BEI, Pandu Sjahrir, market cap GoTo tetap akan menjadi yang terbesar, sekalipun market cap Bukalapak dan dua unicorn lain yang akan IPO, yakni PT Global JET Express (J&T Express) dan PT Trinusa Travelindo (Traveloka), digabung menjadi satu.

Pada 2020, market cap GoTo diperkirakan mencapai US$ 18 miliar. Sedangan market cap J&T Express sekitar US$ 7,8 miliar, Bukalapak senilai US$ 5,3-6,05 miliar, dan Traveloka US$ 2,75 miliar. Jika market cap J&T Express, Bukalapak, dan Traveloka digabungkan, nilainya sekitar US$ 16,6 miliar.

Pandu meyakini market cap GoTo bakal jauh lebih besar pada 2021, mengingat adopsi teknologi digital yang makin menggeliat di tengah pandemi Covid-19.

“Angka market cap GoTo ke depan pasti lebih besar dibandingkan 2020 karena perkembangan pandemi Covid. Tapi kalau semuanya masuk ke market, most likely nilainya akan lebih besar daripada perkiraan pada 2020,” tutur Pandu.(az)

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN