Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Omset Smartfren

Omset Smartfren

Grup Sinarmas Borong 12,7% Saham Smartfren

Rabu, 23 September 2020 | 11:56 WIB
Farid Firdaus (farid.firdaus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Emiten Grup Sinarmas, PT Dian Swatatika Sentosa Tbk (DSSA) menyerap sebanyak 26 miliar saham baru seri C PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) melalui penukaran obligasi wajib konversi (OWK) II dan III. Aksi ini menjadikan Dian Swastatika sebagai pengendali 12,7% saham Smartfren.

Direktur Keuangan Smartfren Telecom Antony Susilo mengatakan, sebanyak tiga pemegang OWK II dan III telah mengkonversi OWK dengan 34 miliar saham baru perseroan seharga Rp 100 per saham pada 22 September.

Selain Dian Swastatika, anak usahanya, PT DSSE Energi Mas Utama menukar OWK II dengan 6 miliar saham. Selain itu, Boquete Group SA turut menukar OWK II dengan 2 miliar saham Smartfren. “Dari aksi ini, kepemilikan saham DSSE Energi dan Boquete Group di Smartfen di bawah 5%. Adapun, Boquete Group, bukan afiliasi Sinar Mas,” jelas dia kepada Investor Daily, Rabu (23/9).

Setelah aksi ini, Smartfren masih memiliki sisa 46 miliar saham seri C yang sewaktu-waktu dapat ditukar oleh pemegang OWK II dan III. Menurut Antony, keputusan konversi sepenuhnya di tangan pemegang OWK. “Sehingga perseroan belum mengetahui apakah mereka akan mengkonversi dalam waktu dekat atau tidak,” kata dia.

Seperti diketahui, pihak lain yang menjadi pemegang OWK II dan III Smartfren adalah PT Dian Ciptamas Agung, PT Nusantara Indah Cemerlang, PT Andalan Satria Permai, Hilmas Coal Pte Ltd, dan Cascade Gold Ltd.

Sebelumnya, OWK II diterbitkan pada 2014 senilai Rp 3 triliun, dan OWK III dirilis pada 2017 senillai Rp 5 triliun. Ketika itu, aksi ini merupakan strategi perseroan dalam menambah modal dan melakukan pelunasan utang supaya rasio-rasio keuangan menjadi lebih baik. OWK yang diterbitkan pada 2017 mempunyai jangka waktu lima tahun sejak tanggal penerbitan.

Ekspansif

Tahun ini, Smartfren melanjutkan perluasan jangkauan layanan 4G. Perseroan juga siap berkompetisi pada lelang frekuensi 2.300 Mhz untuk implementasi 5G.  Saat ini lelang frekuensi 2.300 Mhz masih menunggu pengumum resmi pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Sebelumnya, manajemen menyatakan, kapan pun lelang dibuka, perseroan siap berpartisipasi.

Sebagai informasi, International Telecommunication Union (ITU) menetapkan 2.300 Mhz sebagai frekuensi yang bisa dimanfaatkan untuk alokasi teknologi 5G. Pada frekuensi ini, Smarftren telah memiliki frekuensi selebar 30 MHz. Jika Smartfren ikut lelang dan berhasil menang, maka perseroan memiliki tambahan 30 Mhz. Alokasi ini dinilai mencukupi untuk implementasi teknologi 5G lebih dulu dibanding kompetitornya.

Sambil mempersiapkan diri untuk lelang, Smartfren tetap fokus meningkatkan kinerjanya. Sebab, perseroan masih menderita rugi bersih sebesar Rp 1,22 hingga semester I-2020, atau lebih tinggi dibanding rugi bersih semester I-2019 sebesar Rp 1,07 triliun. Kendati demikian, pendapatan usaha perseroan melonjak 41,01% menjadi Rp 4,30 triliun secara tahunan.

Sebelumnya Antony mengatakan, perseroan masih dalam fase ekspansi sehingga belum membukukan keuntungan. Perseroan banyak mengeluarkan biaya operasional serta pemeliharaan jaringan. Namun, pihaknya optimistis kerugian bisa mengecil di akhir tahun ini. “Kami berupaya meraih pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan biaya sehingga EBITDA bisa lebih baik,” jelas dia.

Hingga semester I-2020, perseroan telah menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 170-180 juta, dari total anggaran US$ 250 juta. Mayoritas capex digunakan untuk membangun base transceiver station (BTS). Per Juni 2020, perseroan telah memiliki 35,6 ribu BTS, melonjak 64% dibanding periode sama tahun lalu 23,7 ribu BTS. Penambahan ini seiring penambahan pelanggan Smartfren sebesar 46% menjadi 26 juta pelanggan, dari 17,8 juta pelanggan.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN