Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Omset Smartfren

Omset Smartfren

Grup Sinar Mas Berpotensi Tambah Saham di Smartfren

Jumat, 24 Juli 2020 | 08:35 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) berniat menukar obligasi wajib konversi (OWK) senilai Rp 8 triliun yang diterbitkan pada 2014 dan 2017 menjadi saham baru seri C perseroan. Untuk keperluan aksi ini, perseroan akan menerbitkan saham simpanan (portepel) maksimal 80 miliar saham.

Per 31 Maret 2020, para pemegang OWK II tahun 2014 Smartfren adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang merupakan salah satu pilar bisnis Grup Sinar Mas, PT Dian Ciptamas Agung, Boquete Group SA, PT Nusantara Indah Cemerlang, PT Andalan Satria Permai, PT DSSE Energi Mas Utama, dan Hilmas Coal Pte Ltd. Nilai OWK tersebut mencapai Rp 3 triliun.

Sementara itu, pemegang OWK III tahun 2017 Smartfren adalah Cascade Gold Ltd, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, Boquete Group SA, dan PT Nusantara Indah Cemerlang. Nilai OWK III mencapai Rp 5 triliun.

Manajemen Smartfren mengungkapkan, rencana konversi OWK akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 14 Agustus 2020. Terkait pelaksanaan konversi ini, perseroan perlu meningkatkan modal ditempatkan dan disetor dari semula Rp 28,14 triliun menjadi Rp 36,14 triliun dengan mengeluarkan 80 miliar saham simpanan.

“Sebab itu, perseroan juga akan meminta izin persetujuan RUPSLB untuk menyetujui rencana perubahan pasal 4 ayat (2) anggaran dasar perseroan,” jelas manajemen Smartfren dalam keterangan resmi, Kamis (23/7).

Per 30 Juni 2020, struktur pemegang saham Smartfren adalah PT Global Nusa Data sebanyak 36,6%, PT Wahana Inti Nusantara sebanyak 22,3%, PT Bali Media Telekomunkasi 14,8% dan masyarakat 26,3%

Sebagai informasi, penerbitan OWK yang dilakukan pada 2014 dan 2017 merupakan strategi perseroan dalam menambah modal dan melakukan pelunasan utang. Ketika itu upaya ini diharapkan membuat rasio-rasio keuangan menjadi lebih baik, khususnya rasio yang berkaitan dengan utang dan ekuitas.

Selain dari penerbitan OWK, Smarfren juga kerap mencari dana eksternal dari pinjaman bank asal Tiongkok. Tahun ini, perseroan melalui PT Smart Telecom sempat meraih pinjaman fase IV dari China Development Bank (CDB) cabang Shenzhen senilai 1,58 miliar renminbi (RMB) atau setara Rp 3,10 triliun. Penandatanganan pinjaman dilakukan pada 21 Januari 2020.

Pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai belanja modal perseroan. Pinjaman dibayar dengan 7 kali cicilan semesteran. Sementara jatuh tempo pinjaman adalah 2026. Hingga 31 Maret 2020, Smart Telecom tercatat belum melakukan penarikan. Adapun Smartfren menyiapkan belanja modal sekitar US$ 250 juta tahun ini.

Sementara itu, hingga kuartal I-2020, pendapatan usaha Smartfren mengalami peningkatan sebesar 41,13% menjadi Rp 1,99 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 1,41 triliun. Meningkatnya pendapatan usaha ini terdiri atas jasa telekomunikasi data perseroan yang tercatat menjadi Rp 1,81 triliun dari sebelumnya Rp 1,33 triliun dan jasa telekomunikasi non-data sejumlah Rp 105,98 miliar dari semula Rp 60,09 miliar.

Kemudian, jasa interkoneksi juga mengalami peningkatan menjadi Rp 24,01 miliar dari periode sama tahun lalu yakni Rp 9,16 miliar, diikuti dengan meningkatnya pendapatan lain-lain sebanyak Rp 56,19 miliar dari semula Rp 4,33 miliar.

Total beban usaha perseroan juga ikut terangkat menjadi Rp 2,42 triliun, naik 14,15% dari tahun lalu yakni Rp 2,12 triliun. Alhasil, rugi usaha yang dialami oleh perseroan sepanjang kuartal I-2020 mengalami penurunan sebesar 39,48% menjadi Rp 432,16 miliar dari periode sama tahun lalu yang tercatat Rp 714,09 miliar.

Smartfren mengalami rugi kurs mata uang asing Rp 1,26 triliun pada kuartal I-2020 dari posisi laba kurs tahun lalu yakni Rp 201,97 miliar. Alhasil, perseroan mengalami kenaikan rugi bersih menjadi Rp 1,77 triliun dari rugi bersih kuartal I-2019 yakni Rp 424,66 miliar.

Hingga 31 Maret 2020 perseroan mencatatkan kenaikan aset menjadi Rp 33,08 triliun dibandingkan dengan per 31 Desember 2109 sebebsar Rp 27,65 triliun. Total liabilitas turut meningkat menjadi Rp 22,13 triliun dari semula Rp 14,91 triliun dan total ekuitas menurun menjadi Rp 10,95 triliun dari sebelumnya Rp 12,73 triliun.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN